Pages

  • Beranda
  • About Me
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Facebook Twitter Instagram Google+ Pinterest
BeBrave

Berani Bermimpi. Berani Berjuang

  • Home
  • Contact Me
  • Category
    • Artikel
    • Book
    • Cerpen
      • Buku Harian Doni
      • Ini Panggung Kita
    • Selfreminder



Allah menciptakan dunia ini dengan amat indah. Bahkan dalam kegelapan malam sekalipun Allah hadirkan bulan dan bintang sebagai penghias langit yang amat menawan. Rasi bintang yang bagai membentuk formasi, telah menjadi lukisan yang amat memanjakan. Sayangnya keindahan tersebut membuat lalai beberapa orang, hingga mereka menganggap rasi bintang mampu menjadi simbol untuk ramalan. Sungguh hal tersebut adalah pengetahuan yang tak memiliki landasan. Bahkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.
Mengenai bintang sendiri, ada hal menarik yang disampaikan Rasulullah ï·º “Bintang-bintang itu adalah para penjaga langit, apabila bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan. Dan para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.” (HR Muslim)
Tentunya apa yang disampaikan Rasulullah ï·º tersebut, bukan sekedar ramalan, karena setelah dilakukan penelitian, ternyata apa yang disampaikan sangat masuk akal. Lain cerita jika ada yang mengatakan rasi bintang tertentu mempengaruhi masa depan seseorang. Sungguh ini sesuatu yang tak mempunyai landasan dan tak ada bukti yang menguatkan.
Bintang adalah benda yang tersebar dilangin berbentuk bulat atau semi-bulat, ber-gas, mudah terbakar, memancarkan cahaya dan saling berhubungan satu sama lain melalui gravitasi meskipun struktur pembentuk mereka adalah gas. Bintang-bintang tersebut memiliki massa yang sangat besar, ukuran, dan suhu yang tinggi. Bintang juga memancarkan gelombang cahaya (ada yang tampak, ada yang tidak).
Bintang memiliki siklus hidup dimulai dengan kelahiran, kemudian bintang muda, bintang tua hingga akhirnya meledak lalu lenyap. Mereka juga dapat meledak sebelum atau setelah siklus tersebut yang kemudian kembali menjadi asap langit dan masuk ke dalam siklus kelahiran bintang baru. Sebuah bintang menghabiskan sekitar 90% dari usianya dalam tahap bintang biasa (seperti matahari) sebeum lenyap.
Bintang-bintang seperti perapian raksasa di alam semesta dengan serangkaian reaksi nuklir di dalamnya, atau yang dikenal sebagai “fusi nuklir”, disanalah semua elemen yang diperlukan untuk kehidupan di bumi dan langit diciptakan.
Selain gravitasi yang menghubungkan bintang-bintang, ada sejumlah kekuatan yang menahan isi didalam setiap benda angkasa. Kita hanya mengetahui energi nuklir, listrik, dan elektromagnetik. Ada pula kekuatan di luar ketiganya itu.
Mengingat gravitasi bintang-bintang sangat besar, mereka mendominasi semua benda langit. Bahkan bintang-bintang tersebut dihubungkan melalui sebuah gravitasi yang membentuk unit lebih besar dari semesta dan semua terhubung satu sama lain. Oleh karena itu, kehancuran sistem bintang berarti kehancuran alam semesta karena kehilangan keseimbangan.
Dari penjelasan tersebut tentu dapat disimpulkan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah ï·º adalah kebenaran. Lain halnya dengan orang-orang yang berbicara tanpa ilmu. Mareka meyakini bahwa rasi bintang mempengaruhi nasib sesorang, mempengaruhi kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Itu cara berfikir yang harus diluruskan, apalagi bagi seorang muslim. Keyakinan yang salah dapat membawa pada kesyirikan maka perlu hati-hati dalam meyakini perkataan orang yang tak jelas sumbernya.


Diambil dari buku Dr. Zakir Naik dengan judul Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah

#Day26
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Alunan musik yang indah memang mampu membuat orang terbuai. Hal tersebut membuat orang untuk menciptakan ragam jenis musik dari untuk berbagai kebutuhan. Ada yang sekedar hiburan, tapi ada juga yang digunakan sebagai media terapi.
Suatu ketika, ada seorang Ustadz tentang seorang Ibu yang mengadukan anaknya. “Ustadz, anak saya tak bisa jauh dari musik.” Dengan berlinang air mata Ibu tersebut mengadu. Lantas apakah seserius itu permasalahanya. Bagi anak muda, suka musik itu bukankah hal yang wajar, lalu kenapa harus bersedih sampai berurai air mata.

Suka musik, mungkin masih bisa dianggap wajar. Akan tetapi terlampau suka, itu yang bahaya. Bukankah segala yang berlebihan itu tak baik. Jika membicarakan musik menurut Islam, maka akan ada perbedaan pendapat. Akan tetapi, saya tak akan membahas itu karena bukan wilayah saya. Sebagai orang yang masih belajar maka saya harus tahu diri. Maka saya hanya ingin menjelaskan kenapa orang tua tersebut begitu khawatir dan menyesal.

Sebuah alasan yang cukup mengherankan, disampaikan oleh Ibu tersebut. Ternyata ketika hamil, Ibu tersebut selalu mendengarkan musik, dengan alasan ada sebuah penelitian bahwa memperdengarkan musik untuk bayi dalam kandungan akan membuatnya pandai. Dengan alasan tersebutlah kebiasaan itu terus berlangsung. Ternyata dampak yang dihasilkan di luar bayangan orang tuanya. Anak tersebut menjadi amat cinta dengan musik, padahal orang tuanya tak menginginkan itu.

Apa salahnya dengan musik? Mungkin pertanyaan tersebut belum terjawab. Sebagai seorang muslim maka sungguh amat indah apabila mempunyai anak yang cinta terhadap Al-Qur’an, bukan musik. Suka sih boleh, tapi terlampau suka itu yang bahaya. Karena segala perhatianya akan terkuras untuk sesuatu yang dia amat sukai.

Dari penuturan Ibu tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa, sebaiknya ketika sedang hamil, orang tua harus membiasakan dekat dengan Al-Qur’an agar anaknya kelak terbiasa dengan lantunan Ayat suci Al-Qur’an. Hal tersebut tentu amat bermanfaat karena Al-Qur’an lah salah satu penyelamat kita di Akhirat kelak.

#Day25
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


“Di kelembaban usia” begitulah tutur Ustadz Salim dalam bukunya ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’ waktu membahas masa remaja. Dimana pada masa remaja memungkinkan semua karakter bisa tumbuh, berakar dan mekar. Maka sudah selayaknya kita berusaha memperbaiki karakter diri kita agar tak menyesal dikemudian hari.
Jika membicarakan remaja, maka tak lepas dari masa muda. Tentunya masa muda bagi kebanyakan orang sering dijadikan waktu untuk mengenali diri sendiri. Hanya saja, di dalam proses pengenalan tersebut, terkadang tidak dilakukan dengan benar, sehingga prosesnya menjadi lama. Uniknya, pada sebagian orang sudah bisa mengenali dirinya dengan cepat bahkan meraih sukses diusia yang tergolong muda.
Apabila kita menengok sejarah, maka akan kita dapati karakternya telah terbentuk dengan matang diusia muda. Salah satu pemuda hebat itu adalah Muhammad Al Fatih. Sungguh sangat disayangkan apabila tidak mengenal beliau. Sayangnya anak-anak sekarang lebih kenal tokoh fiktif dari pada beliau. Beliau memang bukan Super Hero. Akan tetapi kehebatanya dalam mengatur strategi perang dan kematangan karakternya patut kita teladani.
Menjadi panglima perang diusia 21 tahun merupakan prestasi yang membanggakan. Apalagi mampu membebaskan Konstantinopel yang dari sudah berkali-kali gagal di taklukkan oleh pendahulunya. Semua itu adalah berkat orang tuanya yang berkomitmen dalam pendidikan anaknya, sehingga bersedia mendatangkan guru untuk mengajarinya dari kecil. Bahkan Muhammad Al Fatih telah mampu menghafal Al Quran 30 juz diusia 8 tahun.
“Dewasa tak memandang usia” mungjkin itu sedikit pantas untuk menggambarkanya. Ada sebagian orang yang kematangan karakternya berjalan lambat, tapi ada juga yang berjalan cepat. Semua itu tak lepas dari kehidupanya diwaktu kecil, apakah dimanja, atau biasa mandiri. Maka sudah selayaknya setiap orang tua belajar dari kisah Muhammad Al Fatih agar anaknya kelak, mampu mematangkan karakter di usia muda, bahkan sukses diusia muda.

#Day24
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Di era yang modern ini semakin banyak tayangan yang disuguhkan demi menemani waktu santai keluarga. Mulai dari tayangan yang mengedukasi sampai sekedar hiburan. Setiap media, berlomba menampilkan kreasi mereka masing-masing. Tentunya keberagaman tayangan itu akan diikuti dengan semakin banyaknya pemain yang terlibat. Semua menunjukkan kemampuanya masing-masing. Dari balik layar sampai yang menjadi pusat perhatian atau public figure. Mereka bekerja seprofesional mungkin. Yang menarik, dari ragam jenis pekerjaan public figure tersebut, tak melulu mengandalkan teknik. Tentunya setiap orang memiliki kemampuan masing-masing. Hanya saja dalam pekerjaan ada yang harus di tempuh dengan pendidikan formal sampai jenjang tinggi, tapi juga ada yang mengandalkan kemampuan diri dan pembiasaan. Pekerjaan yang mengandalkan bakat dan pembiasaan itu salah satunya adalah pelawak. Mereka sering bertingkah jenaka demi menghibur penonton. Memang sepintas terlihat sepele, tapi kenyataanya tak setiap orang mampu melakukanya. Tentunya itu menjadi kelebihan tersendiri yang ada padanya.

Setiap pekerjaan memiliki resiko yang harus dihadapi. Tak terkecuali pelawak itu sendiri. Sebagai orang yang dituntut untuk banyak bicara, maka tak bisa lepas dengan interaksi dengan orang lain. Maka dari itu, hendaknya menjadi pelawak itu juga harus memperhatikan adab dalam bercanda, agar tak menyakiti hati orang lain.

