Pages

  • Beranda
  • About Me
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Facebook Twitter Instagram Google+ Pinterest
BeBrave

Berani Bermimpi. Berani Berjuang

  • Home
  • Contact Me
  • Category
    • Artikel
    • Book
    • Cerpen
      • Buku Harian Doni
      • Ini Panggung Kita
    • Selfreminder



Allah menciptakan dunia ini dengan amat indah. Bahkan dalam kegelapan malam sekalipun Allah hadirkan bulan dan bintang sebagai penghias langit yang amat menawan. Rasi bintang yang bagai membentuk formasi, telah menjadi lukisan yang amat memanjakan. Sayangnya keindahan tersebut membuat lalai beberapa orang, hingga mereka menganggap rasi bintang mampu menjadi simbol untuk ramalan. Sungguh hal tersebut adalah pengetahuan yang tak memiliki landasan. Bahkan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.
Mengenai bintang sendiri, ada hal menarik yang disampaikan Rasulullah ï·º “Bintang-bintang itu adalah para penjaga langit, apabila bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan. Dan para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.” (HR Muslim)
Tentunya apa yang disampaikan Rasulullah ï·º tersebut, bukan sekedar ramalan, karena setelah dilakukan penelitian, ternyata apa yang disampaikan sangat masuk akal. Lain cerita jika ada yang mengatakan rasi bintang tertentu mempengaruhi masa depan seseorang. Sungguh ini sesuatu yang tak mempunyai landasan dan tak ada bukti yang menguatkan.
Bintang adalah benda yang tersebar dilangin berbentuk bulat atau semi-bulat, ber-gas, mudah terbakar, memancarkan cahaya dan saling berhubungan satu sama lain melalui gravitasi meskipun struktur pembentuk mereka adalah gas. Bintang-bintang tersebut memiliki massa yang sangat besar, ukuran, dan suhu yang tinggi. Bintang juga memancarkan gelombang cahaya (ada yang tampak, ada yang tidak).
Bintang memiliki siklus hidup dimulai dengan kelahiran, kemudian bintang muda, bintang tua hingga akhirnya meledak lalu lenyap. Mereka juga dapat meledak sebelum atau setelah siklus tersebut yang kemudian kembali menjadi asap langit dan masuk ke dalam siklus kelahiran bintang baru. Sebuah bintang menghabiskan sekitar 90% dari usianya dalam tahap bintang biasa (seperti matahari) sebeum lenyap.
Bintang-bintang seperti perapian raksasa di alam semesta dengan serangkaian reaksi nuklir di dalamnya, atau yang dikenal sebagai “fusi nuklir”, disanalah semua elemen yang diperlukan untuk kehidupan di bumi dan langit diciptakan.
Selain gravitasi yang menghubungkan bintang-bintang, ada sejumlah kekuatan yang menahan isi didalam setiap benda angkasa. Kita hanya mengetahui energi nuklir, listrik, dan elektromagnetik. Ada pula kekuatan di luar ketiganya itu.
Mengingat gravitasi bintang-bintang sangat besar, mereka mendominasi semua benda langit. Bahkan bintang-bintang tersebut dihubungkan melalui sebuah gravitasi yang membentuk unit lebih besar dari semesta dan semua terhubung satu sama lain. Oleh karena itu, kehancuran sistem bintang berarti kehancuran alam semesta karena kehilangan keseimbangan.
Dari penjelasan tersebut tentu dapat disimpulkan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah ï·º adalah kebenaran. Lain halnya dengan orang-orang yang berbicara tanpa ilmu. Mareka meyakini bahwa rasi bintang mempengaruhi nasib sesorang, mempengaruhi kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Itu cara berfikir yang harus diluruskan, apalagi bagi seorang muslim. Keyakinan yang salah dapat membawa pada kesyirikan maka perlu hati-hati dalam meyakini perkataan orang yang tak jelas sumbernya.


Diambil dari buku Dr. Zakir Naik dengan judul Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah

#Day26
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Alunan musik yang indah memang mampu membuat orang terbuai. Hal tersebut membuat orang untuk menciptakan ragam jenis musik dari untuk berbagai kebutuhan. Ada yang sekedar hiburan, tapi ada juga yang digunakan sebagai media terapi.
Suatu ketika, ada seorang Ustadz tentang seorang Ibu yang mengadukan anaknya. “Ustadz, anak saya tak bisa jauh dari musik.” Dengan berlinang air mata Ibu tersebut mengadu. Lantas apakah seserius itu permasalahanya. Bagi anak muda, suka musik itu bukankah hal yang wajar, lalu kenapa harus bersedih sampai berurai air mata.

