Pages

  • Beranda
  • About Me
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Facebook Twitter Instagram Google+ Pinterest
BeBrave

Berani Bermimpi. Berani Berjuang

  • Home
  • Contact Me
  • Category
    • Artikel
    • Book
    • Cerpen
      • Buku Harian Doni
      • Ini Panggung Kita
    • Selfreminder


Penyakit Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progesif atau perlahan-lahan. Biasanya akan diawali dengan mudah lupa. Seiring perkembangan waktu, gejala akan meningkat. Penderita Alzheimer akan kesulitan melakukan perencanaan, kesulitan membuat keputusan, kerap terlihat bingung, bahkan terkadang tersesat di tempat yang tidak asing, serta mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah curiga, penuntut, dan agresif. Pada kasus yang parah, penderita penyakit Alzheimer bisa mengalami delusi dan halusinansi, serta tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.
Ada beberapa factor yang bisa meningkatkan resiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah gaya hidup yang tidak sehat, berjenis kelamin wanita, berusia di atas 65 tahun, memiliki orang tua atau saudara kandung yang sakit Alzheimer, memiliki riwayat penyakit jantung, dan pernah mengalami luka berat di kepala.
Dalam Islam sendiri, Alzheimer merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang menunjukan bahwa manusia itu lemah tanpa pertolongan dari-Nya. Seperti firman Allah Qur’an Surat An Nahl/16:70 “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” Yang dimaksud lemah adalah kelemahan yang tidak dapat kembali, berupa melemahnya indra, serta kemampuan berbicara dan berpikir yang dialami orang yang sudah tua.
Penyalit Alzheimer merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, akan tetapi perkembanganya dapat dicegah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyalit ini adalah dengan menjaga kesehatan jantung, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan sehat, rutin olahraga, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, berhenti merokok, menjaga otak agar tetap aktif bekerja. Untuk menjaga otak agar tetap aktif salah satunya adalah dengan menghafal Al-Qur’an dan mempelajarinya. Menghafal Al-Qur’an mampu meningkatkan kapasitas otak untuk berpikir dan memori. Ketika mempelajari Al-Qir’an dengan membaca, mendengarkan dan mengucapkannya, sebuah area di lobus temporal otak yang merupakan pusat konsolidasi memori akan terstimulasi, dan semakin sering area ini teraktivasi, maka kemampuan berpikir dan memori otak akan menjadi lebih baik dan efisien.

#Day15
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


“Kakak itu jorok banget.” Protes Caca selesai merapikan kamar Dzakyy.

“Kenapa? Ini kan kamarku.” Ketus Dzakyy yang sibuk dengan laptopnya.

“Kakak itu harus segera cari pendamping.” Sambil merebahkan badanya di Kasur.

“Memangnya kenapa?”

“Biar ada yang ngomelin kalau kamarnya kotor.” Jawab Caca sambil ketawa. Ruangan itu memang jarang terlihat rapi. Dzakyy terlalu sibuk dengan laptopnya, tak peduli dengan selimut yang belum dilipat, bantal yang tak pada tempatnya. Buku yang berserakan di Kasur, majalah yang jatuh ke lantai. Dzakyy hanya membereskan ketika mau tidur, itu pun hanya ditaruh sembarangan. Beruntung adik sepupunya itu perhatian. Hingga bersedia merapikan kamarnya.

“Kak, buku cerita anak dimana?” Tanya Caca memecah keheningan

“Laci bawah.” Jawabnya datar. Caca sudah paham dengan tabiat kakanya itu, jadi tak akan sakit hati dengan sikap dingin Dzakyy.

Caca segera beranjak, menggeledah isi laci dilemari samping tempat Dzakyy biasa menulis. Terdapat makalah, majalah, beberapa buku cerita karangan Dzakyy, juga lembaran-lembaran fotocopy materi yang Caca tak paham. Dia iseng menggeledah sampai bawah tumpukan-tumpukan tersebut hingga menemukan sesuatu yang asing. Sebuah kotak kecil dari kayu yang terukir indah. Caca mengambil satu buku cerita dan kotak kecil itu lalu segera menutupnya dan kembali beranjak ke Kasur. Dzakyy tetap sibuk dengan laptopnya, tak peduli.

Caca segera menaruh bukunya dan membuka kotak kecil itu. Wajahnya terlipat, di dalamnya ada sebutir batu safir dan sebutir batu kerikil dengan alas kain warna hitam.

“Apan ini Kak? Mau jadi dukun ya?” bentak Caca yang bungung dengan apa yang dia temukan.

“Apaan sih?” Dzakyy yang terkejut, menoleh. Termangu melihat kotak yang dibawa Caca, tapi tak butuh waktu lama dia menoleh lagi sibuk dengan laptopnya.

“Ini apa Kak?” kali ini Caca menghampirinya.

“Batu safir dan kerikil, apanya yang harus dijelasin?” ketus Dzakyy.

“Ya, buat apa?” Caca yang belum puas, terus bertanya.

“Katanya pernah baca buku ceritaku, coba baca lagi yang judulnya ‘Cerita Dua Batu’.”

Caca segera menggeledah laci bawah itu lagi, mengambil semua buku ceritanya, memeriksa judulnya.

“Tak ada kak yang judulnya gitu.” Sambil menaruh begitu saja buku-bukunya di lantai lalu mengeluarkan semua isi laci itu.

“Dicek lagi, kamu tadi bawa satu buku kan."

Caca baru ingat. Dia langsung melompat ke Kasur.

“Oh … iya kak, ada.” Caca langsung membukanya. Membacanya cepat. Suasana tegang itu mereda berganti hening sejenak.

Tak berapa lama, tiba-tiba Caca tertawa terpingkal-pingkal membuat Dzakyy bingung, termangu menatap tingkah adiknya itu.

“ternyata kakak menyimpan batu itu untuk sumber inspirasi cerita kakak tentang kisah dua batu itu ya” jelas Caca yang mesih terpingkal-pingkal “kirain itu jimat.”

“Batu safir itu pemberian kakek. Dari batu itu tercipta ide untuk membuat cerita tentang batu permata yang suka tebar pesona, karena manfaatnya hanya sebagai hiasan dan batu kerikil yang tak peduli dengan penilaian orang yang penting dia berguna, karena batu kerikil dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.” Jelas Dzakyy sambil memandangi tingkah adiknya yang menutup mulutnya meredakan tawa karena merasa bodoh telah mengira kakaknya mau jadi dukun.

“Oh … gitu” Caca tiba-tiba beranjak dari Kasur “aku ke kamar dulu ya kak.” Tanpa sempat dijawab sudah lari ke pintu.

“beresin dulu.” Teriak Dzakyy.

“beresin sendiri.” Jawab Caca yang sudah keluar kamar meninggalkan buku-buku dan lembaran berserakan karena ulahnya.

#Day14
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


Jika ditanya “buku apa yang telah dibaca berkali-kali tapi tidak bosan dengan isinya?” maka tanpa ragu, saya akan menjawab “bukunya Ustadz Salim A Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan.” Tentu sebuah pilihan itu bukan tanpa alasan. Buku ini disajikan dengan tutur kata yang indah, ciri khas Ustadz Salim yang sampai saat ini belum saya temukan pada penulis lain. Sebagai seorang pemuda, yang dilingkupi hawa nafsu yang tak menentu, kita (terutama saya) membutuhkan sesuatu untuk menjinakannya, atau sekedar sebagai pengingat agar kita tak melampaui batas dan terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan. Di sinilah salah satu kelebihan buku ini karena tergolong buku yang tidak tebal dan mudah untuk dipahami karena yang namanya pengingat tentu penyampaianya tak perlu mendetail, yang penting maksud dan tujuanya tersampaikan. Akan tetapi walau tergolong tipis, isi buku ini tak boleh di pandang sebelah mata karena ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil.

Buku ini ditulis atas dasar cita-cita yang luhur. Seperti yang tertuliskan di sampul, buku ini hadir, agar yang belum menikah menjalani penantiannya dengan kesucian nan gagah. Juga, agar yang sudah menikah menghadirkan saat-saat indah penuh barakah. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa saat ini aktifitas pacaran telah menjadi budaya di kalangan remaja. Maka sejatinya buku ini ditujukan untuk remaja dengan gaya bahasa yang indah menurut saya, misal Ustadz Salim mengistilahkan sifat-sifat remaja itu dengan kekanakan yang menajam dan kedewasaan yang menjanin. Di sini Ustadz Salim menyampaikan tentang psikologis perkembangan remaja dengan bahasa yang tidak membosankan. Bagi saya sendiri, membaca buku ini memaksa kita untuk menghadirkan hati bukan sekedar akal untuk memahaminya.