Terutama bagi seorang muslim, berfikir sebelum berbicara adalah hal yang musti dilakukan. Dalam Islam bercanda itu diperbolehkan, selama tidak menyalahi aturan. Adapun rambu-rambu yang harus dipatuhi meliputi :
Jauhi dusta

Dalam hadits Rasulullah ï·º bersabda, “Celaka seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celaka ia, celaka ia.” (HR. Ahmad)
Jauhi kata-kata bathil

Allah berfirman :
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhknya setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q.S. Al-Isra’:53)

Tidak banyak tertawa
Sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk. Pun demikian dengan tertawa. Rasulullah ï·º bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan menghina agama
Allah berfirman :
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?.” (Q.S. At-Taubah: 65)

Dilarang menakut-nakuti Muslim
Rasulullah ï·º bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah adab yang harus kita lakukan ketika bergurau. Tentu hal tersebut bukan bermaksud mengekang kebebasan, melainkan untuk keselamatan kita sendiri.

#Day23
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Memiliki anak tentu menjadi idaman setiap pasangan pada umumnya. Dengan kehadiran buah hati, akan membuat hari menjadi lebih berwarna. Akan ada banyak tawa, tapi juga tak jarang harus menahan rasa. Maka memupuk sabar itu harus, dan memahaminya itu perlu. Tentunya memperlakukan anak berbeda dengan orang dewasa, karena kondisi emosi anak yang bisa berubah-rubah.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua adalah memilih waktu dan tempat yang tepat untuk memberi nasihat, karena akan ada saat anak bisa menerima nasihat tapi terkadang dia mengabaikan begitu saja. Apabila kedua orangtua sanggup mengarahkan hati si anak untuk menerimanya, pengarahan yang diberikan akan memperoleh keberhasilan dalam upaya pendidikan.

Lantas kapan sebaiknya kita memberi pengarahan kepada anak?

Sebagai orang Islam kita telah diberi petunjuk kepada siapa kita mengikuti. Dialah sebaik-baiknya suri tauladan yang harus kita contoh. Sebagai wujud rasa cinta kasih, juga karena kesempurnaan akhlak-nya, kita harus senantiasa berusaha mencontoh beliau, Rasulullah ï·º.
Rasulullah ï·º mempersembahkan kepada kita tiga waktu mendasar dalam memberi pengarahan kepada anak.


  • Dalam Perjalanan

Riwayat al-Hakim dalam kitab Mustadraknya (3/541) menegaskan bahwa perjalanan itu dilakukan di atas kendaraan. Dia meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma :
“Nabi ï·º diberi hadiah seekor bighal (persilangan antara kuda dan keledai) oleh Kisra. Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau memboncengkanku di belakangnya. Kemudian beliau berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh dan memanggil, “Hai anak kecil.” Aku jawab, “Labbaika, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jagalah agama Allah, niscaya Dia menjagamu… hadits.”


  • Waktu Makan

Suatu kesalahan, apabila kita membiarkan anak bertingkah semaunya yang tidak sesuai dengan adap sopan santun di meja makan. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mengajari anak tentang adab, karena jika dibiarkan tentu anak itu tak akan mengetahui bahwa perbuatanya itu salah. Maka sudah selayaknya orang tua mendampingi anaknya ketika makan, terlebih di tempat umum.

Nabi ï·º makan bersama anak-anak. Beliau memperhatikan dan mencermati sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh anak, kemudian memberikan pengarahan dengan metode yang dapat mempengaruhi akan dan meluruskan kesalahan yang dilakukan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah radhiuallahu’anhuma, ia berkata :
“Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah ï·º. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Rasulullah ï·º bersabda kepadaku, “Hai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanku.” Sejak itu, begitulah caraku makan.”


  • Waktu anak sakit

Sakit tak selamanya menjadi musibah. Bisa jadi itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita agar kembali pada jalan yang benar. Orang ketika sakit cenderung mudah untuk dinasehati, dan itu berlaku juga untuk anak kecil. Rasulullah ï·º telah memberi pengarahan kepada kita atas hal ini.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas radhiyallahu’anhu, ia berkata :
“Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi ï·º sakit. Nabi ï·º datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah engkau.” Dia melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata, “Turutilah Abdul Qasim.” Maka, dia pun masuk islam. Nabi ï·º pergi sambil berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanya dari api neraka.”

Demikianlah ketiga waktu yang utama bagi orang tua untuk memberikan pengarahan kepada anaknya. Tentunya waktu yang lainnya dapat disesuaikan dengan kesibukan dan kondisi keluarga. Maka sudah selayaknya orang tua lebih bijak dalam memilih waktu dan tempat untuk memberi pengarahan. Selain itu kita juga harus lebih bersabar, ketika anak tidak medengarkan nasihat kita.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan : 74)

Daftar Pustaka: *masih butuh saran :)
Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh. 2010. Prophetic Parenting; Cara Nabi Saw Mendidik Anak, penerjemah. Yogyakarta (ID): Pro-U Media. Terjemahan dari: Dar Ibnu Katsir.

#Day22
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Ketika kita mendapat bantuan maupun nikmat dari seseorang, maka sangat wajar jika kita membalasnya, minimal dengan mengucapkan terimakasih. Terlebih jika bantuan itu amat berharga, maka kita akan selalu menghormatinya dan mengingat jasanya. Akan tetapi, ketika bantuan itu teramat banyak, seringkali kita lalai. Kita lebih sibuk mengingat yang sedikit dan melupakan yang banyak. Padahal ada banyak bantuan tak terkira banyaknya yang diberikan kepada kita. Salah satunya pernapasan.

Bernapas menjadi kebutuhan setiap makhluk yang bernyawa, salah satunya kita “manusia”. Bahkan ketika kita tidur atau tak sadarkan diri, sistem pernapasan kita tetap berjalan. Apabila sistem pernapasan terganggu, kita pasti bersedia membayar berapapun demi membuatnya pulih.

Pernahkah kita membayangkan betapa menakjubkannya sistem pernapasan itu. Kita menghirup napas dan mengeluarkannya secara spontan. Bayangkan jika kita harus berpikir dahulu, amat melelahkan bukan. Jika harus belajar dahulu, bayi yang baru lahir akan kesulitan. Sistem pernapasan telah dapat digunakan Sedangkan udara yang dibutuhkan tubuh kita hanyalah oksigen. Sedangkan udara di bumi beraneka ragam. Betapa sempurnanya sistem pernapasan kita, yang mampu menyaring udara, yang bahkan tak terlihat oleh mata.

Pada saat kita bernapas, sesungguhnya telah terjadi proses oksidasi serta perpindahan dua zat yang terdapat di udara. Oksigen masuk ke dalam paru-paru dan karbondioksida sebagai sisa dari proses oksidasi ini dikeluarkan. Dari proses oksidasi tersebut, sepertiga menghasilkan energi setelah bercampur dengan zat yang terkandung dalam makanan untuk diedarkan ke seluruh sel tubuh. Kemudian sepertiga lagi disimpan sebagai cadangan energi dan sepertiga lagi dibuang.

Selama ini orang bernapas hanya sekedar menghirup dan menghembuskan tanpa mengenal apa yang dinamakan “kesegaran udara”. Kapasitas paru-paru tidak digunakan secara maksimal, sehingga tidak dapat merasakan kenikmatan udara yang memberikan kesegaran.

Ketika kita menghirup udara segar dengan pernapasan yang panjang dan dalam, maka kita akan mengerti apa itu kesegaran udara. Udara yang dihirup ini akan beredar keseluruh tubuh. Hal ini akan dirasakan manfaatnya jika secara rutin dilakukan setiap pagi hari dan malam menjelang tidur.

Secara ilmiah, pernapasan yang panjang dan dalam akan membuat siapapun memperoleh udara yang cukup dibutuhkan oleh tubuh. Pernapasan yang dangkal dan pendek bisa menyebabkan datangnya penyakit, karena seseorang tidak memperoleh udara segar yang cukup. Sisa pembakaran mungkin tidak dapat terangkut dengan baik, demikian pula proses oksidasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat membuat tubuh menjadi lesu atau lemah. Oksigen diperlukan untuk proses berpikir, proses pencernaan, mengangkut zat-zat makanan dalam darah, membangun jaringan tubuh, dll.

Hal yang menarik tentang oksigen

  • Dalam sehari, manusia menghirup oksigen dari udara kira-kira sebanyak 20 ribu kali.
  • Dalam setiap molekul air, 90% masa-nya berasal dari oksigen, dan air merupakan komponen penyusun tubuh terbesar (65-75%)
  • Otak manusia yang mengambil bagian 2% dari total massa tubuh membutuhkan 20% oksigen dari yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa otak merupakan organ tubuh yang paling membutuhkan oksigen.

Dari fakta tersebut sudah dapat kita pastikan bahwa, bernapas adalah karunia dan kenikmatan yang tak ternilai harganya. Maka sudah selayaknya kita bersyukur atas nikmat yang kita peroleh dari Allah yang tak terkira jumlahnya ini.

#Day21
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Dalam menjalankan aktivitas, setiap makhluk hidup memerlukan energi. Tak terkecuali bagi manusia. Energi menjadi hal yang amat penting. Jika membicarakan bagaimana manusia mendapatkan energi, sehingga mampu melakukan berbagai aktivitasnya, tentu yang akan terpikirkan adalah asupan atau makanan. Memang dengan makanan, mampu memberikan energi untuk diri kita. Akan tetapi pernahkan kita berfikir, bahwa walaupun mempunyai porsi makan yang sama, tetapi setiap orang memiliki energi yang berbeda di dalam melakukan aktivitasnya.

Energi yang dibutuhkan pada raga, memang berperan penting dalam menompang kekuatan tubuh untuk melakukan suatu aktivitas. Akan tetapi, ada hal lain yang menunjang seseorang itu mampu untuk melakukan suatu aktivitas melebihi yang lain walau asupan yang masuk ke tubuhnya sama, atau bahkan lebih sedikit. Hal lain tersebut adalah “motivasi”. Jika makanan itu mampu menunjang energi pada raga, maka motivasi mampu menunjang energi pada jiwa.

Banyaknya asupan makanan tak akan berdampak signifikan untuk melakukan suatu aktivitas, akan tetapi semakin banyak motivasi pada diri seseorang, akan membuatnya tak menyerah walau lapar sekalipun. Maka mencari alasan untuk melakukan suatu aktivitas itu penting. Selain untuk menambah energi pada diri kita juga untuk memastikan bahwa aktivitas yang kita kerjakan itu bermanfaat.

Suatu hal yang indah, ketika kita melakukan aktivitas maka manfaatnya langsung didapat waktu itu juga. Salah satu syarat, agar kita dapat mendapatkan manfaat secara instan adalah keyakinan. Keyakinan mampu menjadi penawar letih secara instan sekaligus energi lebih dalam melakukan suatu aktivitas.

Sesuatu yang berkaitan erat dengan keyakinan adalah agama, termasuk agama Islam. Makna dari sebuah keimanan, adalah kita meyakininya sepenuhnya. Dengan itu akan tercipta motivasi untuk melakukan sesuatu yang dituntunkan-Nya.