Suka musik, mungkin masih bisa dianggap wajar. Akan tetapi terlampau suka, itu yang bahaya. Bukankah segala yang berlebihan itu tak baik. Jika membicarakan musik menurut Islam, maka akan ada perbedaan pendapat. Akan tetapi, saya tak akan membahas itu karena bukan wilayah saya. Sebagai orang yang masih belajar maka saya harus tahu diri. Maka saya hanya ingin menjelaskan kenapa orang tua tersebut begitu khawatir dan menyesal.

Sebuah alasan yang cukup mengherankan, disampaikan oleh Ibu tersebut. Ternyata ketika hamil, Ibu tersebut selalu mendengarkan musik, dengan alasan ada sebuah penelitian bahwa memperdengarkan musik untuk bayi dalam kandungan akan membuatnya pandai. Dengan alasan tersebutlah kebiasaan itu terus berlangsung. Ternyata dampak yang dihasilkan di luar bayangan orang tuanya. Anak tersebut menjadi amat cinta dengan musik, padahal orang tuanya tak menginginkan itu.

Apa salahnya dengan musik? Mungkin pertanyaan tersebut belum terjawab. Sebagai seorang muslim maka sungguh amat indah apabila mempunyai anak yang cinta terhadap Al-Qur’an, bukan musik. Suka sih boleh, tapi terlampau suka itu yang bahaya. Karena segala perhatianya akan terkuras untuk sesuatu yang dia amat sukai.

Dari penuturan Ibu tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa, sebaiknya ketika sedang hamil, orang tua harus membiasakan dekat dengan Al-Qur’an agar anaknya kelak terbiasa dengan lantunan Ayat suci Al-Qur’an. Hal tersebut tentu amat bermanfaat karena Al-Qur’an lah salah satu penyelamat kita di Akhirat kelak.

#Day25
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


“Di kelembaban usia” begitulah tutur Ustadz Salim dalam bukunya ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’ waktu membahas masa remaja. Dimana pada masa remaja memungkinkan semua karakter bisa tumbuh, berakar dan mekar. Maka sudah selayaknya kita berusaha memperbaiki karakter diri kita agar tak menyesal dikemudian hari.
Jika membicarakan remaja, maka tak lepas dari masa muda. Tentunya masa muda bagi kebanyakan orang sering dijadikan waktu untuk mengenali diri sendiri. Hanya saja, di dalam proses pengenalan tersebut, terkadang tidak dilakukan dengan benar, sehingga prosesnya menjadi lama. Uniknya, pada sebagian orang sudah bisa mengenali dirinya dengan cepat bahkan meraih sukses diusia yang tergolong muda.
Apabila kita menengok sejarah, maka akan kita dapati karakternya telah terbentuk dengan matang diusia muda. Salah satu pemuda hebat itu adalah Muhammad Al Fatih. Sungguh sangat disayangkan apabila tidak mengenal beliau. Sayangnya anak-anak sekarang lebih kenal tokoh fiktif dari pada beliau. Beliau memang bukan Super Hero. Akan tetapi kehebatanya dalam mengatur strategi perang dan kematangan karakternya patut kita teladani.
Menjadi panglima perang diusia 21 tahun merupakan prestasi yang membanggakan. Apalagi mampu membebaskan Konstantinopel yang dari sudah berkali-kali gagal di taklukkan oleh pendahulunya. Semua itu adalah berkat orang tuanya yang berkomitmen dalam pendidikan anaknya, sehingga bersedia mendatangkan guru untuk mengajarinya dari kecil. Bahkan Muhammad Al Fatih telah mampu menghafal Al Quran 30 juz diusia 8 tahun.
“Dewasa tak memandang usia” mungjkin itu sedikit pantas untuk menggambarkanya. Ada sebagian orang yang kematangan karakternya berjalan lambat, tapi ada juga yang berjalan cepat. Semua itu tak lepas dari kehidupanya diwaktu kecil, apakah dimanja, atau biasa mandiri. Maka sudah selayaknya setiap orang tua belajar dari kisah Muhammad Al Fatih agar anaknya kelak, mampu mematangkan karakter di usia muda, bahkan sukses diusia muda.

#Day24
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Di era yang modern ini semakin banyak tayangan yang disuguhkan demi menemani waktu santai keluarga. Mulai dari tayangan yang mengedukasi sampai sekedar hiburan. Setiap media, berlomba menampilkan kreasi mereka masing-masing. Tentunya keberagaman tayangan itu akan diikuti dengan semakin banyaknya pemain yang terlibat. Semua menunjukkan kemampuanya masing-masing. Dari balik layar sampai yang menjadi pusat perhatian atau public figure. Mereka bekerja seprofesional mungkin. Yang menarik, dari ragam jenis pekerjaan public figure tersebut, tak melulu mengandalkan teknik. Tentunya setiap orang memiliki kemampuan masing-masing. Hanya saja dalam pekerjaan ada yang harus di tempuh dengan pendidikan formal sampai jenjang tinggi, tapi juga ada yang mengandalkan kemampuan diri dan pembiasaan. Pekerjaan yang mengandalkan bakat dan pembiasaan itu salah satunya adalah pelawak. Mereka sering bertingkah jenaka demi menghibur penonton. Memang sepintas terlihat sepele, tapi kenyataanya tak setiap orang mampu melakukanya. Tentunya itu menjadi kelebihan tersendiri yang ada padanya.