Selain itu, buku ini juga memberikan tuntunan agar kita sebagai seorang remaja mampu melewati masa itu dengan sukses. Di dalam penyampaianya Ustadz Salim juga menyertakan dalil, bukan hanya sekedar angan-angan belaka. Salah satu godaan bagi pemuda adalah cinta, maka dengan buku ini, Ustadz ingin mengajak kita untuk menyiapkan diri agar ketika waktunya tiba, kita mampu menyambutnya dengan suka cita dengan membedakan antara nafsu dan cinta. Juga akan disebutkan panduan praktis tentang sunah-sunah setelah nikah dan kiat-kiat menjaga hubungan agar tetap harmonis dan tak menyalahi aturan-Nya. Gaya penyampaian buku ini memang terkesan ditujukan untuk kalangan remaja, akan tetapi isi didalamnya juga cocok untuk orang tua yang sudah menikah, agar semakin giat memperbaiki diri juga mengajak yang dikasihi untuk menggapai surga-Nya.

“Surga ‘Adn yang mereka masuki bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istrinya, dan anak cucunya, sementara malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, sambil mengucapkan “Salaamun ‘alaikum bimaa shabartum.. keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian”, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar Ra’d 23-24)

#Day13
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


"Apa jadinya malam tanpa bintang,
Yang sinar rembulan tak kan cukup menghiasi sang malam.
Tak sadarkah betapa berharganya setitik cahaya,
Demi menghiasi hati yang gundah gulana,
Demi mengobati rindu yang merana.
Lantas kenapa bintang itu pergi,
Apa merasa tak pantas untuk bersanding lagi.
Atau telah ada sinar yang lebih berseri"

Keyla memotong selembar kertas yang telah ditulisnya itu. Berusaha serapi mungkin, untuk kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop, besok dia akan titipkan ke Caca bersama donat pesanannya.

Tok tok tok … terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Keyla mendongak melihat jam. Pukul sepuluh, siapa malam-malam begini mencarinya. Keyla beranjak menghampiri pintu.

“Keysha, ada apa?”

“Aku tak bisa tidur kak, boleh tidur bareng kakak?” pinta Keysha memelas.

“Yaudah masuk sini.”

Sambil menguap Keysha berjalan malas ke ranjang

“Lah … sudah ngantuk gitu kok tak bisa tidur?” Tanya Keyla yang melihat tingkah adiknya.

“Beneran kak, tak bisa tidur tadi.”

Keysha langsung naik ke ranjang, Keyla masih sibuk di meja belajarnya melanjutkan menulis novelnya.

“Kakak nulis apa?”

“Rahasia, sudah tidur sana.”

Kali ini Keysha tak banyak protes. Rasa kantuknya mengalahkan seleranya untuk bertanya.

***

“Yeyy … selesai. Kapan kak Caca kemari kak.” Keysha yang selesai memasukkan donat ke toples tak sabar menunggu Caca datang. Mereka memang baru kenal, tapi sepertinya langsung akrab.

“Assalamualaikum”

Yang ditunggu-tunggu pun datang.

“Suruh masuk dulu, La!” suruh Ibu yang masih sibuk dengan sotonya, hari ini ada pesanan dari tetangga, jadi Ibu buat soto lagi.

Keyla tanpa disuruh dua kali langsung beranjak membukakan pintu dan menyuruh Caca masuk.

“Sarapan dulu ya.” Ibu menawarinya setelah mereka bersalaman.

“Terimakasih Bu. Saya sudah sarapan. Maaf saya tak bisa lama-lama karena harus ke kampus untuk ujian seleksi masuk.”

“Kakak yang satunya mana, Kak?” Tanya Keysha yang telah berdiri di sasmpingnya membawa toples isi donat.

“Kak Dzakyy tak bisa ikut, dek.”

“Oh iya. Ini donatnya Kak.” Keysha menyerahkan dua tumpuk toples yang dari tadi sudah tak sabar ingin menyerahkanya.

“Wah, trimakasih ya dek.” Caca lantas mengambil dompet dan membayarnya

“Uangnya nanti saja, Ca. Kalau sudah terjual.” Timpal Keyla

“Sekarang saja kak. Biar saya tak punya hutang.” Jawab Caca sambil tersenyum.
Caca lantas berpamitan. Keyla dan Keysha mengantarnya sampai depan rumah.

“Ini titip untuk Kak Dzakyy ya.” Pinta Keyla sambil menyeragkan amplop kecil.

“Apa ini Kak.” Caca menatapnya bingung.

“Dibawa saja, nanti dia paham kok.”

“Baik kak.” Caca langsung memasukkannya ke dalam tas agar tak hilang.

“Kakak ngasih apa tadi.” Tanya Keysha yang menatapnya bingung.

“Rahasia.” Keyla langsung berlari ke dalam rumah.

“Tunggu, Kak….”

***

“Ayo, buruan Ca. Nanti kamu telat lo!” Dzakyy tak sabra menunggu adiknya. Berulang kali dia melihat jam tanganya.

“Maaf kak.” Caca langsung berlari menghampiri Dzakyy yang sudah siap di atas moronya.

Dzakyy langsung tancap gas. Seharusnya mereka sudah berangkat lima belas menit lalu.

“Kenapa kamu ambil donat saja lama banget. Dasar cewek.” Ketus Dzakyy

“Yee … aku tu harus berhenti berkali-kali demi melihat isi surat itu.”

“Buat apa? Tak penting juga kan?”

“Aku kan penasaran. Itu maksudnya gimana sih kak?”

“Rahasia … kamu kan sudah baca, buat apa aku jelasin.”

“Aku kan belum paham kak.”

“ya terserah.” Dzakyy terus tancap gas.

Ingin rasanya Caca timpuk dari belakang, tapi urung. Nanti kalau jatuh dia juga yang kena. Terkadang dia suka bingung dengan sikap kakak sepupunya itu. Terkadang dia amat perhatian tapi dilain waktu cueknya luar biasa.

#Day11
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share



“Donatnya enak ya kak?” tanya Caca yang menghampiri Dzakyy di teras.

“Ya donat seperti itu kan, rasanya.” Jawabnya datar

“Bilang aja enak, kemarin siapa coba yang ngabisin.”

“Siapa suruh kamu lama wawancaranya.”

Caca hanya manyun mendengar jawaban Dzakyy yang bahkan tak menoleh padanya

“Kakak nulis apa?” Caca menatap penasaran

“Artikel.”

“Kakak tak coba nulis novel?”

“Tentang apa?”

“Kisah kalian berdua?”

“Kalian siapa?”

“Dihh … sok tak paham lagi.”

Dzakyy tak menjawab, tetap asyik dengan laptopnya.

“Tak bisakah kakak sedikit cerita tentangnya?” pinta Caca.

“Tentang siapa?”

“Ayo lah kak. Sikapmu itu semakin menimbulkan enigma bagiku, kakak tahu sendiri kan aku paling tidak bisa menahan rasa penasaran.”

“Dihh … sok paham enigma.”

“Aku tahu dari id line kakak.” bilang Caca sambil cengengesan "kakak dapat ide kata itu dari mana?"

"Enigma Machine ... itu mesin penyandi buatan Jerman yang dipakai waktu Perang Dunia ke dua."

"Nah kan, kalau tentang yang lain mau jawab, kalau tentang dia ... ayolah kak, cerita sedikit saja?" dengan muka memelas Caca meminta.

Dzakyy menghela nafas, memberi jeda untuk merangkai kata.

"Kamu pernah melakukan perjalanan jauh?" Tanya Dzakyy dengan tatapan serius

"Emm ... iya, pernah."

"Dalam perjalanan itu pernahkah kamu temui tempat yang indah atau berkesan?"

"Iya ... ada."

"Begitulah." jelas Dzakyy sambil beranjak membawa laptopnya pergi ke dalam rumah

"Apanya yang begitulah ...  hei." Caca yang belum mengerti mencoba mengejar, tapi percuma, dia tak akan dapat penjelasan yang gamblang dari Dzakyy.

***

"Kakak kenal yang kemarin menolong kita?" tanya Keysha yang sedang menggambar di ruang tamu.

"Teman kakak dulu dek." jawab Keyla yang asyik membaca koran.

"Kok, kakak seperti tak ingat kemarin"

"Kita hampir tujuh tahun tak ketemu dek."

Hari ini mereka tak menjual donat. Sepulang dari jualan kemarin Keyla dimarahi Ibunya karena lalai menjaga adiknya, dan sekarang mereka dilarang main selama seminggu kedepan, padahal Keyla harus mengembalikan buku minggu ini yang dipinjamnya dari Perpus. Keysha yang sebelum jualan sangat semangat membicarakan kue dan donat, hari ini sama sekali tak terdengar kata itu, bahkan tak tertarik untuk jajan ketika ada penjual es krim lewat depan rumah. Ruangan itu menjadi sunyi, Keysha yang biasanya bicara banyak hal, cerita banyak hal, bahkan cerita yang sudah pernah dia ceritakan di ulang lagi, dan Keyla menjadi pendengar yang baik, hari ini kegaduhanya hilang. Keyla juga enggan membahas apapun.

"Assalamuallaikum, Tante." suara yang tak asing itu terdengar dari depan rumah. Keysla dan Keysha buru-buru keluar.