Akan ada saat dimana kita merasa lelah. Lelah menjalani cobaan, lelah menjalani aktivitas. Maka, ketika lelah itu datang, dan kita mengingat keyakinan bahwa yang kita lakukan dan jalani adalah karena Allah, maka insyaAllah akan tercipta suatu energi penghilang rasa lelah itu sendiri.


#Day20
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Pernahkah Anda berfikir betapa mengagumkanya warna di dunia. Tanpa warna, tentu akan menyiksa, karena salah satu keindahan yang membuat indah adalah perpaduan warna. Warna yang berbeda, jika disatukan bisa menjadi warna yang indah, contohnya pelangi. Warna pelangi yang terjadi karena cahaya matahari yang melewati sebuah tetes hujan akan dibiaskan. Proses pembiasan ini yang memisahkan warna putih menjadi warna spektrum atau biasa kita kenal mejikuhibiniu. Kemudian warna-warna itu memantul di belakang tetes hujan, yang akibatnya cahaya tampak melengkung menjadi pelangi.

Perpaduan itu tak hanya pada pelangi, melainkan pada semua komposisi warna di dunia ini. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat memenikmati keselarasan ini manusia dilengkapi dengan sepasang mata. Di dunia makhluk hidup, mata manusia panling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya. Untuk itulah sudah selayaknya kita mensyukuri dan merenungi suatu penciptaan yang indah ini.

Seperti halnya dengan lukisan. Dengan perpaduan warna maka lukisan itu tampak indah dan menawan, lantas, apakah perpaduan warna itu datang tiba-tiba. Warna langit, warna gunung, warna laut di dalam suatu lukisan apakah terbentuk secara kebetulan, kaleng cat yang ditumpahkan, apakah bisa membentuk warna yang serasi. Maka kita pasti mengakui bahwa warna yang serasi itu ada yang menciptakan, yaitu pelukis. Seperti halnya kita yang mengakui keberadaan pelukis maka, kita juga harus mengakui keberadaan pencipta keanekaragaman dan keselarasan warna di dunia ini.

Dialah Allah. Yang mampu menciptakan dengan sempurna dan serasi, sehingga tercipta keindahan yang mampu kita nikmati
“yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatkah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk : 3-4)

#Day19
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Caca membuka mata. Silaunya sinar langsung menyambutnya, memaksanya reflek mengangkat tangan. Dia menoleh, “ini dimana” gumamnya. Hanya hamparan rumput dan bunga di sekelilingnya, dan pohon besar yang rindang menaunginya. Matanya mulai terbiasa dengan sinar di sekelilingnya. Dia segera bangun dan bersandar di pohon “bagaimana dia bisa kesini?”. Pertanyaan itu memenuhi kepalanya membuatnya pusing. Ini tempat yang asing. Andai hatinya sedang baik, sebenarnya ini tempat yang amat indah dengan bunga yang mengelilinginya, menebar keharuman yang belum pernah dia temui dimanapun. Beralaskan rumput hijau bersih. Tak ada sampah, sungguh pemandangan yang indah. Dia mendongak. Hamparan langit biru cerah “hei dimana mataharinya?”. Caca beranjak berjalan kedepan. Tanganya menjulur pada sinar yang tak tertutup pohon besar itu. “hangat” sekejap menjulur sampai ke hati memberikan ketenangan. Dia berlari menghampiri bunga-bunga itu. Berlari pada jalan setapak di antara bunga-bunga. Dia tak peduli siapa yang membuatnya. Tanganya mengibas di atas bunga itu membuat serbuk sarinya beterbangan. Kegelisahanya hilang, berganti keceriaanya yang membuatnya tertawa, berlari kesana kemari, tak peduli lagi dia dimana.
“Caca ….” Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.
Tawanya berhenti. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Tak ada siapapun.
“Di sini sayang.” Sosok itu menyapa lembut dari belakang.
Caca yang reflek menoleh langsung melonjak jatuh, terkejut melihat sosok putih di belakangnya.
Sosok itu pun ikut duduk di depannya. Caca menatapnya bingung bercampur takjub. Sosok wanita mengenakan hijab putih dengan cahaya lembut memancar darinya. Tak ada sepatah kata yang dapat Caca ungkapkan. Badanya gemetar, dia tak mampu mengendalikanya lagi.
“Ini Ibu sayang, jangan takut.” Suara itu amat lembut penuh kasih sayang. “Pulanglah … ada orang yang sedang menantimu.”
“Ibu … benarkah ini Ibu. Caca kangen Ibu. Caca ingin ikut Ibu.” Suara itu hanya sampai di kerongkongan. Dia seolah tak ada daya untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Dia hanya mampu duduk termangu, jangankan berdiri, ingin sekali ia menyentuhnya, memeluknya, mencurahkan rindunya, tapi apa daya, bicara pun tak mampu.
“Selamat tinggal sayang, kita akan bertemu lagi.” Sosok itu berdiri, berbalik meninggalkan caca yang masih tersungkur tak berdaya.
“Ibu jangan pergi … Ibu …” dengan sekuat tenaga dia mencoba tapi percuma. Caca semakin khawatir karena cahaya disekelilingnya seolang mengikuti wanita itu pergi. Bunga-bunga pun layu, rumput hijau berganti hitam pekat. Caca semakin takut. Sekuat tenaga dia mencoba berdiri. Cahaya itu semakin meninggalkanya, hingga berkumpul pada satu titik dimana wanita itu berdiri. Wanita itu berbalik, melambaikan tangan. Seketika cahaya itu mengecil dan menelanya.
“Ibu …”
Caca yang tiba-tiba bangun dan berteriak mengagetkan semua orang di ruangan itu. Nafasnya tersengal. Bu Karlina, Ibunya Dzakyy langsung mendekapnya.
“tak apa sayang, Ibu disini.” Bu Karlina mencoba menenagkan. Dzakyy, Keyla dan Keysha hanya menatapnya iba.
“Ini dimana?” tubuhnya masih bergetar. Dia baru menyadari kalau dia sedang di ranjang, dengan selang infus menancap di lenganya.
“tak apa sayang, ayo tidur lagi.” Bu Karlina menenangkan sambil membaringkanya kembali.
Caca menatap sekeliling ruangan berbalut cat putih itu. Dia menemukan tiga sosok berdiri di belakang Bu Karlina.
“Kak Caca tak apa-apa kan?” Keysha yang berdiri di samping Keyla ragu-ragu bertanya. Ia ingin sekali ngobrol, bercanda tawa menghibur Caca tapi urung. Dia juga merasa bersalah karena Caca kecelakaan karena ingin pergi ke bioskop bersamanya.
Caca hanya tersenyum. Dia mencoba merangkai kejadian sebelumnya yang sempat terlupakan. Hingga dia sadar ada sesuatu yang salah pada dirinya. Kakinya terasa berat untuk digerakkan.
“kakiku kenapa, Bu?” Rintihnya sambil menyibak selimut yang menutupi separuh badanya.
“kakiku kenapa, Bu?” kali ini tangisnya buncah mendapati kakinya yang di gips. Dia ingat dua hari lagi dia ada khursus jurnalis yang dulu direkomendasikan Dzakyy. Itu cita-cita yang amat dia dambakan, sayangnya Ayahnya menyuruh dia untuk menjadi guru.
Bu Karlina hanya bisa mendekapnya “tak apa sayang, besok juga sembuh.”
Hanya saja tak sesederhana itu bagi Caca. Keysha memeluk kakaknya, Keyla. Dia merasa amat bersalah. Keyla mendekap mulutnya, bingung mau bicara apa. Dzakyy yang seolah paham apa yang di khawatirkan Caca, tiba-tiba mendekat, duduk disampingnya.
“Nanti kakak coba tanya sama pihak panitia.” Ibunya hanya menatap sekilas, urung mau bertanya pada Dzakyy.
“sini dek.” Dzakyy mengajak Keysha agar mendekat, duduk di sampingnya. Caca masih menutup mukanya, sesenggukan.
“Ca … tak mau kah kamu menyapa Keysha, dia dari tadi sore nungguin kamu, tak mau pulang.” Dzakyy berharap dengan itu Caca bisa sedikit mengesampingkan egonya. Dzakyy amat paham bahwa Caca sangat tak suka merepotkan orang lain, apalagi yang baru dikenal.
Perlahan Caca mulai tenang. Tangisnya reda. Ibunya menjauh, memberi ruang untuk Keysha mendekat.
“sini dek.” Caca menyuruhnya agar lebih mendekat.
“maafkan Keysha kak, gara-gara Keysha kakak …” belum sempat Keysha meneruskan, Caca langsung mendekapnya.
“Ini sama sekali bukan salahmu dek. Trimakasih telah mau menunggu kakak ya.”
Bu Karlina menatapnya senang. Tanganya meraih tangan Keyla yang kebetulan di sampingnya.
“Trimakasih ya, telah membawa Keysha kemari.”
Keyla membalas dengan seuntai senyum. Dia sama sekali tak mengira Bu Karlina akan berkata demikian.

#Day18
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


“Kak, sekarang tanggal berapa?” Keysha menarik-narik lengan kakaknya karena tak kunjung menjawab.
“Aduh dek” Keyla menaruh buku yang dia baca “setiap hari kamu tanya tanggal. Hari ini saja sudah tiga kali kamu tanya dek” jawabnya sambil menatap kesal “masih besok filmnya diputar.”
“Ok, kak.” Keysha nyengir sekilas, lalu segera berlari kembali kedalam rumah.
Keyla hanya geleng-geleng melihat ekspresi adiknya itu, kemudian mengambil bukunya lagi untuk dia baca sambil menikmati sinar lembut sore hari. Suasana yang nyaman untuk mengistirahatkan raga juga menenangkan hati setelah akhir-akhir ini disibukan dengan pertanyaan “tanggal berapa sekarang, kak?”.
Semua berawal dari pertemuan intens Keysha dengan Caca. Caca yang memang anak periang sehingga mudah akrab dengan banyak orang termasuk Keysha yang langsung lengket denganya. Caca awalnya hanya iseng membicarakan tentang film dan akhirnya obrolan itu merambah ke bioskop yang menyuguhkan fasilitas tiga dimensi, sesuatu yang masih asing bagi Keysha. Mengetahui ketertarikan Keysha, Caca langsung berinisiatif untuk mengajaknya. Sekarang Keyla yang harus menanggung ketidaksabaran adiknya itu.
“Kak, cocok ga Keysha pake ini?” Keysha yang tiba-tiba menghampiri kakaknya memamerkan kaca mata hitam yang dia pakai.
“Hah!” Keyla termangu menatap adiknya.
“Besok nonton film pake ini?”
“tak kelihatan kali dek” Jawab Keyla sambil menepuk jidat “bukan kaca mata hitam kayak gitu.”
“la terus?”
“besok lihat saja sendiri.”
Keysha hanya manyun lalu beranjak pergi.