Setiap pekerjaan memiliki resiko yang harus dihadapi. Tak terkecuali pelawak itu sendiri. Sebagai orang yang dituntut untuk banyak bicara, maka tak bisa lepas dengan interaksi dengan orang lain. Maka dari itu, hendaknya menjadi pelawak itu juga harus memperhatikan adab dalam bercanda, agar tak menyakiti hati orang lain.

Terutama bagi seorang muslim, berfikir sebelum berbicara adalah hal yang musti dilakukan. Dalam Islam bercanda itu diperbolehkan, selama tidak menyalahi aturan. Adapun rambu-rambu yang harus dipatuhi meliputi :
Jauhi dusta

Dalam hadits Rasulullah ï·º bersabda, “Celaka seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celaka ia, celaka ia.” (HR. Ahmad)
Jauhi kata-kata bathil

Allah berfirman :
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhknya setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q.S. Al-Isra’:53)

Tidak banyak tertawa
Sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk. Pun demikian dengan tertawa. Rasulullah ï·º bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan menghina agama
Allah berfirman :
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?.” (Q.S. At-Taubah: 65)

Dilarang menakut-nakuti Muslim
Rasulullah ï·º bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim membuat takut Muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah adab yang harus kita lakukan ketika bergurau. Tentu hal tersebut bukan bermaksud mengekang kebebasan, melainkan untuk keselamatan kita sendiri.

#Day23
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Memiliki anak tentu menjadi idaman setiap pasangan pada umumnya. Dengan kehadiran buah hati, akan membuat hari menjadi lebih berwarna. Akan ada banyak tawa, tapi juga tak jarang harus menahan rasa. Maka memupuk sabar itu harus, dan memahaminya itu perlu. Tentunya memperlakukan anak berbeda dengan orang dewasa, karena kondisi emosi anak yang bisa berubah-rubah.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua adalah memilih waktu dan tempat yang tepat untuk memberi nasihat, karena akan ada saat anak bisa menerima nasihat tapi terkadang dia mengabaikan begitu saja. Apabila kedua orangtua sanggup mengarahkan hati si anak untuk menerimanya, pengarahan yang diberikan akan memperoleh keberhasilan dalam upaya pendidikan.

Lantas kapan sebaiknya kita memberi pengarahan kepada anak?

Sebagai orang Islam kita telah diberi petunjuk kepada siapa kita mengikuti. Dialah sebaik-baiknya suri tauladan yang harus kita contoh. Sebagai wujud rasa cinta kasih, juga karena kesempurnaan akhlak-nya, kita harus senantiasa berusaha mencontoh beliau, Rasulullah ï·º.
Rasulullah ï·º mempersembahkan kepada kita tiga waktu mendasar dalam memberi pengarahan kepada anak.


  • Dalam Perjalanan

Riwayat al-Hakim dalam kitab Mustadraknya (3/541) menegaskan bahwa perjalanan itu dilakukan di atas kendaraan. Dia meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma :
“Nabi ï·º diberi hadiah seekor bighal (persilangan antara kuda dan keledai) oleh Kisra. Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau memboncengkanku di belakangnya. Kemudian beliau berjalan. Tidak berapa lama, beliau menoleh dan memanggil, “Hai anak kecil.” Aku jawab, “Labbaika, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jagalah agama Allah, niscaya Dia menjagamu… hadits.”


  • Waktu Makan

Suatu kesalahan, apabila kita membiarkan anak bertingkah semaunya yang tidak sesuai dengan adap sopan santun di meja makan. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mengajari anak tentang adab, karena jika dibiarkan tentu anak itu tak akan mengetahui bahwa perbuatanya itu salah. Maka sudah selayaknya orang tua mendampingi anaknya ketika makan, terlebih di tempat umum.

Nabi ï·º makan bersama anak-anak. Beliau memperhatikan dan mencermati sejumlah kesalahan yang dilakukan oleh anak, kemudian memberikan pengarahan dengan metode yang dapat mempengaruhi akan dan meluruskan kesalahan yang dilakukan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah radhiuallahu’anhuma, ia berkata :
“Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah ï·º. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Rasulullah ï·º bersabda kepadaku, “Hai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanku.” Sejak itu, begitulah caraku makan.”


  • Waktu anak sakit

Sakit tak selamanya menjadi musibah. Bisa jadi itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita agar kembali pada jalan yang benar. Orang ketika sakit cenderung mudah untuk dinasehati, dan itu berlaku juga untuk anak kecil. Rasulullah ï·º telah memberi pengarahan kepada kita atas hal ini.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas radhiyallahu’anhu, ia berkata :
“Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi ï·º sakit. Nabi ï·º datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah engkau.” Dia melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata, “Turutilah Abdul Qasim.” Maka, dia pun masuk islam. Nabi ï·º pergi sambil berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanya dari api neraka.”