"Waalaikumsalam, dek. Cari siapa ya?" jawab Ibu Keyla yang duduk di teras menyelesaikan rajutanya.

"Kakak." Keysha yang melihat Caca langsung berlari memeluknya.

Ibu Keyla menatapnya bingung.

"Itu kemarin yang menolong kami, Bu." Keyla menjelaskan tanpa disuruh.

Mereka pun bersalaman bergantian.

"Ayo masuk."

"Maaf Bu, saya buru-buru, Saya hanya ingin mengembalikan ini." Caca menyerahkan toples kosong pada Ibu Keyla.

"Kemarin saya membeli setoples donatnya, Bu." jelas Caca yang melihat ekspresi bingung Ibu Keyla "rencananya saya mau jual di rumah, kalau masih ada boleh saya beli?"

"Maaf dek, hari ini kami tak buat." Keyla buru-buru menimpali melihat ekspresi Ibunya yang masih bingung. Mereka memang tak membicarakanya kemarin.

"Kalau begitu besok bisa minta tolong dibuatkan Kak, untuk dua toples saja, nanti saya ambil."

"Bisa, dek."

"Kakak sendiri?" Keysha yang berdiri di samping Caca bertanya setelah melihat sekelilingnya tak di temukan pemuda yang bersamanya kemarin.

"Iya dek, Kak Dzakyy lagi sibuk."

"Oh iya, nama kamu siapa?" Keyla yang ingat kemarin belum kenalan buru-buru bertanya.

"Tasya kak, tapi biasa di panggi Caca, sepertinya saya pernah menyebutkan nama saya ketika di Perpus Kak." jawab Caca sambil tertawa.

"Eh ... maaf saya lupa." Keyla ikut tertawa

"Ya sudah, saya pulang dulu ya." Caca berpamitan dengan mereka tanpa tahu bahwa esok dia akan menjadi kurir surat untuk kakaknya.

#Day10
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita


0
Share


“Jangan lari-lari dek.” Keyla mencoba memperingatkan Keysha. Ini hari pertama mereka jualan donat. Mereka mencoba menawarkanya ke warung dekat rumahnya, jadi mereka hanya berjalan kaki.

“Mau donat, Bu.”

“Maaf, tidak mbak, takutnya tak habis nanti.”

“Baik Bu.” Ini sudah lima warung yang didatangi Keyla dan baru terjual satu toples, itupun warung langganan Ibu, masih ada empat toples lagi.

Matahari semakin meninggi. Hangatnya udara pagi mulai berganti panas bercampur kepulan asap kendaraan. Keysha mulai terlihat bosan. Tak ada lagi tawa ceria darinya. Jalanya pun semakin lambat. Berkali-kali Keyla meneriaki agar tetap berjalan. Dia harus tetap semangat. Teriknya matahari bukan masalah, tapi omongan Ibu-ibu yang dilewatinya membuat hatinya gerah “sayang ya, lulus kuliah hanya jadi penjual donat” Keyla hanya bisa mempercepat langkahnya tapi Keysha mana tahu apa yang dirasakan kakaknya, dia tetap berjalan lambat. Tiba-tiba pandangan Keysha tertuju pada penjual es krim di seberang jalan.

“Kak, Keyla mau es krim.” Keysha berteriak sambil menunjuk ke seberang jalan. “tidak bisakah Keysha sedikit bersabar, kenapa disaat seperti ini harus minta jajan” gumam Keyla. Baru saja Keyla menoleh adikya sudah berlari menghampiri penjual es krim.

Tiin tiiiiin.

“Keyshaa” teriak Keyla yang melihat sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah selatan. Tanpa banyak fikir dia membuang toples isi donat yang dia bawa, langsung berlari menghampiri Keysha. Beruntung Keysha bisa berhenti sehingga memberi kesempatan pengendara motor itu untuk menghindarinya.

“Dasar bocah, mau mati ya.” Geram pengendara motor itu sambil memakirkan begitu saja di pinggir jalan.

Keyla langsung memeluk Keysha, wajahnya pucat, tangisnya tak tertahan lagi. Seketika banyak orang mengerumuni termasuk pengendara motor itu. Wajahnya garang, badanya besar, membuat siapapun menyingkir ketika dia lewat.
“Punya adik itu dijaga” bentak pengendara motor itu sambil menunjuk Keysha yang mendekap di pelukan kakaknya.

Keysha ingin sekali minta maaf tapi kata itu hanya sampai di kerongkongan, bibirnya bergetar tanpa suara. Tiba-tiba seorang pemuda muncul dari belakang.

“Maaf Pak, tadi kami lalai menjaganya.” Pemuda itu Dzakyy, tapi Keyla tak sempat memperhatikan, dia masih menagis sesenggukan.

“Kalau tadi saya tak sempat menghindar bagaimana?”

“Sekali lagi saya minta maaf ya Pak. Apakah ada kerusakan yang perlu saya ganti.”

“Lain kali kalau bawa anak kecil itu jaga baik-baik.” Pengendara motor itu langsung berbalik meninggalkan mereka. Satu-persatu warga yang mengerumuni berangsur pergi, Caca yang dari tadi menunggu di belakang bisa mendekat

“Kakak tidak apa-apa kan?” Caca muncul dari belakang membawa toples dan donat yang masih bisa diselamatkan.

“Tak apa-apa dek.” Keyla berangsur tenang, dia mengusap wajahnya.

“Ini punya kakak?” Caca memperlihatkan toples isi donat sambil duduk di sampingnya.

“Ohh … iya, trimakasih dek.”

“Itu dijual?” Tanya Dzakyy yang juga ikut duduk di sampingnya.

“Ehh… iya, dijual.” Keyla agak kaget

“Beli ya kak Dzakyy, siapa tahu di sana lama, bisa buat pengganjal perut dah.” Pinta Caca
“Di bungkus pakai apa?”

“Bawa saja sama toplesnya, ga usah beli.” Keyla menimpali.

“Ca, bawa saja yang paling banyak isinya, yang tiga kembalikan ke kak Keyla, bayarnya pakai uangmu dulu.” Suruh Dzakyy

“Kok kamu tahu nama saya?” Tanya Keyla bingung sambil menap Dzakyy yang terpaku dengan pertanyaan itu “Kamu Dzakyy ya? Kenapa tak bilang waktu kemarin ketemu?”

Dzakyy hanya menggaruk kepala.

Keysha mulai tenang, tangisnya reda. Menoleh ke selilingnya, mendapati Caca dan Dzakyy

“Kakak yang kemarin ketemu di Perpus kan?” Tanya Keyla pada Caca.

“Iya, dek. Adek gak ada yang sakit kan?”

“Tidak kak, cuman takut tadi.” Wajahnya masih pucat

Dzakyy tiba-tiba berdiri “maaf ya, kita tak bisa lama-lama.” Dia mengambil HP dari sakunya, mencari kontak seseorang.

Kringgg … tepat ketika Keyla berdiri HPnya berbunyi.

“Itu nomorku. Tolong nanti kirimi alamtmu biar aku bisa mengembalikan toplesnya.” Pinta Dzakyy.

Keyla hanya mematung. “bagaimana dia bisa tahu nomornya?” belum sempat dia bertanya Dzakyy sudah pergi.
“ini kak.” Caca menyerahkan tiga toples pada Keyla “dan ini uangnya” dia menaruhnya di atas tumpukan toples dan buru-buru pergi menghampiri Dzakyy yang sudah siap dengan motornya.

“Assalamualaikum.” Motor itu melaju tanpa Keyla sempat bertanya.

“Kok tak dijawab kak? Tanya Keysha

“ehh … iya, waalaikumsalam.”

“sudah jauh kali kak.”


#Day9
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
1
Share


Bintang-gemintang bertebaran bagai kelereng yang disebar. Berkilauan menghiasi gelapnya malam. Tak tertinggal bulan sebagai permata yang memikat, dengan sinar lembutnya yang tak kan silau sampai lelah memandang. Gadis itu tampak kehilangan keceriaanya, dan bulan sebagai pelampiasan. Sudah dua jam dia tak beranjak dari kursi di teras rumah sederhana itu. Bu Karlina sudah lima kali keluar masuk membujuknya agar mau kedalam, tapi gadis itu hanya menjawab singkat "Caca masih mau disini, Bu." dengan senyum yang jelas sangat dipaksakan.

"Dzakyy, bujuk Caca ke dalam, kasihan diluar dingin." Suruh Bu Karlina sambil mengetuk pintu kamar Dzakyy.

"Kasih saja selimut, Bu." Jawab Dzakyy yang masih asyik menulis artikel. Baru juga dapat dua paragraf, jika dia tinggalkan, bisa-bisa idenya lari tak tersisa.

"Dzakyy ...." Bu Karlina bersungut-sungut tak peduli dengan kesibukan anaknya itu.

"Iya, Bu." Dengan malas Dzakyy beranjak keluar, berharap idenya tak segera hilang.

"Buruan." Ibunya yang menunggu di depan pintu membentaknya begitu pintu dibuka.

Dzakyy tak menjawab, hanya melewatinya sambil melempar senyum.