***

“Kakak beneran tak mau ikut?” Caca yang telah berdandan rapi mencoba membujuk Dzakyy agar mau diajak ke bioskop.
“Males, lagian juga ada janji sama temen.” Jawabnya datar tanpa menoleh, tetap asyik dengan laptopnya sambil menikmati hangatnya sinar matahari sore. Kebiasaan yang sama dengan Keyla.
“ya sudah lah. Caca berangkat dulu ya kak.” Pamit Caca dengan muka cemberut. Dengan kasar ia mengambil helm di meja.
Dzakyy hanya menatapnya sekilas. “Hati-hati ya.”
Caca tak peduli. Dia langsung tancap gas dan menghilang di petsimpangan.

***

“Kaka Caca kok lama ya, kak? Keysha yang dari tadi siang sudah dandan rapi mondar mandir di teras rumah.
“Kamu tu kenapa to dek?” Tanya Keyla yang bingung dengan tingkah adeknya itu.
“coba Kakak tanya kak Dzakyy. Kemarin dikasih nomornya kan sama kak Caca.”
Keyla malas mengambil HP nya. Bahkan surat yang dititipkanya pun tak ada kabar bagaimana nasibnya, mana mungkin dia berani bicara.
“ditunggu dulu lah dek.” Keyla coba mengulur waktu
“ini sudah satu jam lebih kak, dari jadwal yang ditetapkan.”
“mungkin tak jadi kesini, lagian sudah terlambat juga kan kalau berangkat sekarang?”
“pokoknya tanyain apa susahnya sih kak?” pinta Keysha sambl mengusap pipinya yang mulai basah karena menangis.
“iya, bentar.” Keyla akhirnya memberanikan diri demi adiknya. Baru dia mencari kontaknya HPnya sudah berdering.
“Siapa kak?” Tanya Keysha penasaran.
“Kak Dzakyy.” Keyla langsung mengangkatnya.
Keyla hanya mengucapkan “hallo” selebihnya hanya sunyi, yang semakin membuat Keysha penasaran.
“Innalillahi …” Keyla tercekat. Dia menutup mulut, matanya mulai berlinang. Keysha semakin menatap bingung.
“Kak Caca dek …” telepon itu telah terputus menyisakan duka yang mampu mengubur kekecewaan Keysha
“Kak Caca kenapa, kak?”
“Kak Caca kecelakaan.” Teramat susah mengucapkan itu. Keysha hanya bisa menutup mulut, tatapanya kosong. Impianya tentang menonton film tiga dimensi musnah seketika.

#Day17
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Hari yang berbeda. Jika hari yang berbeda itu dikategorikan hari yang istimewa maka hari ini cukup terkesan istimewa. Sudah menjadi hal umum jika ketika bulan Ramadhan akan diadakan buka bersama, hanya saja yang menjadi terkesan istimewa itu adalah ketika suatu rutinitas itu hanya dilakukan setahun sekali.

Awalnya aku menganggap ini tak akan menyenangkan, secara aku bukan orang yang suka keramaian. Aku tipe orang introvert, jadi ketika mendapat kabar bahwa di kantor akan mengadakan buka bersama, aku tak begitu semangat. Ditambah sebuah kabar bahwa disuruh untuk menjadi MC, wah itu hal diluar kesukaanku. Tentu tak semua orang bisa berdiri di depan umum, dan menjadi pusat perhatian. Walau mungkin, hal itu bisa saja dilatih, tapi aku merasa belum siap.

Akhirnya hari H itu tiba. Aku berusaha rileks. Selama di rumah aku mencoba menghafal text sebagai pembawa acara. Jadi hanya tinggal menyiapkan mental. Selama perjalanan aku mencoba memperbaiki niat "ini bukan sekedar acara buka bersama, tapi juga acara silaturahmi". Karena dalam islam kita dianjurkan untuk bersilaturahmi sehingga itu cukup untuk memunculkan energi lebih untuk memacu semangat.

Sesampainya di tempat ternyata aku tak jadi menjadi MC, sudah ada yang menggantikan, dan itu menjadi pemicu semangat lagi. Ternyata setelah acara dimulai, dan selama berlangsung tidak seperti bayanganku sebelumnya yang aku mengira akan membosankan. Acaranya berlangsung seru, tak banyak acara formal karena kebanyakan waktu dihabiskan untuk kuis. Ada cukup banyak hadiah yang disediakan. Peserta hanya dianjurkan untuk menjawab pertanyaan dari MC. Menariknya salah satu hadiah itu jatuh kepadaku, ya walau lewat bantuan teman-teman. Jadi itu tadi sepenggal kisah tentang Ramadhan tahun ini. Semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan semoga ibadahnya juga meningkat. Aamiin.

#Day16
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Penyakit Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progesif atau perlahan-lahan. Biasanya akan diawali dengan mudah lupa. Seiring perkembangan waktu, gejala akan meningkat. Penderita Alzheimer akan kesulitan melakukan perencanaan, kesulitan membuat keputusan, kerap terlihat bingung, bahkan terkadang tersesat di tempat yang tidak asing, serta mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah curiga, penuntut, dan agresif. Pada kasus yang parah, penderita penyakit Alzheimer bisa mengalami delusi dan halusinansi, serta tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.
Ada beberapa factor yang bisa meningkatkan resiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah gaya hidup yang tidak sehat, berjenis kelamin wanita, berusia di atas 65 tahun, memiliki orang tua atau saudara kandung yang sakit Alzheimer, memiliki riwayat penyakit jantung, dan pernah mengalami luka berat di kepala.
Dalam Islam sendiri, Alzheimer merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang menunjukan bahwa manusia itu lemah tanpa pertolongan dari-Nya. Seperti firman Allah Qur’an Surat An Nahl/16:70 “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” Yang dimaksud lemah adalah kelemahan yang tidak dapat kembali, berupa melemahnya indra, serta kemampuan berbicara dan berpikir yang dialami orang yang sudah tua.
Penyalit Alzheimer merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, akan tetapi perkembanganya dapat dicegah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyalit ini adalah dengan menjaga kesehatan jantung, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan sehat, rutin olahraga, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, berhenti merokok, menjaga otak agar tetap aktif bekerja. Untuk menjaga otak agar tetap aktif salah satunya adalah dengan menghafal Al-Qur’an dan mempelajarinya. Menghafal Al-Qur’an mampu meningkatkan kapasitas otak untuk berpikir dan memori. Ketika mempelajari Al-Qir’an dengan membaca, mendengarkan dan mengucapkannya, sebuah area di lobus temporal otak yang merupakan pusat konsolidasi memori akan terstimulasi, dan semakin sering area ini teraktivasi, maka kemampuan berpikir dan memori otak akan menjadi lebih baik dan efisien.

#Day15
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


“Kakak itu jorok banget.” Protes Caca selesai merapikan kamar Dzakyy.

“Kenapa? Ini kan kamarku.” Ketus Dzakyy yang sibuk dengan laptopnya.

“Kakak itu harus segera cari pendamping.” Sambil merebahkan badanya di Kasur.

“Memangnya kenapa?”

“Biar ada yang ngomelin kalau kamarnya kotor.” Jawab Caca sambil ketawa. Ruangan itu memang jarang terlihat rapi. Dzakyy terlalu sibuk dengan laptopnya, tak peduli dengan selimut yang belum dilipat, bantal yang tak pada tempatnya. Buku yang berserakan di Kasur, majalah yang jatuh ke lantai. Dzakyy hanya membereskan ketika mau tidur, itu pun hanya ditaruh sembarangan. Beruntung adik sepupunya itu perhatian. Hingga bersedia merapikan kamarnya.

“Kak, buku cerita anak dimana?” Tanya Caca memecah keheningan

“Laci bawah.” Jawabnya datar. Caca sudah paham dengan tabiat kakanya itu, jadi tak akan sakit hati dengan sikap dingin Dzakyy.

Caca segera beranjak, menggeledah isi laci dilemari samping tempat Dzakyy biasa menulis. Terdapat makalah, majalah, beberapa buku cerita karangan Dzakyy, juga lembaran-lembaran fotocopy materi yang Caca tak paham. Dia iseng menggeledah sampai bawah tumpukan-tumpukan tersebut hingga menemukan sesuatu yang asing. Sebuah kotak kecil dari kayu yang terukir indah. Caca mengambil satu buku cerita dan kotak kecil itu lalu segera menutupnya dan kembali beranjak ke Kasur. Dzakyy tetap sibuk dengan laptopnya, tak peduli.

Caca segera menaruh bukunya dan membuka kotak kecil itu. Wajahnya terlipat, di dalamnya ada sebutir batu safir dan sebutir batu kerikil dengan alas kain warna hitam.

“Apan ini Kak? Mau jadi dukun ya?” bentak Caca yang bungung dengan apa yang dia temukan.

“Apaan sih?” Dzakyy yang terkejut, menoleh. Termangu melihat kotak yang dibawa Caca, tapi tak butuh waktu lama dia menoleh lagi sibuk dengan laptopnya.

“Ini apa Kak?” kali ini Caca menghampirinya.

“Batu safir dan kerikil, apanya yang harus dijelasin?” ketus Dzakyy.

“Ya, buat apa?” Caca yang belum puas, terus bertanya.

“Katanya pernah baca buku ceritaku, coba baca lagi yang judulnya ‘Cerita Dua Batu’.”

Caca segera menggeledah laci bawah itu lagi, mengambil semua buku ceritanya, memeriksa judulnya.

“Tak ada kak yang judulnya gitu.” Sambil menaruh begitu saja buku-bukunya di lantai lalu mengeluarkan semua isi laci itu.

“Dicek lagi, kamu tadi bawa satu buku kan."

Caca baru ingat. Dia langsung melompat ke Kasur.

“Oh … iya kak, ada.” Caca langsung membukanya. Membacanya cepat. Suasana tegang itu mereda berganti hening sejenak.

Tak berapa lama, tiba-tiba Caca tertawa terpingkal-pingkal membuat Dzakyy bingung, termangu menatap tingkah adiknya itu.

“ternyata kakak menyimpan batu itu untuk sumber inspirasi cerita kakak tentang kisah dua batu itu ya” jelas Caca yang mesih terpingkal-pingkal “kirain itu jimat.”