Demikianlah ketiga waktu yang utama bagi orang tua untuk memberikan pengarahan kepada anaknya. Tentunya waktu yang lainnya dapat disesuaikan dengan kesibukan dan kondisi keluarga. Maka sudah selayaknya orang tua lebih bijak dalam memilih waktu dan tempat untuk memberi pengarahan. Selain itu kita juga harus lebih bersabar, ketika anak tidak medengarkan nasihat kita.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan : 74)

Daftar Pustaka: *masih butuh saran :)
Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh. 2010. Prophetic Parenting; Cara Nabi Saw Mendidik Anak, penerjemah. Yogyakarta (ID): Pro-U Media. Terjemahan dari: Dar Ibnu Katsir.

#Day22
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Ketika kita mendapat bantuan maupun nikmat dari seseorang, maka sangat wajar jika kita membalasnya, minimal dengan mengucapkan terimakasih. Terlebih jika bantuan itu amat berharga, maka kita akan selalu menghormatinya dan mengingat jasanya. Akan tetapi, ketika bantuan itu teramat banyak, seringkali kita lalai. Kita lebih sibuk mengingat yang sedikit dan melupakan yang banyak. Padahal ada banyak bantuan tak terkira banyaknya yang diberikan kepada kita. Salah satunya pernapasan.

Bernapas menjadi kebutuhan setiap makhluk yang bernyawa, salah satunya kita “manusia”. Bahkan ketika kita tidur atau tak sadarkan diri, sistem pernapasan kita tetap berjalan. Apabila sistem pernapasan terganggu, kita pasti bersedia membayar berapapun demi membuatnya pulih.

Pernahkah kita membayangkan betapa menakjubkannya sistem pernapasan itu. Kita menghirup napas dan mengeluarkannya secara spontan. Bayangkan jika kita harus berpikir dahulu, amat melelahkan bukan. Jika harus belajar dahulu, bayi yang baru lahir akan kesulitan. Sistem pernapasan telah dapat digunakan Sedangkan udara yang dibutuhkan tubuh kita hanyalah oksigen. Sedangkan udara di bumi beraneka ragam. Betapa sempurnanya sistem pernapasan kita, yang mampu menyaring udara, yang bahkan tak terlihat oleh mata.

Pada saat kita bernapas, sesungguhnya telah terjadi proses oksidasi serta perpindahan dua zat yang terdapat di udara. Oksigen masuk ke dalam paru-paru dan karbondioksida sebagai sisa dari proses oksidasi ini dikeluarkan. Dari proses oksidasi tersebut, sepertiga menghasilkan energi setelah bercampur dengan zat yang terkandung dalam makanan untuk diedarkan ke seluruh sel tubuh. Kemudian sepertiga lagi disimpan sebagai cadangan energi dan sepertiga lagi dibuang.

Selama ini orang bernapas hanya sekedar menghirup dan menghembuskan tanpa mengenal apa yang dinamakan “kesegaran udara”. Kapasitas paru-paru tidak digunakan secara maksimal, sehingga tidak dapat merasakan kenikmatan udara yang memberikan kesegaran.

Ketika kita menghirup udara segar dengan pernapasan yang panjang dan dalam, maka kita akan mengerti apa itu kesegaran udara. Udara yang dihirup ini akan beredar keseluruh tubuh. Hal ini akan dirasakan manfaatnya jika secara rutin dilakukan setiap pagi hari dan malam menjelang tidur.

Secara ilmiah, pernapasan yang panjang dan dalam akan membuat siapapun memperoleh udara yang cukup dibutuhkan oleh tubuh. Pernapasan yang dangkal dan pendek bisa menyebabkan datangnya penyakit, karena seseorang tidak memperoleh udara segar yang cukup. Sisa pembakaran mungkin tidak dapat terangkut dengan baik, demikian pula proses oksidasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat membuat tubuh menjadi lesu atau lemah. Oksigen diperlukan untuk proses berpikir, proses pencernaan, mengangkut zat-zat makanan dalam darah, membangun jaringan tubuh, dll.

Hal yang menarik tentang oksigen

  • Dalam sehari, manusia menghirup oksigen dari udara kira-kira sebanyak 20 ribu kali.
  • Dalam setiap molekul air, 90% masa-nya berasal dari oksigen, dan air merupakan komponen penyusun tubuh terbesar (65-75%)
  • Otak manusia yang mengambil bagian 2% dari total massa tubuh membutuhkan 20% oksigen dari yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa otak merupakan organ tubuh yang paling membutuhkan oksigen.