Dinginya angin malam segera menusuk tulang begitu Dzakyy keluar. Gadis itu tetap tak bergeming. Pandanganya tak teralihkan. Malam ini memang indah, bagi mereka yang menyukai pesona malam. Dzakyy, segera membawa kursi dan duduk di sampingnya.

"Kapan ujian." Dzakyy ikut mendongak, berusaha menyatukan pandangan tanpa bertatapan.

"Nanti nunggu pemberitahuan, Kak." Caca menjawabnya tanpa menoleh.

Suasana lengang sejenak, Dzakyy butuh waktu untuk merangkai kata, dia tak bisa seenaknya bicara seperti halnya ketika hati Caca sedang baik.

"Pernahkah membayangkan betapa menakjubkanya penghuni langit." Kali ini Caca menoleh, bukan karena lelah, tapi dia butuh penjelasan dari yang diucapkan Kakaknya itu.

"Bahkan pada gelapnya malam yang terkadang membuat orang takut" Dzakyy berhenti sejenak, pandanganya tak teralihkan "ada hal menakjubkan yang tak bisa kita nikmati pada terangnya siang."

Caca kembali mendongak. Dia paham apa yang dimaksud kakaknya.

"Suatu hari nanti, kita akan terbang kesana. Iya, kan kak?"

"Iya."

"Aku takut mereka tak menyambutku dengan baik." Kali ini Dzakyy menoleh mendengar ucapan Caca. Dia bahkan tak berfikir sejauh itu. Terlihat butir kristal keluar dari sela-sela mata indahnya.

"Aku baca buku kakak ... mungkin aku dulu selalu benci, ketika kakak menitipkan buku cerita pada Ayah." butiran kristal itu perlahan menggelayuti pipinya

"kenapa bukan kue, atau permen, anak kecil kan suka permen, tapi apa yang kakak berikan." kali ini dia tertunduk, membiarkan butiran kristal cair itu menetes, jatuh.

"Itu, karena ibumu." Dzakyy tetap mendongak menikmati dekapan sinar rembulan, mungkin memang tak sehangat sinar mentari, tapi ketenangan hati mampu mengusir dinginya angin malam.

Caca menoleh meminta penjelasan.

"Dari semua saudara Ibu. Ibumu yang paling dekat dan perhatian. Dia tahu aku sejak dulu suka menggambar, menulis. Beliau juga sering membacakan cerita, walaupun kebanyakan ceritanya aku tak paham. Dzakyy tersenyum mengenang cerita itu Ibumu paling suka budaya. Setiap ada pagelaran kebudayaan pasti Ibumu datang, dan aku menjadi teman setianya. Ayahmu sering keluar kota semenjak Ibumu mengandung. Katanya untuk bekal membiayai persalinan dan biaya hidup. Dzakyy menghela nafas. Rasanya berat menceritakan itu semua. Bukan karena dia tak ingat, dia bahkan tak bias melupakanya.
Lanjutkan, Kak? Caca memelas

Dzakyy menatap lamat-lamat adik sepupunya itu. Kebanyakan orang yang mengenalnya hanya akan tahu dia yang periang tanpa mengetahui beban di balik tawanya.

Dzakyy menghela nafas berusaha mengumpulkan tenaga. Ini bukan hanya menyangkut dia dan tantenya, tapi juga tentang seorang anak yang ditinggal Ibunya.

Waktu itu Ibumu mengandung empat bulan. Kita masih tinggal di desa. Ada tetangga desa yang mengundang dalang untuk menunjukkan pagelaran wayang. Sejak pagi tak ada yang dibahas selain wayang, Aku sampai bosan mendengarnya. Pertunjukan dimulai malam hari. Sejak sore Ibumu telah bersiap-siap. Aku enggan untuk berangkat, maka sore itu Aku merengek minta tinggal di rumah, tapi Ibumu memaksa. Hingga malam akhirnya Aku mengalah, karena Ibumu berjanji membelikan mainan. Waktu ingin berangkat, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Ibumu tak menyerah, tetap memaksa berangkat, tapi ditentang seluruh penghuni rumah. Akhirnya Ibumu hanya mengurung diri di dalam kamar selama seminggu. Sejak saat itu semangat hidupnya berkurang. Di desa memang jarang ada pertunjukan. Andai waktu bisa terulang Caca menggengam tangan Dzakyy sebelum sempat melanjutkan. Caca tak menoleh, pandanganya tertuju ke langit.

Kamu boleh membenciku, dek. Kakakmu ini yang telah merenggut semangat Ibumu. Dzakyy menunduk pasrah setelah apa yang diceritakanya.

Caca tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya. Aku selalu membencimu, kak. Kakak yang selalu jail, kakak yang selalu bikin Caca nangis, tapi terkadang, yang paling dibenci itu yang susah dilupakan. Kali ini tak ada air mata yang keluar, hanya senyum simpul yang menghiasi wajahnya. Apa yang kakak peroleh dari Ibu?

Ibumu selalu bilang, kebudayaan di Nusantara itu indah Dzakyy, jika kamu mau mempelajarinya satu saja, InsyaAllah kamu akan peka terhadap sekitarmu karena budaya itu mengajarkan kelembutan. Dzakyy menghela nafas mungkin tak semua orang memiliki sudut pandang yang istimewa seperti Ibumu. Selama ini aku mencoba menghargai keragaman budaya, dan itu mengajari tentang toleransi.

Semilir angin malam mulai terasa, Dzakyy mulai khawati adiknya nanti sakit.

Kakak ada lomba bikin essay tentang Keberagaman Budaya Nusantara, pemenangnya akan dapat beasiswa pelatihan jurnalis selama tiga hari, mau ikut tak? Lumayan buat ngisi waktu luang sebelum kuliah, jadwalnya sudah aku pastikan sebelum kuliah dimulai kok”

Caca bangkit dari sandaranya Boleh, kak. Wajah cerahnya telah kembali.

Oke, besuk aku ajari, sekarang istirahat dulu ya.

#Day8
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


Kring … kring
Bunyi telepon itu memecah keheningan, memenuhi ruangan yang tak seberapa besar. Suaranya tak lantang, tapi cukup untuk membangunkan penghuninya yang tertidur di meja belajarnya dengan laptop yang masih menyala. Malas dia meraih telepon di dekatnya sambil mengusap mata. Agak terkejut ketika melihat nama penelponya. Dia menaruh teleponya kembali, tak peduli HP nya masih berdering. Pukul berapa sekarang. Dia menengok jam di laptopnya. Hebat … jam sebelas. Padahal ada satu artikel lagi yang harus dikirim pada hari ini. Dia mengusap kepalanya, mencoba mengembalikan seluruh kesadaranya dan mengusir kantuknya. Agak kualahan juga menulis delapan artikel sedang dia juga sibuk bekerja. Dia beranjak ingin mencari sesuatu di dapur. Baru membalikan badan HPnya kembali berdering. Terpaksa dia mengangkatnya jika tidak semalaman HP nya tidak akan berhenti bordering. Dia tahu betul siapa yang menelpon, jika tidak diangkat dia tak akan menyerah, bahkan bisa-bisa dia menelpon Ibunya.

“Kak Dzakyy ….” Teriakan itu memekikan telinga. Bahkan Dia harus menjauhan tekepon dari telinganya.

“Kenapa Kak Dzakyy tak angkat teleponku?”

“Tidur tadi, Dek.” Dengan santai dia menjawab sambil melangkah keluar menuju dapur.

“Hmm ….” Terdengar sedikit kekecewaan dan rasa bersalah dari jawaban singkat itu.

“Kenapa, Dek?” Dzakyy yang menyadarinya segera bertanya.

“Aku ganggu ya, Kak. Aku lupa kalalu Kakak sibuk, pasti capek ya?”

Suasana lengang sejenak. Dia sadar. Seharusnya Dia langsung mengangkat telponya tadi.

“Kakak seharusnya berterima kasih sama kamu.”

“Lah … kenapa, Kak?”

“Gara-gara kamu, Kakak jadi terbangun. Ada artikel yang harus dikirim hari ini, tapi tadi malah ketiduran, untung kamu bangunin.”

Jawaban itu membuat gelak tawa di seberang sana. Tak henti-hentinya Dia memuji dirinya. “Aku tu memang yang paling mengeti Kakak.” Gadis di seberang sana memang periang, tapi juga perasa. “Besok kalau Kakak nikah harus minta izin dulu sama saya. Aku harus tahu siapa dia, bisa gak ngertiin, Kakak.”
Dzakyy hanya tersenyum, setidaknya dia tak membuatnya kecewa.

“Kapan Kakak libur?”

“Besuk.”

“Serius nii?”

“Iyaa.” Dzakyy menjawab gemas sambil mengaduk kopi. Sebenarnya obrolanya dengan adik sepupunya itu sudah cukup menghilangkan kantuknya.

“Aku besuk main ya, Kak?”

“Terserah deh.”

“Yeiii … love you, Kak.”