“Batu safir itu pemberian kakek. Dari batu itu tercipta ide untuk membuat cerita tentang batu permata yang suka tebar pesona, karena manfaatnya hanya sebagai hiasan dan batu kerikil yang tak peduli dengan penilaian orang yang penting dia berguna, karena batu kerikil dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.” Jelas Dzakyy sambil memandangi tingkah adiknya yang menutup mulutnya meredakan tawa karena merasa bodoh telah mengira kakaknya mau jadi dukun.

“Oh … gitu” Caca tiba-tiba beranjak dari Kasur “aku ke kamar dulu ya kak.” Tanpa sempat dijawab sudah lari ke pintu.

“beresin dulu.” Teriak Dzakyy.

“beresin sendiri.” Jawab Caca yang sudah keluar kamar meninggalkan buku-buku dan lembaran berserakan karena ulahnya.

#Day14
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


Jika ditanya “buku apa yang telah dibaca berkali-kali tapi tidak bosan dengan isinya?” maka tanpa ragu, saya akan menjawab “bukunya Ustadz Salim A Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan.” Tentu sebuah pilihan itu bukan tanpa alasan. Buku ini disajikan dengan tutur kata yang indah, ciri khas Ustadz Salim yang sampai saat ini belum saya temukan pada penulis lain. Sebagai seorang pemuda, yang dilingkupi hawa nafsu yang tak menentu, kita (terutama saya) membutuhkan sesuatu untuk menjinakannya, atau sekedar sebagai pengingat agar kita tak melampaui batas dan terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan. Di sinilah salah satu kelebihan buku ini karena tergolong buku yang tidak tebal dan mudah untuk dipahami karena yang namanya pengingat tentu penyampaianya tak perlu mendetail, yang penting maksud dan tujuanya tersampaikan. Akan tetapi walau tergolong tipis, isi buku ini tak boleh di pandang sebelah mata karena ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil.

Buku ini ditulis atas dasar cita-cita yang luhur. Seperti yang tertuliskan di sampul, buku ini hadir, agar yang belum menikah menjalani penantiannya dengan kesucian nan gagah. Juga, agar yang sudah menikah menghadirkan saat-saat indah penuh barakah. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa saat ini aktifitas pacaran telah menjadi budaya di kalangan remaja. Maka sejatinya buku ini ditujukan untuk remaja dengan gaya bahasa yang indah menurut saya, misal Ustadz Salim mengistilahkan sifat-sifat remaja itu dengan kekanakan yang menajam dan kedewasaan yang menjanin. Di sini Ustadz Salim menyampaikan tentang psikologis perkembangan remaja dengan bahasa yang tidak membosankan. Bagi saya sendiri, membaca buku ini memaksa kita untuk menghadirkan hati bukan sekedar akal untuk memahaminya.

Selain itu, buku ini juga memberikan tuntunan agar kita sebagai seorang remaja mampu melewati masa itu dengan sukses. Di dalam penyampaianya Ustadz Salim juga menyertakan dalil, bukan hanya sekedar angan-angan belaka. Salah satu godaan bagi pemuda adalah cinta, maka dengan buku ini, Ustadz ingin mengajak kita untuk menyiapkan diri agar ketika waktunya tiba, kita mampu menyambutnya dengan suka cita dengan membedakan antara nafsu dan cinta. Juga akan disebutkan panduan praktis tentang sunah-sunah setelah nikah dan kiat-kiat menjaga hubungan agar tetap harmonis dan tak menyalahi aturan-Nya. Gaya penyampaian buku ini memang terkesan ditujukan untuk kalangan remaja, akan tetapi isi didalamnya juga cocok untuk orang tua yang sudah menikah, agar semakin giat memperbaiki diri juga mengajak yang dikasihi untuk menggapai surga-Nya.

“Surga ‘Adn yang mereka masuki bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istrinya, dan anak cucunya, sementara malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, sambil mengucapkan “Salaamun ‘alaikum bimaa shabartum.. keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian”, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar Ra’d 23-24)

#Day13
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


"Apa jadinya malam tanpa bintang,
Yang sinar rembulan tak kan cukup menghiasi sang malam.
Tak sadarkah betapa berharganya setitik cahaya,
Demi menghiasi hati yang gundah gulana,
Demi mengobati rindu yang merana.
Lantas kenapa bintang itu pergi,
Apa merasa tak pantas untuk bersanding lagi.
Atau telah ada sinar yang lebih berseri"

Keyla memotong selembar kertas yang telah ditulisnya itu. Berusaha serapi mungkin, untuk kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop, besok dia akan titipkan ke Caca bersama donat pesanannya.

Tok tok tok … terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Keyla mendongak melihat jam. Pukul sepuluh, siapa malam-malam begini mencarinya. Keyla beranjak menghampiri pintu.

“Keysha, ada apa?”

“Aku tak bisa tidur kak, boleh tidur bareng kakak?” pinta Keysha memelas.

“Yaudah masuk sini.”

Sambil menguap Keysha berjalan malas ke ranjang

“Lah … sudah ngantuk gitu kok tak bisa tidur?” Tanya Keyla yang melihat tingkah adiknya.

“Beneran kak, tak bisa tidur tadi.”

Keysha langsung naik ke ranjang, Keyla masih sibuk di meja belajarnya melanjutkan menulis novelnya.

“Kakak nulis apa?”

“Rahasia, sudah tidur sana.”

Kali ini Keysha tak banyak protes. Rasa kantuknya mengalahkan seleranya untuk bertanya.

***

“Yeyy … selesai. Kapan kak Caca kemari kak.” Keysha yang selesai memasukkan donat ke toples tak sabar menunggu Caca datang. Mereka memang baru kenal, tapi sepertinya langsung akrab.

“Assalamualaikum”

Yang ditunggu-tunggu pun datang.

“Suruh masuk dulu, La!” suruh Ibu yang masih sibuk dengan sotonya, hari ini ada pesanan dari tetangga, jadi Ibu buat soto lagi.

Keyla tanpa disuruh dua kali langsung beranjak membukakan pintu dan menyuruh Caca masuk.

“Sarapan dulu ya.” Ibu menawarinya setelah mereka bersalaman.

“Terimakasih Bu. Saya sudah sarapan. Maaf saya tak bisa lama-lama karena harus ke kampus untuk ujian seleksi masuk.”

“Kakak yang satunya mana, Kak?” Tanya Keysha yang telah berdiri di sasmpingnya membawa toples isi donat.

“Kak Dzakyy tak bisa ikut, dek.”

“Oh iya. Ini donatnya Kak.” Keysha menyerahkan dua tumpuk toples yang dari tadi sudah tak sabar ingin menyerahkanya.

“Wah, trimakasih ya dek.” Caca lantas mengambil dompet dan membayarnya

“Uangnya nanti saja, Ca. Kalau sudah terjual.” Timpal Keyla

“Sekarang saja kak. Biar saya tak punya hutang.” Jawab Caca sambil tersenyum.
Caca lantas berpamitan. Keyla dan Keysha mengantarnya sampai depan rumah.

“Ini titip untuk Kak Dzakyy ya.” Pinta Keyla sambil menyeragkan amplop kecil.

“Apa ini Kak.” Caca menatapnya bingung.

“Dibawa saja, nanti dia paham kok.”

“Baik kak.” Caca langsung memasukkannya ke dalam tas agar tak hilang.

“Kakak ngasih apa tadi.” Tanya Keysha yang menatapnya bingung.

“Rahasia.” Keyla langsung berlari ke dalam rumah.

“Tunggu, Kak….”

***

“Ayo, buruan Ca. Nanti kamu telat lo!” Dzakyy tak sabra menunggu adiknya. Berulang kali dia melihat jam tanganya.

“Maaf kak.” Caca langsung berlari menghampiri Dzakyy yang sudah siap di atas moronya.

Dzakyy langsung tancap gas. Seharusnya mereka sudah berangkat lima belas menit lalu.

“Kenapa kamu ambil donat saja lama banget. Dasar cewek.” Ketus Dzakyy

“Yee … aku tu harus berhenti berkali-kali demi melihat isi surat itu.”

“Buat apa? Tak penting juga kan?”

“Aku kan penasaran. Itu maksudnya gimana sih kak?”

“Rahasia … kamu kan sudah baca, buat apa aku jelasin.”

“Aku kan belum paham kak.”

“ya terserah.” Dzakyy terus tancap gas.

Ingin rasanya Caca timpuk dari belakang, tapi urung. Nanti kalau jatuh dia juga yang kena. Terkadang dia suka bingung dengan sikap kakak sepupunya itu. Terkadang dia amat perhatian tapi dilain waktu cueknya luar biasa.

#Day11
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share



“Donatnya enak ya kak?” tanya Caca yang menghampiri Dzakyy di teras.

“Ya donat seperti itu kan, rasanya.” Jawabnya datar

“Bilang aja enak, kemarin siapa coba yang ngabisin.”

“Siapa suruh kamu lama wawancaranya.”

Caca hanya manyun mendengar jawaban Dzakyy yang bahkan tak menoleh padanya

“Kakak nulis apa?” Caca menatap penasaran

“Artikel.”

“Kakak tak coba nulis novel?”

“Tentang apa?”

“Kisah kalian berdua?”

“Kalian siapa?”

“Dihh … sok tak paham lagi.”

Dzakyy tak menjawab, tetap asyik dengan laptopnya.

“Tak bisakah kakak sedikit cerita tentangnya?” pinta Caca.

“Tentang siapa?”

“Ayo lah kak. Sikapmu itu semakin menimbulkan enigma bagiku, kakak tahu sendiri kan aku paling tidak bisa menahan rasa penasaran.”

“Dihh … sok paham enigma.”

“Aku tahu dari id line kakak.” bilang Caca sambil cengengesan "kakak dapat ide kata itu dari mana?"

"Enigma Machine ... itu mesin penyandi buatan Jerman yang dipakai waktu Perang Dunia ke dua."

"Nah kan, kalau tentang yang lain mau jawab, kalau tentang dia ... ayolah kak, cerita sedikit saja?" dengan muka memelas Caca meminta.

Dzakyy menghela nafas, memberi jeda untuk merangkai kata.

"Kamu pernah melakukan perjalanan jauh?" Tanya Dzakyy dengan tatapan serius

"Emm ... iya, pernah."

"Dalam perjalanan itu pernahkah kamu temui tempat yang indah atau berkesan?"

"Iya ... ada."

"Begitulah." jelas Dzakyy sambil beranjak membawa laptopnya pergi ke dalam rumah

"Apanya yang begitulah ...  hei." Caca yang belum mengerti mencoba mengejar, tapi percuma, dia tak akan dapat penjelasan yang gamblang dari Dzakyy.