Dari fakta tersebut sudah dapat kita pastikan bahwa, bernapas adalah karunia dan kenikmatan yang tak ternilai harganya. Maka sudah selayaknya kita bersyukur atas nikmat yang kita peroleh dari Allah yang tak terkira jumlahnya ini.

#Day21
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Dalam menjalankan aktivitas, setiap makhluk hidup memerlukan energi. Tak terkecuali bagi manusia. Energi menjadi hal yang amat penting. Jika membicarakan bagaimana manusia mendapatkan energi, sehingga mampu melakukan berbagai aktivitasnya, tentu yang akan terpikirkan adalah asupan atau makanan. Memang dengan makanan, mampu memberikan energi untuk diri kita. Akan tetapi pernahkan kita berfikir, bahwa walaupun mempunyai porsi makan yang sama, tetapi setiap orang memiliki energi yang berbeda di dalam melakukan aktivitasnya.

Energi yang dibutuhkan pada raga, memang berperan penting dalam menompang kekuatan tubuh untuk melakukan suatu aktivitas. Akan tetapi, ada hal lain yang menunjang seseorang itu mampu untuk melakukan suatu aktivitas melebihi yang lain walau asupan yang masuk ke tubuhnya sama, atau bahkan lebih sedikit. Hal lain tersebut adalah “motivasi”. Jika makanan itu mampu menunjang energi pada raga, maka motivasi mampu menunjang energi pada jiwa.

Banyaknya asupan makanan tak akan berdampak signifikan untuk melakukan suatu aktivitas, akan tetapi semakin banyak motivasi pada diri seseorang, akan membuatnya tak menyerah walau lapar sekalipun. Maka mencari alasan untuk melakukan suatu aktivitas itu penting. Selain untuk menambah energi pada diri kita juga untuk memastikan bahwa aktivitas yang kita kerjakan itu bermanfaat.

Suatu hal yang indah, ketika kita melakukan aktivitas maka manfaatnya langsung didapat waktu itu juga. Salah satu syarat, agar kita dapat mendapatkan manfaat secara instan adalah keyakinan. Keyakinan mampu menjadi penawar letih secara instan sekaligus energi lebih dalam melakukan suatu aktivitas.

Sesuatu yang berkaitan erat dengan keyakinan adalah agama, termasuk agama Islam. Makna dari sebuah keimanan, adalah kita meyakininya sepenuhnya. Dengan itu akan tercipta motivasi untuk melakukan sesuatu yang dituntunkan-Nya.

Akan ada saat dimana kita merasa lelah. Lelah menjalani cobaan, lelah menjalani aktivitas. Maka, ketika lelah itu datang, dan kita mengingat keyakinan bahwa yang kita lakukan dan jalani adalah karena Allah, maka insyaAllah akan tercipta suatu energi penghilang rasa lelah itu sendiri.


#Day20
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Pernahkah Anda berfikir betapa mengagumkanya warna di dunia. Tanpa warna, tentu akan menyiksa, karena salah satu keindahan yang membuat indah adalah perpaduan warna. Warna yang berbeda, jika disatukan bisa menjadi warna yang indah, contohnya pelangi. Warna pelangi yang terjadi karena cahaya matahari yang melewati sebuah tetes hujan akan dibiaskan. Proses pembiasan ini yang memisahkan warna putih menjadi warna spektrum atau biasa kita kenal mejikuhibiniu. Kemudian warna-warna itu memantul di belakang tetes hujan, yang akibatnya cahaya tampak melengkung menjadi pelangi.

Perpaduan itu tak hanya pada pelangi, melainkan pada semua komposisi warna di dunia ini. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat memenikmati keselarasan ini manusia dilengkapi dengan sepasang mata. Di dunia makhluk hidup, mata manusia panling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya. Untuk itulah sudah selayaknya kita mensyukuri dan merenungi suatu penciptaan yang indah ini.

Seperti halnya dengan lukisan. Dengan perpaduan warna maka lukisan itu tampak indah dan menawan, lantas, apakah perpaduan warna itu datang tiba-tiba. Warna langit, warna gunung, warna laut di dalam suatu lukisan apakah terbentuk secara kebetulan, kaleng cat yang ditumpahkan, apakah bisa membentuk warna yang serasi. Maka kita pasti mengakui bahwa warna yang serasi itu ada yang menciptakan, yaitu pelukis. Seperti halnya kita yang mengakui keberadaan pelukis maka, kita juga harus mengakui keberadaan pencipta keanekaragaman dan keselarasan warna di dunia ini.