Dzakyy menutup telponya. Masih ada yang harus dia kerjakan sebelum pengganggunya datang. Besok-besok mana bisa dia menulis tanpa gangguan, bisa-bisa satu artikel saja tak selesai.

***
“Main ke Perpus yuk, Kak?” Keysha yang bosen dengan buku gambarnya menghampiri Keyla yang asyik menulis di teras.

“Sudah selesai gambarnya?” Keyla hanya menatap sekilas adiknya yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

“Bosen, Kak.”

“Ajak main adekmu itu, Nduk. Kamu itu ga siang ga malem di depan laptop mulu kerjaanya.” Ibunya yang sedang merajut di pojok teras menimpali.

Keyla menghembuskan nafas mendengar perintah Ibunya. Hari ini Ibunya tak jualan soto, penjualan kemarin mengecewakan karena taka da siswa yang beli, jadi sekarang mencoba peruntungan baru dengan merajut tas selama libur semester.

“Ibu tak jualan kue saja, nanti Keyla bantu.”

“Memangnya kamu bisa?”

“Sedikit sih, Bu. Dulu pernah buat sama temen.”

“Kalau gitu kamu sekalian beli bahan sambil temani Keysha main.” Ibu beranja ingin mengambil uang.

“Ibu mau kemana?” Keyla yang menyadari Ibunya hendak masuk rumah bertanya.

“Mau ambil uang, buat beli bahan.”

“Keyla ada kok, Bu. Pakai uang Keyla saja.”

“Lah duit dari mana kamu?” Ibunya mengernyitkan dahi, bingung. Anaknya kan belum kerja.

“Kak Keyla dapet uang dari nulis, Bu.” Keysha buru-buru menimpali. Dia tahu karena kakaknya itu sering cerita.

“Memangnya menulis bisa dapet uang?” ibunya masih bingung.

“Bisa, Bu.” Keyla segera mematikan laptopnya.

“Ayo Keysha, siap-siap.”

“Nanti kita bikin kue, Kak?” Keysha yang mendengar kata kue langsung gembira.
“Iya sayang, makanya buruan ganti baju sana.”

“Siap, Kak.” Keysha langsung lari ke dalam rumah.

***

“Wah lihat siapa yang datang.” Bu Karlina, Ibu Dzakyy terkejut kedatangan tamu.

“Kamu sendiri, sayang?” sambil mengusap kepalanya Bu Karlina bertanya.

“Iya, Bu. Ayah kerja, tak bisa mengantar.”

“Ayo masuk, kita sedang sarapan.”

Gadis itu menurut. Berjalan mendekati meja makan. Salaman dengan Pak Aga, Ayah Dzakyy juga salaman dengan Dzakyy.

“Sarapan dulu, belum sarapan, kan?” Pak Aga menawari.

“Sudah, Om.” Gadis itu hanya menunduk.

"Belum. Mana sempat kamu sarapan, pasti Ayah kamu juga belum sempat menyiapkan sarapan." Dzakyy menimpali, sambil tetap asik makan.

Bu Karlina segera mengambilkan tanpa disuruh "Ayo, duduk Caca, Ibu ambilkan."

"Trimakasih Bu."

"Kenapa kamu tak beri kabar, kan biar Dzakyy jemput." Tanya Bu Karlina sambil menyerahkan piring lengkap dengan nasi dan lauknya.

"Aku sudah beri kabar kak Dzakyy tadi malam, Bu."

"Lah ... Kenapa ku tak jemput Caca, Dzakyy?"

"Dia tak minta, Bu."

"Kamu itu tak perhatian sama perempuan."

Caca hanya menutup mulut menahan tawa.

***

"Kakak cari apa? Dari tadi hanya muter-muter mulu?" Keysha bersungut-sungut lelah mengikuti kakaknya keliling perpustakaan

"Lah ... Tadi kan kamu yang ngajak main ke perpus?" Keyla masih asyik memilih buku di rak.

"Aku pengenya main di bawah, bosen di sini, bukunya pasti tak boleh di corat-coret."

"Ya tak boleh lah, kakak sedang cari resep buat bikin kue, kan nanti kalau kuenya enak kamu juga yang suka."

"Lah ... Katanya tadi kakak bisa."

"Kan kakak dulu cuman coba-coba."

Pandangan Keysha berkeliling mencari sesuatu yang menarik, Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu di pojok perpus, kebetulan ada bental duduk disitu.

"Aku tunggu di sana ya, kak." Keysha menunjuk ke pojok perpus.

"Iya, jangan pergi jauh lo ya."

Keysha langsung berlari sebelum ada yglang pakai.

***

"Sebenarnya Caca ingin mendaftar kuliah di kampus dekat sini, Bu." Caca dan Bu Kartika sedang santai ngobrol di teras.

"Oh... Kalau begitu kamu tinggal di sini aja."

"Tapi nanti merepotkan, Bu." Caca memang biasa memanggil ibu Kartika dengan sebutan Ibu. Ibu Caca sudah meninggal waktu melahirkan Caca, dulu yang merawat waktu kecil Bu Kartika. Jadi Caca biasa memanggil dengan sebutan Ibu.

"Tak apa, anggap saja rumah sendiri, tak usah sungkan, kan juga ada kamar kosong."

"Trimakasih, Bu."

"Oh iya ... Kapan kamu mau daftar?"

"Hari ini rencananya, Bu."

"Oh... Kalau begitu segera berangkat saja, nanti kesiangan." Bu kartika beranjak bersamaan Dzakyy yang keluar rumah. "Mau kemana kamu?"

"Mau main bu."

"Main, mulu. Anterin adek kamu ini. Mau daftr kuliah dia."

Dzakyh hanya mematap caca yang menutup mulut menahan tawa.

"Mulai hari ini dia tinggal disini." Ibunya menambahi

"Tapi kan..." Dzakyy menepuk dahi "ya sudah buaruan siap-siap, kita ke perpus dulu."

Tanpa disuruh dua kali Caca langsung masuk mengbil tasnya.

***

"Ni buku cerita." Keyla menghampiri Keysha sambil menyerahkan buku kecil bergambar.

"Kapan main di bawah." Keysha memelas

"Nanti ya, ada buku yang belum ketemu." Keyla ikut duduk disamping Keysha dan mulai membuka buku-buku yang di ambilnya.

"Katanya ada yang belum ketemu, kenapa malah duduk." Tanya keysha sambil membuka buku ceritanya.

"Capek tahu. Kakak mau memilih bukunya dulu, kan tak mungkin dipinjam semua." Jawab keyla sambil membuka bukunya satu-satu.

Suasana lengang sejenak, mereka sibuk dengan bukunya masing-masing.

"Memangnya kakak hafal dimana letak semua buku itu?" Tanya keysha yang bingung melihat kakaknya membawa banyak buku.

"Hafal, kan bukunya ada jenisnya." Tanpa menoleh keyla menjawab. Dia membuka bukunya dengan cepat, melihat hal yang sekiranya penting, seperti daftar isi, membaca sekilas di awal bab. Tak butuh waktu lama untuk menyeleksi bukunya.

"Kakak kembaliin bukunya dulu ya."

"Lah cepat amat kak, milihnya."

Tanpa menjawab keyla beranjak membawa buku-bukunya dan hanya tersisa dua yang ditinggalkan dekat Keysha.

***

"Kita tak lama kan?"

"Tidak, kalau kamu tak bikin ulah."

Dzakyy berjalan cepat menuju koleksi buku umum. Caca menhikuti di belakangnya.

"Jangan cepat-cepat, capek tahu." Caca mencoba protes.

"Lah, tadi kamu yang bilang tak boleh lama-lama."

"Aku tak bilang gitu."

"Terserah."

ingin rasanya Caca memukulnya mendengar jawaban itu, tapi urung. Caca suka bingung dengan kakak sepupunya itu. Terkadang dia bisa amat lembut tapi di lain waktu dia begitu dingin. Caca masih terus membuntuti Dzakyy, hingga pandanganya teralihkan oleh seorang anak yang sedang asyik membaca buku di pojok ruangan itu. Dia segera menghampirinya tanpa sepengetahuan Dzakyy, yang di buntutinya masih nyelonong entah kemana.

"Baca apa, dek?" Caca membuka percakapan, berharap anak kecil itu tidak takut padanya.

"Baca buku cerita, kak." Keyla menoleh, mencoba mengenali sosok asing yang tiba-tiba menyapanya.

"Boleh kakak duduk disampingmu?" dengan senyum yang manis Caca memohon agar diizinkan.

Keyla tak langsung merespon, awalnya dia takut, tapi sepertinya kakak itu tak bermaksud jahat.

"Boleh kak, silahkan."

"Buku cerita tentang apa dek?"

"Emm ... tentang apa ya" Keyla sedikit berfikir untuk merangkai kata "jadi, ada orang tua yang bercerita kepada anaknya tentang kisah Nabi Yusuf gitu kak."

"Jadi ada cerita di dalam cerita gitu ya?"

"Nah, iya kak." jawab Keyla sambil tertawa "coba deh kakak lihat, bukunya bagus." lanjut Keyla sambil menyerahkan bukunya.