***

"Kakak kenal yang kemarin menolong kita?" tanya Keysha yang sedang menggambar di ruang tamu.

"Teman kakak dulu dek." jawab Keyla yang asyik membaca koran.

"Kok, kakak seperti tak ingat kemarin"

"Kita hampir tujuh tahun tak ketemu dek."

Hari ini mereka tak menjual donat. Sepulang dari jualan kemarin Keyla dimarahi Ibunya karena lalai menjaga adiknya, dan sekarang mereka dilarang main selama seminggu kedepan, padahal Keyla harus mengembalikan buku minggu ini yang dipinjamnya dari Perpus. Keysha yang sebelum jualan sangat semangat membicarakan kue dan donat, hari ini sama sekali tak terdengar kata itu, bahkan tak tertarik untuk jajan ketika ada penjual es krim lewat depan rumah. Ruangan itu menjadi sunyi, Keysha yang biasanya bicara banyak hal, cerita banyak hal, bahkan cerita yang sudah pernah dia ceritakan di ulang lagi, dan Keyla menjadi pendengar yang baik, hari ini kegaduhanya hilang. Keyla juga enggan membahas apapun.

"Assalamuallaikum, Tante." suara yang tak asing itu terdengar dari depan rumah. Keysla dan Keysha buru-buru keluar.

"Waalaikumsalam, dek. Cari siapa ya?" jawab Ibu Keyla yang duduk di teras menyelesaikan rajutanya.

"Kakak." Keysha yang melihat Caca langsung berlari memeluknya.

Ibu Keyla menatapnya bingung.

"Itu kemarin yang menolong kami, Bu." Keyla menjelaskan tanpa disuruh.

Mereka pun bersalaman bergantian.

"Ayo masuk."

"Maaf Bu, saya buru-buru, Saya hanya ingin mengembalikan ini." Caca menyerahkan toples kosong pada Ibu Keyla.

"Kemarin saya membeli setoples donatnya, Bu." jelas Caca yang melihat ekspresi bingung Ibu Keyla "rencananya saya mau jual di rumah, kalau masih ada boleh saya beli?"

"Maaf dek, hari ini kami tak buat." Keyla buru-buru menimpali melihat ekspresi Ibunya yang masih bingung. Mereka memang tak membicarakanya kemarin.

"Kalau begitu besok bisa minta tolong dibuatkan Kak, untuk dua toples saja, nanti saya ambil."

"Bisa, dek."

"Kakak sendiri?" Keysha yang berdiri di samping Caca bertanya setelah melihat sekelilingnya tak di temukan pemuda yang bersamanya kemarin.

"Iya dek, Kak Dzakyy lagi sibuk."

"Oh iya, nama kamu siapa?" Keyla yang ingat kemarin belum kenalan buru-buru bertanya.

"Tasya kak, tapi biasa di panggi Caca, sepertinya saya pernah menyebutkan nama saya ketika di Perpus Kak." jawab Caca sambil tertawa.

"Eh ... maaf saya lupa." Keyla ikut tertawa

"Ya sudah, saya pulang dulu ya." Caca berpamitan dengan mereka tanpa tahu bahwa esok dia akan menjadi kurir surat untuk kakaknya.

#Day10
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita


0
Share


“Jangan lari-lari dek.” Keyla mencoba memperingatkan Keysha. Ini hari pertama mereka jualan donat. Mereka mencoba menawarkanya ke warung dekat rumahnya, jadi mereka hanya berjalan kaki.

“Mau donat, Bu.”

“Maaf, tidak mbak, takutnya tak habis nanti.”

“Baik Bu.” Ini sudah lima warung yang didatangi Keyla dan baru terjual satu toples, itupun warung langganan Ibu, masih ada empat toples lagi.

Matahari semakin meninggi. Hangatnya udara pagi mulai berganti panas bercampur kepulan asap kendaraan. Keysha mulai terlihat bosan. Tak ada lagi tawa ceria darinya. Jalanya pun semakin lambat. Berkali-kali Keyla meneriaki agar tetap berjalan. Dia harus tetap semangat. Teriknya matahari bukan masalah, tapi omongan Ibu-ibu yang dilewatinya membuat hatinya gerah “sayang ya, lulus kuliah hanya jadi penjual donat” Keyla hanya bisa mempercepat langkahnya tapi Keysha mana tahu apa yang dirasakan kakaknya, dia tetap berjalan lambat. Tiba-tiba pandangan Keysha tertuju pada penjual es krim di seberang jalan.

“Kak, Keyla mau es krim.” Keysha berteriak sambil menunjuk ke seberang jalan. “tidak bisakah Keysha sedikit bersabar, kenapa disaat seperti ini harus minta jajan” gumam Keyla. Baru saja Keyla menoleh adikya sudah berlari menghampiri penjual es krim.

Tiin tiiiiin.

“Keyshaa” teriak Keyla yang melihat sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah selatan. Tanpa banyak fikir dia membuang toples isi donat yang dia bawa, langsung berlari menghampiri Keysha. Beruntung Keysha bisa berhenti sehingga memberi kesempatan pengendara motor itu untuk menghindarinya.

“Dasar bocah, mau mati ya.” Geram pengendara motor itu sambil memakirkan begitu saja di pinggir jalan.

Keyla langsung memeluk Keysha, wajahnya pucat, tangisnya tak tertahan lagi. Seketika banyak orang mengerumuni termasuk pengendara motor itu. Wajahnya garang, badanya besar, membuat siapapun menyingkir ketika dia lewat.
“Punya adik itu dijaga” bentak pengendara motor itu sambil menunjuk Keysha yang mendekap di pelukan kakaknya.

Keysha ingin sekali minta maaf tapi kata itu hanya sampai di kerongkongan, bibirnya bergetar tanpa suara. Tiba-tiba seorang pemuda muncul dari belakang.

“Maaf Pak, tadi kami lalai menjaganya.” Pemuda itu Dzakyy, tapi Keyla tak sempat memperhatikan, dia masih menagis sesenggukan.

“Kalau tadi saya tak sempat menghindar bagaimana?”

“Sekali lagi saya minta maaf ya Pak. Apakah ada kerusakan yang perlu saya ganti.”

“Lain kali kalau bawa anak kecil itu jaga baik-baik.” Pengendara motor itu langsung berbalik meninggalkan mereka. Satu-persatu warga yang mengerumuni berangsur pergi, Caca yang dari tadi menunggu di belakang bisa mendekat

“Kakak tidak apa-apa kan?” Caca muncul dari belakang membawa toples dan donat yang masih bisa diselamatkan.

“Tak apa-apa dek.” Keyla berangsur tenang, dia mengusap wajahnya.

“Ini punya kakak?” Caca memperlihatkan toples isi donat sambil duduk di sampingnya.

“Ohh … iya, trimakasih dek.”

“Itu dijual?” Tanya Dzakyy yang juga ikut duduk di sampingnya.

“Ehh… iya, dijual.” Keyla agak kaget

“Beli ya kak Dzakyy, siapa tahu di sana lama, bisa buat pengganjal perut dah.” Pinta Caca
“Di bungkus pakai apa?”

“Bawa saja sama toplesnya, ga usah beli.” Keyla menimpali.

“Ca, bawa saja yang paling banyak isinya, yang tiga kembalikan ke kak Keyla, bayarnya pakai uangmu dulu.” Suruh Dzakyy

“Kok kamu tahu nama saya?” Tanya Keyla bingung sambil menap Dzakyy yang terpaku dengan pertanyaan itu “Kamu Dzakyy ya? Kenapa tak bilang waktu kemarin ketemu?”

Dzakyy hanya menggaruk kepala.

Keysha mulai tenang, tangisnya reda. Menoleh ke selilingnya, mendapati Caca dan Dzakyy

“Kakak yang kemarin ketemu di Perpus kan?” Tanya Keyla pada Caca.

“Iya, dek. Adek gak ada yang sakit kan?”

“Tidak kak, cuman takut tadi.” Wajahnya masih pucat

Dzakyy tiba-tiba berdiri “maaf ya, kita tak bisa lama-lama.” Dia mengambil HP dari sakunya, mencari kontak seseorang.

Kringgg … tepat ketika Keyla berdiri HPnya berbunyi.

“Itu nomorku. Tolong nanti kirimi alamtmu biar aku bisa mengembalikan toplesnya.” Pinta Dzakyy.

Keyla hanya mematung. “bagaimana dia bisa tahu nomornya?” belum sempat dia bertanya Dzakyy sudah pergi.
“ini kak.” Caca menyerahkan tiga toples pada Keyla “dan ini uangnya” dia menaruhnya di atas tumpukan toples dan buru-buru pergi menghampiri Dzakyy yang sudah siap dengan motornya.

“Assalamualaikum.” Motor itu melaju tanpa Keyla sempat bertanya.

“Kok tak dijawab kak? Tanya Keysha

“ehh … iya, waalaikumsalam.”

“sudah jauh kali kak.”


#Day9
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
1
Share


Bintang-gemintang bertebaran bagai kelereng yang disebar. Berkilauan menghiasi gelapnya malam. Tak tertinggal bulan sebagai permata yang memikat, dengan sinar lembutnya yang tak kan silau sampai lelah memandang. Gadis itu tampak kehilangan keceriaanya, dan bulan sebagai pelampiasan. Sudah dua jam dia tak beranjak dari kursi di teras rumah sederhana itu. Bu Karlina sudah lima kali keluar masuk membujuknya agar mau kedalam, tapi gadis itu hanya menjawab singkat "Caca masih mau disini, Bu." dengan senyum yang jelas sangat dipaksakan.

"Dzakyy, bujuk Caca ke dalam, kasihan diluar dingin." Suruh Bu Karlina sambil mengetuk pintu kamar Dzakyy.

"Kasih saja selimut, Bu." Jawab Dzakyy yang masih asyik menulis artikel. Baru juga dapat dua paragraf, jika dia tinggalkan, bisa-bisa idenya lari tak tersisa.

"Dzakyy ...." Bu Karlina bersungut-sungut tak peduli dengan kesibukan anaknya itu.

"Iya, Bu." Dengan malas Dzakyy beranjak keluar, berharap idenya tak segera hilang.

"Buruan." Ibunya yang menunggu di depan pintu membentaknya begitu pintu dibuka.

Dzakyy tak menjawab, hanya melewatinya sambil melempar senyum.

Dinginya angin malam segera menusuk tulang begitu Dzakyy keluar. Gadis itu tetap tak bergeming. Pandanganya tak teralihkan. Malam ini memang indah, bagi mereka yang menyukai pesona malam. Dzakyy, segera membawa kursi dan duduk di sampingnya.