Dialah Allah. Yang mampu menciptakan dengan sempurna dan serasi, sehingga tercipta keindahan yang mampu kita nikmati
“yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatkah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (QS. Al-Mulk : 3-4)

#Day19
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Caca membuka mata. Silaunya sinar langsung menyambutnya, memaksanya reflek mengangkat tangan. Dia menoleh, “ini dimana” gumamnya. Hanya hamparan rumput dan bunga di sekelilingnya, dan pohon besar yang rindang menaunginya. Matanya mulai terbiasa dengan sinar di sekelilingnya. Dia segera bangun dan bersandar di pohon “bagaimana dia bisa kesini?”. Pertanyaan itu memenuhi kepalanya membuatnya pusing. Ini tempat yang asing. Andai hatinya sedang baik, sebenarnya ini tempat yang amat indah dengan bunga yang mengelilinginya, menebar keharuman yang belum pernah dia temui dimanapun. Beralaskan rumput hijau bersih. Tak ada sampah, sungguh pemandangan yang indah. Dia mendongak. Hamparan langit biru cerah “hei dimana mataharinya?”. Caca beranjak berjalan kedepan. Tanganya menjulur pada sinar yang tak tertutup pohon besar itu. “hangat” sekejap menjulur sampai ke hati memberikan ketenangan. Dia berlari menghampiri bunga-bunga itu. Berlari pada jalan setapak di antara bunga-bunga. Dia tak peduli siapa yang membuatnya. Tanganya mengibas di atas bunga itu membuat serbuk sarinya beterbangan. Kegelisahanya hilang, berganti keceriaanya yang membuatnya tertawa, berlari kesana kemari, tak peduli lagi dia dimana.
“Caca ….” Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara yang memanggilnya.
Tawanya berhenti. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Tak ada siapapun.
“Di sini sayang.” Sosok itu menyapa lembut dari belakang.
Caca yang reflek menoleh langsung melonjak jatuh, terkejut melihat sosok putih di belakangnya.
Sosok itu pun ikut duduk di depannya. Caca menatapnya bingung bercampur takjub. Sosok wanita mengenakan hijab putih dengan cahaya lembut memancar darinya. Tak ada sepatah kata yang dapat Caca ungkapkan. Badanya gemetar, dia tak mampu mengendalikanya lagi.
“Ini Ibu sayang, jangan takut.” Suara itu amat lembut penuh kasih sayang. “Pulanglah … ada orang yang sedang menantimu.”
“Ibu … benarkah ini Ibu. Caca kangen Ibu. Caca ingin ikut Ibu.” Suara itu hanya sampai di kerongkongan. Dia seolah tak ada daya untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Dia hanya mampu duduk termangu, jangankan berdiri, ingin sekali ia menyentuhnya, memeluknya, mencurahkan rindunya, tapi apa daya, bicara pun tak mampu.
“Selamat tinggal sayang, kita akan bertemu lagi.” Sosok itu berdiri, berbalik meninggalkan caca yang masih tersungkur tak berdaya.
“Ibu jangan pergi … Ibu …” dengan sekuat tenaga dia mencoba tapi percuma. Caca semakin khawatir karena cahaya disekelilingnya seolang mengikuti wanita itu pergi. Bunga-bunga pun layu, rumput hijau berganti hitam pekat. Caca semakin takut. Sekuat tenaga dia mencoba berdiri. Cahaya itu semakin meninggalkanya, hingga berkumpul pada satu titik dimana wanita itu berdiri. Wanita itu berbalik, melambaikan tangan. Seketika cahaya itu mengecil dan menelanya.
“Ibu …”
Caca yang tiba-tiba bangun dan berteriak mengagetkan semua orang di ruangan itu. Nafasnya tersengal. Bu Karlina, Ibunya Dzakyy langsung mendekapnya.
“tak apa sayang, Ibu disini.” Bu Karlina mencoba menenagkan. Dzakyy, Keyla dan Keysha hanya menatapnya iba.
“Ini dimana?” tubuhnya masih bergetar. Dia baru menyadari kalau dia sedang di ranjang, dengan selang infus menancap di lenganya.
“tak apa sayang, ayo tidur lagi.” Bu Karlina menenangkan sambil membaringkanya kembali.
Caca menatap sekeliling ruangan berbalut cat putih itu. Dia menemukan tiga sosok berdiri di belakang Bu Karlina.
“Kak Caca tak apa-apa kan?” Keysha yang berdiri di samping Keyla ragu-ragu bertanya. Ia ingin sekali ngobrol, bercanda tawa menghibur Caca tapi urung. Dia juga merasa bersalah karena Caca kecelakaan karena ingin pergi ke bioskop bersamanya.
Caca hanya tersenyum. Dia mencoba merangkai kejadian sebelumnya yang sempat terlupakan. Hingga dia sadar ada sesuatu yang salah pada dirinya. Kakinya terasa berat untuk digerakkan.
“kakiku kenapa, Bu?” Rintihnya sambil menyibak selimut yang menutupi separuh badanya.
“kakiku kenapa, Bu?” kali ini tangisnya buncah mendapati kakinya yang di gips. Dia ingat dua hari lagi dia ada khursus jurnalis yang dulu direkomendasikan Dzakyy. Itu cita-cita yang amat dia dambakan, sayangnya Ayahnya menyuruh dia untuk menjadi guru.
Bu Karlina hanya bisa mendekapnya “tak apa sayang, besok juga sembuh.”
Hanya saja tak sesederhana itu bagi Caca. Keysha memeluk kakaknya, Keyla. Dia merasa amat bersalah. Keyla mendekap mulutnya, bingung mau bicara apa. Dzakyy yang seolah paham apa yang di khawatirkan Caca, tiba-tiba mendekat, duduk disampingnya.
“Nanti kakak coba tanya sama pihak panitia.” Ibunya hanya menatap sekilas, urung mau bertanya pada Dzakyy.
“sini dek.” Dzakyy mengajak Keysha agar mendekat, duduk di sampingnya. Caca masih menutup mukanya, sesenggukan.
“Ca … tak mau kah kamu menyapa Keysha, dia dari tadi sore nungguin kamu, tak mau pulang.” Dzakyy berharap dengan itu Caca bisa sedikit mengesampingkan egonya. Dzakyy amat paham bahwa Caca sangat tak suka merepotkan orang lain, apalagi yang baru dikenal.
Perlahan Caca mulai tenang. Tangisnya reda. Ibunya menjauh, memberi ruang untuk Keysha mendekat.
“sini dek.” Caca menyuruhnya agar lebih mendekat.
“maafkan Keysha kak, gara-gara Keysha kakak …” belum sempat Keysha meneruskan, Caca langsung mendekapnya.
“Ini sama sekali bukan salahmu dek. Trimakasih telah mau menunggu kakak ya.”
Bu Karlina menatapnya senang. Tanganya meraih tangan Keyla yang kebetulan di sampingnya.
“Trimakasih ya, telah membawa Keysha kemari.”
Keyla membalas dengan seuntai senyum. Dia sama sekali tak mengira Bu Karlina akan berkata demikian.