Caca membaca sekilas, buku itu memang cocok untuk anak-anak karena bergambar jadi tak membosankan.

"Wah, bagus nih buat belajar, dicantumkan ayatnya juga di bawah." Caca terlihat antusias

"Mana kak?" Keysha mendekat karena baru sadar ada ayatnya.

"Nih ..." jawab Caca sambil menunjuk tulisan di bawah gambar " ada keterangan singkatnya, ayat 4, tentang Nabi Yusuf yang bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan yang bersujud kepadanya.

"Wah, aku malah baru tahu kalau ada keteranganya."

"Sama siapa, dek?" Keyla yang baru selesai mengembalikan buku terkejut melihat ada yang mengajak ngobrol adeknya.

"Oh ... salam kenal, Kak. Nama saya Tasya, biasa dipanggil Caca." Caca buru-buru menyalami Keyla "tadi saya melihat adek ini sendiri, kasian, jadi saya temani, maaf, kak."

"Oh ... tak apa. Trimakasih ya, tadi saya tinggal cari buku soalnya."

"Karena sudah ada temanya saya tinggal ya, kak. Mau cari kakak saya, kepisah tadi."

"Dek, ngapain kamu disini, sudah dibilangin jangan bikin ulah malah pergi tak bilang." geram Dzakyy yang tadi bingung mencari Caca hingga tak sadar sosok yang di dekatnya. Baru hendak menarik tangan adiknya matanya menangkap sosok yang amat dia kenali. Sejenak mereka saling pandang, Keyla pun menyadari seperti mengenal pria itu. Dia mencoba merangkai bingkai memori masa lalu tapi tak kunjung ketemu.

"Maaf ya adikku bikin ulah." Dzakyy yang telah kembali menemukan kesadaranya segera segera minta maaf.

"Eh ... gak apa apa ko." Keyla sedikit terkejut

"Maaf ya, assalamualaikum." Dzakyy buru-buru menarik tangan Caca mengajaknya menjauh.

Keyla masih mematung, mencoba menemukan memori lamanya kembali.

"Kak, kok tak dijawab salamnya."

"Eh, iya waalaikumsalam"

"sudah pergi kali kak."

#Day7
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita




0
Share


Hangatnya sinar mentari menyambut pagi yang cerah. Secerah wajah Keyla yang amat bersemangat menyambut hari ini. Ibu Keyla berkali-kali menggelengkan kepala melihat anaknya.

“Tumben, bangun pagi sudah bersih-bersih rumah, nduk?”

“lha … biasanya Keyla juga bangun pagi kan, Bu ?”

“Tapi juga tak sepagi ini, ibu bangun … piring-piring sudah bersih, lantainya juga dipel, kemarin saja harus diteriaki baru keluar kamar.”

Aroma khas soto menjadi peneman obrolan mereka. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi Ibu memasak soto dibantu Keyla ketika senggang. Bagi Keyla soto buatan Ibu yang paling enak. Tiap hari tak ganti menu pun tak masalah. Waktu kuliah Keyla sering bawa bekal soto buatan Ibu. Sering teman-temanya heran, suka banget bawa soto, padahal tiap beli makanan sama teman-temanya selalu menghindari soto. “Ini soto yang dibuat dengan penuh cinta” temanya hanya geleng-geleng mendengar penjelasan Keyla. Hari ini sekolah di dekat rumah Keyla libur semester jadi soto yang dibuat ibu tak banyak karena pasti pembelinya juga berkurang.

“Assalamualaikum.” Terdengar suara anak kecil dari luar rumah.

“Siapa itu, nduk? Coba kamu bukakan pintu!” suruh Ibu yang sibuk mengaduk soto.

“Baik, Bu.” Keyla yang sedang menggoreng tempe buru-buru mematikan kompor, bergegas keruang tamu. Suara itu tak asing bagi Keyla.

“Masya Allah. Waalaikumsalam dek.” Dugaan Keyla benar. Begitu pintu terbuka malaikat kecil menyambutnya di depan pintu dengan senyum polosnya yang membuat Keyla tak tahan untuk tak memeluknya. Di belakangnya berdiri Ibu anak itu dengan senyum yang hangat.

“Tante kenapa tak bilang mau kesini?” selepas berpelukan Keyla bertanya. Setelah kejutan e-mail yang masuk tadi malam, sekarang datang lagi kejutan baru.

“Kata Keysha tak boleh bilang, biar jadi kejutan buat kak Keyla.”

“Wah kecil-kecil sudah pintar bikin kejutan buat kakak ya?” Keyla mencubit gemas pipi Keysha, yang dicubit hanya tertawa menjadikan wajah bundarnya tambah lucu.

“Siapa itu, nduk?” Tanya Ibu yang muncul dari balik pintu dapur.

“Tante Tasya, Bu.”

“Masya Allah, kenapa tak beri kabar mau kesini?”

Selepas melepas rindu mereka masuk ke rumah. Keysha langsung meloncat ke sofa mencari tempat duduk yang nyaman.

“Jangan gitu dek, yang sopan!”

“Tak apa, anggap saja rumah sendiri.”

Tak berapa lama Keyla muncul dari dapur membawa teh hangat dan roti.

“Maaf tante, seadanya.” Dengan sopan Keyla menawarkan minum dan makanan yang ia bawa.

“Iya, kalau perlu di keluarin semuanya.” Dengan nada bercanda tante Tasya menjawab yang membuat ruang tamu itu dipenuhi gelak tawa. Adik Ibu yang paling bungsu itu memang sukanya bercanda. Keyla langsung mengambil posisi di dekat Keysha.

“Kakak punya teka-teki silang. Keysha mau main ga?”

“boleh kak.” Keysha mengangguk antusias

Tak berapa lama Keyla keluar dari kamar membawa banyak surat kabar. Teka-teki silang itu memang di surat kabar.

“Lha … kamu jualan koran, La?”

Keyla hanya senyum sedang ibunya yang menimpali.

“Dia sedang cari pekerjaan, Sya.”

“Lewat koran?” tante Tasya mengernyitkan dahi “sekarang kan banyak media online yang bikin jasa iklan lowongan pekerjaan.”

“tak tahu itu, masih suka cara lama.”

Keyla ingin menepuk dahi mendengar jawaban Ibunya, tapi urung. Sebenarnya Keyla tak mencari lowongan pekerjaan di koran, ia hanya mencari apakah cerpenya dimuat di koran, itu saja, tak lebih.

Dengan cekatan Keysha membuka lembaran koran itu. Anak perempuan berusia sepuluh tahun itu memang suka teka-teki silang sejak kelas dua. Waktu itu Keyla setiap mampir ke rumahnya selalu membawa teka-teki silang, yang kebetulan rumah Keysha tak jauh dari kampus Keyla. Sejak saat itu Keysha menjadi dekat dengan Keyla.

"Mbak masih ingin Keyla kerja kantoran?" sayup-sayup obrolan mereka didengar Keyla yang asyik mengajari Keysha. Berkali-kali Keysha bertanya, "nomor 1 mendatar apa kak?, nomor 2 menurun?" Teka-teki ini memang tak cocok untuk seumuran Keysha, tapi Keysha tetap penasaran walau akhirnya yang menjawab semua Keyla.

"Tak semua orang suka kerja di kantor kan, Mbak? Biarkan Keyla menekuni kesukaanya?" jarak Keyla dengan Tante dan Ibunya memang tak jauh, hanya terpisahkan oleh meja kecil berukuran satu setengah meter. Keyla sadar bahwa dia tak seharusnya mendengar itu, percakapan itu bukan untuknya, maka buru-buru dia mengalihkan perhatianya pada si kecil yang ada di pangkuanya. 

"Kak nomor 12 menurun apa?"

"Pertanyaanya?"

"Serasa penuh sesak, enam huruf?" Keysha mendongak. Bulatan mata bundar itu terlihat menggemaskan.

"Emm ... pengap mungkin."

"Terakhir kak, nomor 13 mendatar lima huruf akhiranya 'p'. Pertanyaanya 'peluk'."

Sejenak Keyla terpaku, ada yang menusuk qolbunya. Benar. Mungkin itu hatinya sempit. Kapan terakhir kali dia memeluk Ibunya dengan tulus. Wisuda ... tidak, dia yakin waktu itu hatinya melayang entah kemana. Kebahagiaan waktu itu hanya dirasakan orang tuanya bukan dia.

"Apa, kak?" Keysha tak sabar meminta jawaban.

"Ehh ... iya dek, apa tadi?"

"Peluk, kak?"

"Emm ... lima huruf ya." sejenak berfikir, juga mengulur waktu membalikkan kesadaranya "dekap, mungkin."

"Yeiii, selesai." Keysha berteriak sambil mengangkat lembaran koran TTS itu, seolah dia yang mengerjakannya. Keyla ikut tertawa, bahagianya Keysha juga bahagianya dia. Tante Tasya dan Ibu Keyla juga ikut tertawa walau awalnya terkejut.