"Kapan ujian." Dzakyy ikut mendongak, berusaha menyatukan pandangan tanpa bertatapan.

"Nanti nunggu pemberitahuan, Kak." Caca menjawabnya tanpa menoleh.

Suasana lengang sejenak, Dzakyy butuh waktu untuk merangkai kata, dia tak bisa seenaknya bicara seperti halnya ketika hati Caca sedang baik.

"Pernahkah membayangkan betapa menakjubkanya penghuni langit." Kali ini Caca menoleh, bukan karena lelah, tapi dia butuh penjelasan dari yang diucapkan Kakaknya itu.

"Bahkan pada gelapnya malam yang terkadang membuat orang takut" Dzakyy berhenti sejenak, pandanganya tak teralihkan "ada hal menakjubkan yang tak bisa kita nikmati pada terangnya siang."

Caca kembali mendongak. Dia paham apa yang dimaksud kakaknya.

"Suatu hari nanti, kita akan terbang kesana. Iya, kan kak?"

"Iya."

"Aku takut mereka tak menyambutku dengan baik." Kali ini Dzakyy menoleh mendengar ucapan Caca. Dia bahkan tak berfikir sejauh itu. Terlihat butir kristal keluar dari sela-sela mata indahnya.

"Aku baca buku kakak ... mungkin aku dulu selalu benci, ketika kakak menitipkan buku cerita pada Ayah." butiran kristal itu perlahan menggelayuti pipinya

"kenapa bukan kue, atau permen, anak kecil kan suka permen, tapi apa yang kakak berikan." kali ini dia tertunduk, membiarkan butiran kristal cair itu menetes, jatuh.

"Itu, karena ibumu." Dzakyy tetap mendongak menikmati dekapan sinar rembulan, mungkin memang tak sehangat sinar mentari, tapi ketenangan hati mampu mengusir dinginya angin malam.

Caca menoleh meminta penjelasan.

"Dari semua saudara Ibu. Ibumu yang paling dekat dan perhatian. Dia tahu aku sejak dulu suka menggambar, menulis. Beliau juga sering membacakan cerita, walaupun kebanyakan ceritanya aku tak paham. Dzakyy tersenyum mengenang cerita itu Ibumu paling suka budaya. Setiap ada pagelaran kebudayaan pasti Ibumu datang, dan aku menjadi teman setianya. Ayahmu sering keluar kota semenjak Ibumu mengandung. Katanya untuk bekal membiayai persalinan dan biaya hidup. Dzakyy menghela nafas. Rasanya berat menceritakan itu semua. Bukan karena dia tak ingat, dia bahkan tak bias melupakanya.
Lanjutkan, Kak? Caca memelas

Dzakyy menatap lamat-lamat adik sepupunya itu. Kebanyakan orang yang mengenalnya hanya akan tahu dia yang periang tanpa mengetahui beban di balik tawanya.

Dzakyy menghela nafas berusaha mengumpulkan tenaga. Ini bukan hanya menyangkut dia dan tantenya, tapi juga tentang seorang anak yang ditinggal Ibunya.

Waktu itu Ibumu mengandung empat bulan. Kita masih tinggal di desa. Ada tetangga desa yang mengundang dalang untuk menunjukkan pagelaran wayang. Sejak pagi tak ada yang dibahas selain wayang, Aku sampai bosan mendengarnya. Pertunjukan dimulai malam hari. Sejak sore Ibumu telah bersiap-siap. Aku enggan untuk berangkat, maka sore itu Aku merengek minta tinggal di rumah, tapi Ibumu memaksa. Hingga malam akhirnya Aku mengalah, karena Ibumu berjanji membelikan mainan. Waktu ingin berangkat, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Ibumu tak menyerah, tetap memaksa berangkat, tapi ditentang seluruh penghuni rumah. Akhirnya Ibumu hanya mengurung diri di dalam kamar selama seminggu. Sejak saat itu semangat hidupnya berkurang. Di desa memang jarang ada pertunjukan. Andai waktu bisa terulang Caca menggengam tangan Dzakyy sebelum sempat melanjutkan. Caca tak menoleh, pandanganya tertuju ke langit.

Kamu boleh membenciku, dek. Kakakmu ini yang telah merenggut semangat Ibumu. Dzakyy menunduk pasrah setelah apa yang diceritakanya.

Caca tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya. Aku selalu membencimu, kak. Kakak yang selalu jail, kakak yang selalu bikin Caca nangis, tapi terkadang, yang paling dibenci itu yang susah dilupakan. Kali ini tak ada air mata yang keluar, hanya senyum simpul yang menghiasi wajahnya. Apa yang kakak peroleh dari Ibu?

Ibumu selalu bilang, kebudayaan di Nusantara itu indah Dzakyy, jika kamu mau mempelajarinya satu saja, InsyaAllah kamu akan peka terhadap sekitarmu karena budaya itu mengajarkan kelembutan. Dzakyy menghela nafas mungkin tak semua orang memiliki sudut pandang yang istimewa seperti Ibumu. Selama ini aku mencoba menghargai keragaman budaya, dan itu mengajari tentang toleransi.

Semilir angin malam mulai terasa, Dzakyy mulai khawati adiknya nanti sakit.

Kakak ada lomba bikin essay tentang Keberagaman Budaya Nusantara, pemenangnya akan dapat beasiswa pelatihan jurnalis selama tiga hari, mau ikut tak? Lumayan buat ngisi waktu luang sebelum kuliah, jadwalnya sudah aku pastikan sebelum kuliah dimulai kok”

Caca bangkit dari sandaranya Boleh, kak. Wajah cerahnya telah kembali.

Oke, besuk aku ajari, sekarang istirahat dulu ya.

#Day8
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


Kring … kring
Bunyi telepon itu memecah keheningan, memenuhi ruangan yang tak seberapa besar. Suaranya tak lantang, tapi cukup untuk membangunkan penghuninya yang tertidur di meja belajarnya dengan laptop yang masih menyala. Malas dia meraih telepon di dekatnya sambil mengusap mata. Agak terkejut ketika melihat nama penelponya. Dia menaruh teleponya kembali, tak peduli HP nya masih berdering. Pukul berapa sekarang. Dia menengok jam di laptopnya. Hebat … jam sebelas. Padahal ada satu artikel lagi yang harus dikirim pada hari ini. Dia mengusap kepalanya, mencoba mengembalikan seluruh kesadaranya dan mengusir kantuknya. Agak kualahan juga menulis delapan artikel sedang dia juga sibuk bekerja. Dia beranjak ingin mencari sesuatu di dapur. Baru membalikan badan HPnya kembali berdering. Terpaksa dia mengangkatnya jika tidak semalaman HP nya tidak akan berhenti bordering. Dia tahu betul siapa yang menelpon, jika tidak diangkat dia tak akan menyerah, bahkan bisa-bisa dia menelpon Ibunya.

“Kak Dzakyy ….” Teriakan itu memekikan telinga. Bahkan Dia harus menjauhan tekepon dari telinganya.

“Kenapa Kak Dzakyy tak angkat teleponku?”

“Tidur tadi, Dek.” Dengan santai dia menjawab sambil melangkah keluar menuju dapur.

“Hmm ….” Terdengar sedikit kekecewaan dan rasa bersalah dari jawaban singkat itu.

“Kenapa, Dek?” Dzakyy yang menyadarinya segera bertanya.

“Aku ganggu ya, Kak. Aku lupa kalalu Kakak sibuk, pasti capek ya?”

Suasana lengang sejenak. Dia sadar. Seharusnya Dia langsung mengangkat telponya tadi.

“Kakak seharusnya berterima kasih sama kamu.”

“Lah … kenapa, Kak?”

“Gara-gara kamu, Kakak jadi terbangun. Ada artikel yang harus dikirim hari ini, tapi tadi malah ketiduran, untung kamu bangunin.”

Jawaban itu membuat gelak tawa di seberang sana. Tak henti-hentinya Dia memuji dirinya. “Aku tu memang yang paling mengeti Kakak.” Gadis di seberang sana memang periang, tapi juga perasa. “Besok kalau Kakak nikah harus minta izin dulu sama saya. Aku harus tahu siapa dia, bisa gak ngertiin, Kakak.”
Dzakyy hanya tersenyum, setidaknya dia tak membuatnya kecewa.

“Kapan Kakak libur?”

“Besuk.”

“Serius nii?”

“Iyaa.” Dzakyy menjawab gemas sambil mengaduk kopi. Sebenarnya obrolanya dengan adik sepupunya itu sudah cukup menghilangkan kantuknya.

“Aku besuk main ya, Kak?”

“Terserah deh.”

“Yeiii … love you, Kak.”

Dzakyy menutup telponya. Masih ada yang harus dia kerjakan sebelum pengganggunya datang. Besok-besok mana bisa dia menulis tanpa gangguan, bisa-bisa satu artikel saja tak selesai.

***
“Main ke Perpus yuk, Kak?” Keysha yang bosen dengan buku gambarnya menghampiri Keyla yang asyik menulis di teras.

“Sudah selesai gambarnya?” Keyla hanya menatap sekilas adiknya yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

“Bosen, Kak.”

“Ajak main adekmu itu, Nduk. Kamu itu ga siang ga malem di depan laptop mulu kerjaanya.” Ibunya yang sedang merajut di pojok teras menimpali.

Keyla menghembuskan nafas mendengar perintah Ibunya. Hari ini Ibunya tak jualan soto, penjualan kemarin mengecewakan karena taka da siswa yang beli, jadi sekarang mencoba peruntungan baru dengan merajut tas selama libur semester.

“Ibu tak jualan kue saja, nanti Keyla bantu.”

“Memangnya kamu bisa?”

“Sedikit sih, Bu. Dulu pernah buat sama temen.”

“Kalau gitu kamu sekalian beli bahan sambil temani Keysha main.” Ibu beranja ingin mengambil uang.

“Ibu mau kemana?” Keyla yang menyadari Ibunya hendak masuk rumah bertanya.

“Mau ambil uang, buat beli bahan.”

“Keyla ada kok, Bu. Pakai uang Keyla saja.”

“Lah duit dari mana kamu?” Ibunya mengernyitkan dahi, bingung. Anaknya kan belum kerja.

“Kak Keyla dapet uang dari nulis, Bu.” Keysha buru-buru menimpali. Dia tahu karena kakaknya itu sering cerita.

“Memangnya menulis bisa dapet uang?” ibunya masih bingung.

“Bisa, Bu.” Keyla segera mematikan laptopnya.

“Ayo Keysha, siap-siap.”

“Nanti kita bikin kue, Kak?” Keysha yang mendengar kata kue langsung gembira.
“Iya sayang, makanya buruan ganti baju sana.”