#Day18
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
#Cerbung
#IniPanggungKita
0
Share


“Kak, sekarang tanggal berapa?” Keysha menarik-narik lengan kakaknya karena tak kunjung menjawab.
“Aduh dek” Keyla menaruh buku yang dia baca “setiap hari kamu tanya tanggal. Hari ini saja sudah tiga kali kamu tanya dek” jawabnya sambil menatap kesal “masih besok filmnya diputar.”
“Ok, kak.” Keysha nyengir sekilas, lalu segera berlari kembali kedalam rumah.
Keyla hanya geleng-geleng melihat ekspresi adiknya itu, kemudian mengambil bukunya lagi untuk dia baca sambil menikmati sinar lembut sore hari. Suasana yang nyaman untuk mengistirahatkan raga juga menenangkan hati setelah akhir-akhir ini disibukan dengan pertanyaan “tanggal berapa sekarang, kak?”.
Semua berawal dari pertemuan intens Keysha dengan Caca. Caca yang memang anak periang sehingga mudah akrab dengan banyak orang termasuk Keysha yang langsung lengket denganya. Caca awalnya hanya iseng membicarakan tentang film dan akhirnya obrolan itu merambah ke bioskop yang menyuguhkan fasilitas tiga dimensi, sesuatu yang masih asing bagi Keysha. Mengetahui ketertarikan Keysha, Caca langsung berinisiatif untuk mengajaknya. Sekarang Keyla yang harus menanggung ketidaksabaran adiknya itu.
“Kak, cocok ga Keysha pake ini?” Keysha yang tiba-tiba menghampiri kakaknya memamerkan kaca mata hitam yang dia pakai.
“Hah!” Keyla termangu menatap adiknya.
“Besok nonton film pake ini?”
“tak kelihatan kali dek” Jawab Keyla sambil menepuk jidat “bukan kaca mata hitam kayak gitu.”
“la terus?”
“besok lihat saja sendiri.”
Keysha hanya manyun lalu beranjak pergi.

***

“Kakak beneran tak mau ikut?” Caca yang telah berdandan rapi mencoba membujuk Dzakyy agar mau diajak ke bioskop.
“Males, lagian juga ada janji sama temen.” Jawabnya datar tanpa menoleh, tetap asyik dengan laptopnya sambil menikmati hangatnya sinar matahari sore. Kebiasaan yang sama dengan Keyla.
“ya sudah lah. Caca berangkat dulu ya kak.” Pamit Caca dengan muka cemberut. Dengan kasar ia mengambil helm di meja.
Dzakyy hanya menatapnya sekilas. “Hati-hati ya.”
Caca tak peduli. Dia langsung tancap gas dan menghilang di petsimpangan.