"Memangnya 'dekap' itu sama dengan 'peluk' ya, kak?" Keysha yang telah mengubah posisi bertanya. Tadi duduk sekarang tiduran masih bersandar di pangkuan kakaknya. Biasanya setelah itu Keyla meminta dibacakan cerita.

"Iya, kamu baru tahu 'dekap' itu sama dengan 'peluk'?"

Keysha hanya mengangguk dipangkuanya.

"Kak, bacain cerita dong!"

Keyla sudah hafal dengan kebiasaan adiknya itu, jadi dia sudah menyiapkan cerita di koran yang dia sisihkan sambil mengajari Keysha tadi.

"Dengar baik-baik ya, ini mengisahkan seekor kelinci yang ingin bisa terbang." Keysha mengangguk penuh antusias "Di dalam hutan, ada seekor kelinci yang ingin sekali bisa terbang ...." Keyla memulai cerita dengan semangat. Gaya cerita Keyla sebenarnya tak membosankan. Mimik muka dan gerakan tanganya sesuai dengan apa yang diceritakan, hanya saja kebiasaan Keysha, ketika dibacakan cerita pasti tertidur sebelum cerita selesai. Tak butuh waktu lama Keyla bercerita, hanya sekitar lima belas menit Keysha sudah tertidur.

"Waduh maafkan Keysha ya, La. Dia jadi merepotkan." Tante Tasya yang baru selesai berbincang dengan Ibu menyadari anak semata wayangnya telah lelap tertidur di pangkuan Keyla.

"Mbak sepertinya sudah pantas dapat cucu lagi."

"Cucu dari Abangku." Keyla buru-buru menimpali. Bukan karena dia tak siap, hanya dia sedang menunggu seseorang. Ruangan itu kembali dihiasi gelak tawa.

"Mbak, saya titip Keysha untuk beberapa hari ya. Dia kangen kakaknya yang paling cantik itu katanya."

Terlepas dari sifat Tante Tasya yang suka blak-blak-an, Keyla selalu nyaman dan terhibur ketika dekat tantenya itu.

Tak berapa lama Tante Tasya izin pamit setelah mencium kening Keysha, untuk kemudian bersalaman dan berpelukan pada Keyla dan Ibu. "Titip salam buat mas Akbar ya." Mas Akbar, Ayahnya Keyla memang jarang di rumah. Dia sedang ada proyek bangunan di luar kota.

"Bu ... boleh tidak Keyla peluk Ibu?" Ragu-ragu Keyla bertanya sambil menunduk tak berani melihat Ibunya. Mereka masih di depan pintu selepas mengantar Tante Tasya pulang.

Tanpa disangka Keyla, Ibunya malah memeluknya duluan. "Kenapa harus minta izin, sayang. Kamu boleh peluk Ibu kapan pun kamu mau."

Air mata Keyla tak tertahan lagi, Untuk kedua kalinya selepas wisuda, air mata itu punya arti berbeda. Bahagia. 

Akhirnya Keyla merasakan lagi, nikmatnya dekapan dari orang yang amat sangat disayangi.

#Day5
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#IniPanggungKita
#Cerbung

0
Share

Mengenal Azimat

Azimat, jimat atau tamimah yaitu benda yang disakralkan karena dianggap memiliki kekuatan supranatural yang biasa dipakai atau digantungkan pada tubuh, kendaraan, maupun rumah sebagai penangkal bahaya atau dengan maksud memudahkan suatu tujuan yang hendak dicapai. Jaman jahiliah tamimah digunakan untuk mencegah ‘ain, yaitu pandangan dari mata hasad, yang denganya dapat menjadikan seseorang celaka. Ketika Islam datang, tamimah atau jimat semacam ini dihapuskan. Akan tetapi pada masa sekarang tamimah masih sering kita jumpai bahkan digunakan lebih umum yaitu pada segala hal untuk mencegah ‘ain atau lainnya. Di sekeliling kita tamimah dapat berupa keris untuk melindungi rumah missal atau tulisan rajah yang dipasang di atas pintu masuk warung untuk melariskan dagangan dan lain sebagainya.

Sudah menjadi hal umum jika manusia itu menyukai kemudahan. Padahal di dalam kesulitan berjuang tentu ada nikmat tersendiri yang hanya dirasakan oleh mereka yang berani berjuang. Mencari kemudahan di dalam berdagang menggunakan tamimah atau jimat tentu telah mengurangi kadar nikmat itu sendiri. Bahkan sebenarnya orang yang bergantung pada jimat, ia telah merugi.

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakal orang-orang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

Azimat, jimat atau tamimah termasuk yang di maksud dalam ayat yang mulia ini. Karena orang yang memakai jimat tentu bertujuan untuk menolak mudhorot atau mendatangkan manfaat. Mungkin kebanyakan orang akan berdalih bahwa mereka memakainya hanyalah sebagai perantara saja. Tentunya alasan itu tetap tidak dibenarkan.

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad)

Berbeda halnya jika kita sakit, lalu kita minum obat. Obat ini telah terbukti secara eksperimen akan keampuhanya, berbeda dengan jimat karena tidak ada bukti yang menguatkanya. Jadi intinya dalam mengambil sebab untuk meraih manfaat atau menolak mudhorot harus memenuhi dua syarat:

Sebab tersebut terbukti secara syar’I, ditunjukkan dalam dalil atau terbukti lewat eksperimen ilmiah.

Ketergantungan hati hanya kepada Allah bukan pada sebab. Semisal orang yang mengambil sebab untuk sembuhnya penyakit dengan minum obat, maka dia harus berkeyakinan bahwa Allahnya yang menyembuhkan melalui obat yang kita minum.

Kesyirikan pada jimat itu sendiri memiliki perbedaan tergantung pada sikap orang yang meyakininya

Jika yakin bahwa jimat bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, maka ini termasuk syirik akbar. Karena yang mendatangkan manfaat dan bahaya hanyalah Allah.

Jika yakin bahwa jimat hanyalah sebagai sebab untuk penyembuh misal, maka ini termasuk syirik ashgor (kecil).

Akan tetapi walau dikatakan syirik kecil namun tetap lebih parah dari dosa besar.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

Sebenarnya ada cara yang jauh lebih mudah dari pada kita harus bersusah payah menggunakan jimat yaitu dengan bertawakal hanya kepada Allah.

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

#Day4
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara



0
Share


“Apa arti hidup ini, jika yang disukai tak mampu diraih.”

Semangat Keyla tak kunjung datang. Dulu dia merasa tertekan harus belajar hal yang tidak dia sukai. Akan tetapi setidaknya di kampus dia bertemu banyak orang yang mampu melunturkan tekanan itu. Sekarang dunia baru muncul untuk di takhlukan. Masalahnya apakah dia punya keberanian. Lembaran buku harian itu hanya berisi satu baris kalimat. Banyak yang ingin dia tulis, tapi tanganya seolah enggan untuk bergerak. Dia mendongak. Pukul 24.00 “hebat” batinya bergumam “apakah setiap malam itu terasa panjang?”. Raganya lelah tapi mata itu tetap terjaga. Di meja belajar itu dia berusaha menuangkan isi hatinya di buku harian, tapi percuma, kata-kata seolah tak ada yang mampu mewakilkan. Tiba-tiba bunyi dering membuncahkan khayalanya ... ada e-mail masuk. Ketika kebanyakan orang tak peduli dengan e-mail, maka lain halnya dengan Keyla. E-mail jadi alat komunikasi utamanya. Alasanya sederhana, dia tidak suka kebisingan maka yang akan masuk lewat e-mail hanyalah pesan penting.

Bagai danau di tengah gurun pasir, pesan itu telah mampu menyirami hatinya yang panas. Binar mata yang telah lama tak keluar sekarang muncul bersama harapan yang tak disangka. Buru-buru Keyla menghapus kalimat yang tadi di tulis dan menggantinya.

"Apa arti hidup ini, jika tak mau berjuang untuk yang disukai"

Harapan itu ... akhirnya menemukan pintu untuk memasukinya. Pesan yang selama ini tak pernah dia tunggu, dari penerbit yang dia sendiri tak pernah mengirim naskah kepadanya. "Bagaimana mungkin?" gumam Keyla "bagaimana mungkin penerbit itu mengenaliku?". Pesan yang singkat dan lugas, tentang ajakan bekerjasama untuk membuat novel bertema psikologi. Tanganya bergetar seolah membawa beban berat yang sebenarnya beban itu amat dia inginkan. Sebutir air menggelayut di pipinya. Akhirnya mata itu basah bersama kebahagiaan yang datang tak terkira. Sekali lagi Keyla membaca ... ternyata blog yang selama ini iseng dia tulis menjadi pintu untuk meraih mimpinya. Setelah berhari-hari tidurnya tak nyenyak, untuk kali ini dia bisa melepas segala penat dan dengan tenang menuju mimpi-mimpi indah yang mungkin akan menyambutnya.


#Day3
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#IniPanggungKita
#Cerbung
0
Share


Jika marah itu sesuatu yang salah, kemana Aku harus mengungkapkan amarah ini.