“Siap, Kak.” Keysha langsung lari ke dalam rumah.

***

“Wah lihat siapa yang datang.” Bu Karlina, Ibu Dzakyy terkejut kedatangan tamu.

“Kamu sendiri, sayang?” sambil mengusap kepalanya Bu Karlina bertanya.

“Iya, Bu. Ayah kerja, tak bisa mengantar.”

“Ayo masuk, kita sedang sarapan.”

Gadis itu menurut. Berjalan mendekati meja makan. Salaman dengan Pak Aga, Ayah Dzakyy juga salaman dengan Dzakyy.

“Sarapan dulu, belum sarapan, kan?” Pak Aga menawari.

“Sudah, Om.” Gadis itu hanya menunduk.

"Belum. Mana sempat kamu sarapan, pasti Ayah kamu juga belum sempat menyiapkan sarapan." Dzakyy menimpali, sambil tetap asik makan.

Bu Karlina segera mengambilkan tanpa disuruh "Ayo, duduk Caca, Ibu ambilkan."

"Trimakasih Bu."

"Kenapa kamu tak beri kabar, kan biar Dzakyy jemput." Tanya Bu Karlina sambil menyerahkan piring lengkap dengan nasi dan lauknya.

"Aku sudah beri kabar kak Dzakyy tadi malam, Bu."

"Lah ... Kenapa ku tak jemput Caca, Dzakyy?"

"Dia tak minta, Bu."

"Kamu itu tak perhatian sama perempuan."

Caca hanya menutup mulut menahan tawa.

***

"Kakak cari apa? Dari tadi hanya muter-muter mulu?" Keysha bersungut-sungut lelah mengikuti kakaknya keliling perpustakaan

"Lah ... Tadi kan kamu yang ngajak main ke perpus?" Keyla masih asyik memilih buku di rak.

"Aku pengenya main di bawah, bosen di sini, bukunya pasti tak boleh di corat-coret."

"Ya tak boleh lah, kakak sedang cari resep buat bikin kue, kan nanti kalau kuenya enak kamu juga yang suka."

"Lah ... Katanya tadi kakak bisa."

"Kan kakak dulu cuman coba-coba."

Pandangan Keysha berkeliling mencari sesuatu yang menarik, Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu di pojok perpus, kebetulan ada bental duduk disitu.

"Aku tunggu di sana ya, kak." Keysha menunjuk ke pojok perpus.

"Iya, jangan pergi jauh lo ya."

Keysha langsung berlari sebelum ada yglang pakai.

***

"Sebenarnya Caca ingin mendaftar kuliah di kampus dekat sini, Bu." Caca dan Bu Kartika sedang santai ngobrol di teras.

"Oh... Kalau begitu kamu tinggal di sini aja."

"Tapi nanti merepotkan, Bu." Caca memang biasa memanggil ibu Kartika dengan sebutan Ibu. Ibu Caca sudah meninggal waktu melahirkan Caca, dulu yang merawat waktu kecil Bu Kartika. Jadi Caca biasa memanggil dengan sebutan Ibu.

"Tak apa, anggap saja rumah sendiri, tak usah sungkan, kan juga ada kamar kosong."

"Trimakasih, Bu."

"Oh iya ... Kapan kamu mau daftar?"

"Hari ini rencananya, Bu."

"Oh... Kalau begitu segera berangkat saja, nanti kesiangan." Bu kartika beranjak bersamaan Dzakyy yang keluar rumah. "Mau kemana kamu?"

"Mau main bu."

"Main, mulu. Anterin adek kamu ini. Mau daftr kuliah dia."

Dzakyh hanya mematap caca yang menutup mulut menahan tawa.

"Mulai hari ini dia tinggal disini." Ibunya menambahi

"Tapi kan..." Dzakyy menepuk dahi "ya sudah buaruan siap-siap, kita ke perpus dulu."

Tanpa disuruh dua kali Caca langsung masuk mengbil tasnya.

***

"Ni buku cerita." Keyla menghampiri Keysha sambil menyerahkan buku kecil bergambar.

"Kapan main di bawah." Keysha memelas

"Nanti ya, ada buku yang belum ketemu." Keyla ikut duduk disamping Keysha dan mulai membuka buku-buku yang di ambilnya.

"Katanya ada yang belum ketemu, kenapa malah duduk." Tanya keysha sambil membuka buku ceritanya.

"Capek tahu. Kakak mau memilih bukunya dulu, kan tak mungkin dipinjam semua." Jawab keyla sambil membuka bukunya satu-satu.

Suasana lengang sejenak, mereka sibuk dengan bukunya masing-masing.

"Memangnya kakak hafal dimana letak semua buku itu?" Tanya keysha yang bingung melihat kakaknya membawa banyak buku.

"Hafal, kan bukunya ada jenisnya." Tanpa menoleh keyla menjawab. Dia membuka bukunya dengan cepat, melihat hal yang sekiranya penting, seperti daftar isi, membaca sekilas di awal bab. Tak butuh waktu lama untuk menyeleksi bukunya.

"Kakak kembaliin bukunya dulu ya."

"Lah cepat amat kak, milihnya."

Tanpa menjawab keyla beranjak membawa buku-bukunya dan hanya tersisa dua yang ditinggalkan dekat Keysha.

***

"Kita tak lama kan?"

"Tidak, kalau kamu tak bikin ulah."

Dzakyy berjalan cepat menuju koleksi buku umum. Caca menhikuti di belakangnya.

"Jangan cepat-cepat, capek tahu." Caca mencoba protes.

"Lah, tadi kamu yang bilang tak boleh lama-lama."

"Aku tak bilang gitu."

"Terserah."

ingin rasanya Caca memukulnya mendengar jawaban itu, tapi urung. Caca suka bingung dengan kakak sepupunya itu. Terkadang dia bisa amat lembut tapi di lain waktu dia begitu dingin. Caca masih terus membuntuti Dzakyy, hingga pandanganya teralihkan oleh seorang anak yang sedang asyik membaca buku di pojok ruangan itu. Dia segera menghampirinya tanpa sepengetahuan Dzakyy, yang di buntutinya masih nyelonong entah kemana.

"Baca apa, dek?" Caca membuka percakapan, berharap anak kecil itu tidak takut padanya.

"Baca buku cerita, kak." Keyla menoleh, mencoba mengenali sosok asing yang tiba-tiba menyapanya.

"Boleh kakak duduk disampingmu?" dengan senyum yang manis Caca memohon agar diizinkan.

Keyla tak langsung merespon, awalnya dia takut, tapi sepertinya kakak itu tak bermaksud jahat.

"Boleh kak, silahkan."

"Buku cerita tentang apa dek?"

"Emm ... tentang apa ya" Keyla sedikit berfikir untuk merangkai kata "jadi, ada orang tua yang bercerita kepada anaknya tentang kisah Nabi Yusuf gitu kak."

"Jadi ada cerita di dalam cerita gitu ya?"

"Nah, iya kak." jawab Keyla sambil tertawa "coba deh kakak lihat, bukunya bagus." lanjut Keyla sambil menyerahkan bukunya.

Caca membaca sekilas, buku itu memang cocok untuk anak-anak karena bergambar jadi tak membosankan.

"Wah, bagus nih buat belajar, dicantumkan ayatnya juga di bawah." Caca terlihat antusias

"Mana kak?" Keysha mendekat karena baru sadar ada ayatnya.

"Nih ..." jawab Caca sambil menunjuk tulisan di bawah gambar " ada keterangan singkatnya, ayat 4, tentang Nabi Yusuf yang bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya.

"Wah, aku malah baru tahu kalau ada keteranganya."

"Sama siapa, dek?" Keyla yang baru selesai mengembalikan buku terkejut melihat ada yang mengajak ngobrol adeknya.

"Oh ... salam kenal, Kak. Nama saya Tasya, biasa dipanggil Caca." Caca buru-buru menyalami Keyla "tadi saya melihat adek ini sendiri, kasian, jadi saya temani, maaf, kak."

"Oh ... tak apa. Trimakasih ya, tadi saya tinggal cari buku soalnya."

"Karena sudah ada temanya saya tinggal ya, kak. Mau cari kakak saya, kepisah tadi."

"Dek, ngapain kamu disini, sudah dibilangin jangan bikin ulah malah pergi tak bilang." geram Dzakyy yang tadi bingung mencari Caca hingga tak sadar sosok yang di dekatnya. Baru hendak menarik tangan adiknya matanya menangkap sosok yang amat dia kenali. Sejenak mereka saling pandang, Keyla pun menyadari seperti mengenal pria itu. Dia mencoba merangkai bingkai memori masa lalu tapi tak kunjung ketemu.

"Maaf ya adikku bikin ulah." Dzakyy yang telah kembali menemukan kesadaranya segera segera minta maaf.

"Eh ... gak apa apa ko." Keyla sedikit terkejut

"Maaf ya, assalamualaikum." Dzakyy buru-buru menarik tangan Caca mengajaknya menjauh.

Keyla masih mematung, mencoba menemukan memori lamanya kembali.

"Kak, kok tak dijawab salamnya."

"Eh, iya waalaikumsalam"

"sudah pergi kali kak."

#Day7
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita




0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Dzakyy Arifin

Anak kecil, yang cinta buku dan ingin orang lain merasakan nikmatnya cinta itu dan insyaAllah suatu hari nanti bisa bikin taman baca untuk kita semua, generasi penerus bangsa

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (32)
    • ▼  Juni (11)
      • Bintang Sebagai Pelindung
      • Sedikit Kisah Alunan Musik
      • Di Kelembaban Usia
      • Adab Dalam Bercanda
      • Memilih Waktu yang Tepat untuk Menasihati Anak
      • Nikmatnya Bernapas
      • Energi Penghilang Rasa Lelah
      • Keindahan Warna
      • Pertemuan Singkat dengan Ibu
      • Duka Pemusnah Kecewa
      • Sepenggal Kisah Ramadhan
    • ►  Mei (13)
      • Hubungan antara Al-Qur’an dan Penyakit Alzheimer
      • Cerita Dua Batu
      • Pengingat Diri Ini
      • Bulan Merindukan Bintang
      • Tentang Kisah
      • Pertemuan
      • Menikmati Penghuni Langit
      • Pertemuan Singkat
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)

Label

#Cerbung #IniPanggungKita #PenaJuara #RamadhanBerkisah Artikel Buku Cerpen CerpenBukuHarianDoni kisahinspiratifFLP miladflp21 selfreminder

Instagram

Supscribe

Enter your email address:

Copyright © 2015 BeBrave

Created By ThemeXpose