***

“Kaka Caca kok lama ya, kak? Keysha yang dari tadi siang sudah dandan rapi mondar mandir di teras rumah.
“Kamu tu kenapa to dek?” Tanya Keyla yang bingung dengan tingkah adeknya itu.
“coba Kakak tanya kak Dzakyy. Kemarin dikasih nomornya kan sama kak Caca.”
Keyla malas mengambil HP nya. Bahkan surat yang dititipkanya pun tak ada kabar bagaimana nasibnya, mana mungkin dia berani bicara.
“ditunggu dulu lah dek.” Keyla coba mengulur waktu
“ini sudah satu jam lebih kak, dari jadwal yang ditetapkan.”
“mungkin tak jadi kesini, lagian sudah terlambat juga kan kalau berangkat sekarang?”
“pokoknya tanyain apa susahnya sih kak?” pinta Keysha sambl mengusap pipinya yang mulai basah karena menangis.
“iya, bentar.” Keyla akhirnya memberanikan diri demi adiknya. Baru dia mencari kontaknya HPnya sudah berdering.
“Siapa kak?” Tanya Keysha penasaran.
“Kak Dzakyy.” Keyla langsung mengangkatnya.
Keyla hanya mengucapkan “hallo” selebihnya hanya sunyi, yang semakin membuat Keysha penasaran.
“Innalillahi …” Keyla tercekat. Dia menutup mulut, matanya mulai berlinang. Keysha semakin menatap bingung.
“Kak Caca dek …” telepon itu telah terputus menyisakan duka yang mampu mengubur kekecewaan Keysha
“Kak Caca kenapa, kak?”
“Kak Caca kecelakaan.” Teramat susah mengucapkan itu. Keysha hanya bisa menutup mulut, tatapanya kosong. Impianya tentang menonton film tiga dimensi musnah seketika.

#Day17
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share


Hari yang berbeda. Jika hari yang berbeda itu dikategorikan hari yang istimewa maka hari ini cukup terkesan istimewa. Sudah menjadi hal umum jika ketika bulan Ramadhan akan diadakan buka bersama, hanya saja yang menjadi terkesan istimewa itu adalah ketika suatu rutinitas itu hanya dilakukan setahun sekali.

Awalnya aku menganggap ini tak akan menyenangkan, secara aku bukan orang yang suka keramaian. Aku tipe orang introvert, jadi ketika mendapat kabar bahwa di kantor akan mengadakan buka bersama, aku tak begitu semangat. Ditambah sebuah kabar bahwa disuruh untuk menjadi MC, wah itu hal diluar kesukaanku. Tentu tak semua orang bisa berdiri di depan umum, dan menjadi pusat perhatian. Walau mungkin, hal itu bisa saja dilatih, tapi aku merasa belum siap.

Akhirnya hari H itu tiba. Aku berusaha rileks. Selama di rumah aku mencoba menghafal text sebagai pembawa acara. Jadi hanya tinggal menyiapkan mental. Selama perjalanan aku mencoba memperbaiki niat "ini bukan sekedar acara buka bersama, tapi juga acara silaturahmi". Karena dalam islam kita dianjurkan untuk bersilaturahmi sehingga itu cukup untuk memunculkan energi lebih untuk memacu semangat.

Sesampainya di tempat ternyata aku tak jadi menjadi MC, sudah ada yang menggantikan, dan itu menjadi pemicu semangat lagi. Ternyata setelah acara dimulai, dan selama berlangsung tidak seperti bayanganku sebelumnya yang aku mengira akan membosankan. Acaranya berlangsung seru, tak banyak acara formal karena kebanyakan waktu dihabiskan untuk kuis. Ada cukup banyak hadiah yang disediakan. Peserta hanya dianjurkan untuk menjawab pertanyaan dari MC. Menariknya salah satu hadiah itu jatuh kepadaku, ya walau lewat bantuan teman-teman. Jadi itu tadi sepenggal kisah tentang Ramadhan tahun ini. Semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan semoga ibadahnya juga meningkat. Aamiin.

#Day16
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Dzakyy Arifin

Anak kecil, yang cinta buku dan ingin orang lain merasakan nikmatnya cinta itu dan insyaAllah suatu hari nanti bisa bikin taman baca untuk kita semua, generasi penerus bangsa

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (32)
    • ▼  Juni (11)
      • Bintang Sebagai Pelindung
      • Sedikit Kisah Alunan Musik
      • Di Kelembaban Usia
      • Adab Dalam Bercanda
      • Memilih Waktu yang Tepat untuk Menasihati Anak
      • Nikmatnya Bernapas
      • Energi Penghilang Rasa Lelah
      • Keindahan Warna
      • Pertemuan Singkat dengan Ibu
      • Duka Pemusnah Kecewa
      • Sepenggal Kisah Ramadhan
    • ►  Mei (13)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)

Label

#Cerbung #IniPanggungKita #PenaJuara #RamadhanBerkisah Artikel Buku Cerpen CerpenBukuHarianDoni kisahinspiratifFLP miladflp21 selfreminder

Instagram

Supscribe

Enter your email address:

Copyright © 2015 BeBrave

Created By ThemeXpose