Suatu tulisan yang tak biasa dari Keyla itu, mengawali lembaran kisahnya yang dituangkan ke dalam buku harian. Hatinya menangis, tapi air mata itu tak kunjung keluar sebagai pelampiasan. Di sudut perpustakaan, gadis itu terlihat santai bersandar beralaskan bean bag. Orang yang melihatnya tak akan mengira jika hatinya sedang meronta ingin berteriak sekuat-kuatnya. Lagi-lagi tentang masalah klasik Keyla ... pekerjaan.

"Sudah melamar kerja belum, nduk?"

Keyla biasa membantu Ibunya memasak, dan saat berdua itulah yang dimanfaatkan Ibunya untuk menanyakan perihal karir.

"Belum, Bu."

Hatinya selalu resah ketika membahas pekerjaan, walau sebenarnya ada pekerjaan yang dirasa bisa menjadi alternatif.

"Bagaimana jika menjadi editor, Bu? Kan sama-sama kerja di kantor."

"Editor apa?"

"Editor buku, jadi nanti tugasnya ngedit tulisan yang salah gitu, Bu."

Keyla mencoba meyakinkan. Setidaknya jika usulan itu disetujui, dia tetap bisa bersama buku. Walau raganya terpenjara tapi hatinya bisa bebas.

"Buat apa gelar Sarjana Ekonomi kalau kerjanya hanya mengedit tulisan, toh anak SMK juga bisa."

"Tapi kan ...."

Keyla tak mampu melanjutkan. Dia ingin sekali bilang bahwa dia tak menginginkan gelar itu tapi dia sadar, itu sama saja menyakiti orang yang telah banyak berkorban untuknya. Untuk kesekian kalinya pembahasan itu diakhiri dengan desakan untuk mencari kerja dan jawaban "ya" dari Keyla.

#Day2
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#IniPanggungKita
#Cerbung
0
Share


Gemercik air hujan menemani pagi ini. Di beranda rumah itu tampak seorang gadis sibuk dengan surat kabarnya, berharap menemukan keajaiban yang membawa semangatnya kembali. Baru seminggu berlalu dia merayakan wisuda. Ucapan selamat pun datang silih berganti, bahkan banyak tawaran beasiswa yang datang kepadanya. Predikat Cum Laude telah ia dapatkan. Seharusnya wisuda itu jadi saat yang membahagiakan, tapi dia tidak menemukan kebahagiaan itu. Senyum manisnya tertempel di dinding bersama kedua orang tuanya, tapi dia sendiri tak yakin apakah senyum itu tulus dari hati. Setelah berkali-kali ia membalikkan surat kabar itu akhirnya dia menyerah. Pencarianya sia-sia. Dia pun menaruh surat kabar itu dan meninggalkanya bersama harapannya walau dia tahu, harapan itu tak pernah benar-benar bisa dia tinggalkan.

“Sudah dapat pekerjaan yang cocok, dek?”

Dia sedikit kaget dengan pertanyaan ibunya, yang membuatnya sadar dari alam khayalnya. Hampir saja masakanya gosong gara-gara dia mengkhayal, buru-buru ia membalik tempe itu.

“Emm … belum, Bu.”

Sedikit gugup ia menjawab. Selama ini ibunya sering melihatnya rutin membeli surat kabar, mengira yang dicari anak bungsunya itu lowongan pekerjaan, padahal ia tak pernah membuka bagian itu.

“Kamu harus bisa hidup lebih sejahtera dari pada orang tuamu ini.” Sambil mencicipi soto yang tengah dibuatnya, Ibu melanjutkan “Ayahmu hanya kerja serabutan, sedang Ibumu ini hanya jualan soto. Beruntung kita tinggal dekat sekolah, jadi banyak yang beli.”

“Insya Allah, Bu, tapi apa harus kerja kantoran?”

Dia memberanikan bertanya. Selama ini dia tak tertarik bekerja kantoran, harus terkurung dalam ruangan bersama kertas-kertas laporan. Dia tak bisa membayangkan dirinya dipenjara di tempat yang seperti itu walau secara kemampuan dia sangat menguasai.

“Iya, dengan kerja kantoran kamu bisa dapat gaji tiap bulan, dengan begitu kebutuhan kamu lebih terjamin.”

Mata gadis itu terasa panas mendengar jawaban ibunya. Rasanya seperti ada yang memberontak ingin keluar, tapi sebisa mungkin ia tahan. Dia tak bisa meyakinkan orang tuanya tentang cita-citanya, bahkan dari sebelum kuliah telah ia sampaikan tapi selama itu pula orang tuanya menolak. “Sekarang itu jadi PNS susah, nduk. Nanti ujung-ujungnya kamu hanya jadi honorer, bagaimana bisa kamu nanti membiayai anak-anakmu?” Begitulah Ayahnya menyanggah, bahkan dia sampai bilang ingin cari suami yang kerja kantoran tapi tetap saja ditolak. “Mencari penghasilan berdua kan lebih baik.”

Orang tuanya tetap bersikukuh ingin anak bungsunya itu kerja kantoran seperti kakaknya. Melihat keberhasilan kakaknya yang telah berkeluarga dan hidup bahagia tentu menyenangkan hati orang tua. Sebenarnya kakaknya paham apa yang diinginkan adiknya. Telah berkali-kali dia coba meyakinkan agar mendukung cita-cita adiknya tapi berkali-kali pula orang tuanya menolak. Mereka anak-anak yang berbakti. Dididik dengan budi pekerti dan ajaran agama yang cukup sehingga mereka paham arti berbakti kepada orang tua, sehingga tak akan ada bentakan walau hati tak sejalan.

***

Tulisan itu tak kunjung bertambah. Sesekali jemarinya mengetik tapi cepat-cepat dihapus. Pikiranya kacau. Kemana dia harus mencari ide ketika orang tua semakin menekanya untuk segera mencari pekerjaan. Biasanya ide itu mengalir lancar di waktu subuh begini, tapi hari ini seperti pengecualian. Tiba-tiba perhatianya tertuju pada surat yang didapatkanya dua hari lalu di Perpustakaan kota. Entah siapa yang menaruhnya, waktu itu dia sedang mencari buku di rak dan meninggalkan tasnya di meja. Setelah kembali dia mendapati sepucuk surat di atas tasnya. Ragu-ragu dia membukanya. Dia mengernyitkan dahi … apa-apaan ini `Menyapamu Pada Sepucuk Surat Rindu` begitulah judul yang tertera. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan seseorang yang mencurigakan tapi percuma, waktu itu masih pagi, belum banyak pengunjung dan tak ada yang mencurigakan dan tak ada yang ia kenal. Buru-buru ia melanjutkan membaca, menacari nama pengirimnya tapi dia hanya menemukan namanya sendiri sebagai nama penerima.

Kali ini dia mencoba membacanya lebih seksama, berusaha memastikan apakah surat itu untuknya. Berkali-kali dia membaca semakin yakin surat itu untuknya, bahkan tertera jelas namanya. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang amat indah, dengan bahasa yang indah pula. Sekilas dia menemukan arti bahagia. Senyum itu tersimpul di wajahnya. Apakah itu tulus dari hati, apakah hatinya juga merasakan rindu yang sama. Entahlah yang jelas dia menyukainya.

“Berkali-kali aku melihat bulan. Sinarnya yang teduh mengingatkanku pada kelembutan hatimu. Apalah daya diri ini yang hanya bintang kecil. Maka sinarku tak akan mampu menyamaimu. Tapi biarlah aku rela menjadi bayang-banyangmu. Demi menghiasi malam itu. Untukmu Keyla Azahra.”

Penggalan surat itu, entah sampai kapan Keyla akan menyimpanya, maka mulai hari ini, dia punya harapan baru.

#Day1
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#IniPanggungKita
#Cerbung
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Dzakyy Arifin

Anak kecil, yang cinta buku dan ingin orang lain merasakan nikmatnya cinta itu dan insyaAllah suatu hari nanti bisa bikin taman baca untuk kita semua, generasi penerus bangsa

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (32)
    • ►  Juni (11)
    • ▼  Mei (13)
      • Hubungan antara Al-Qur’an dan Penyakit Alzheimer
      • Cerita Dua Batu
      • Pengingat Diri Ini
      • Bulan Merindukan Bintang
      • Tentang Kisah
      • Pertemuan
      • Menikmati Penghuni Langit
      • Pertemuan Singkat
      • Nikmatnya Dekapan dari Orang yang Amat Sangat Disa...
      • Sebaik-baiknya Penolong
      • Harapan Itu
      • Izinkan Aku Marah
      • Menyapamu Pada Sepucuk Surat Rindu
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)

Label

#Cerbung #IniPanggungKita #PenaJuara #RamadhanBerkisah Artikel Buku Cerpen CerpenBukuHarianDoni kisahinspiratifFLP miladflp21 selfreminder

Instagram

Supscribe

Enter your email address:

Copyright © 2015 BeBrave

Created By ThemeXpose