Pages

  • Beranda
  • About Me
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Facebook Twitter Instagram Google+ Pinterest
BeBrave

Berani Bermimpi. Berani Berjuang

  • Home
  • Contact Me
  • Category
    • Artikel
    • Book
    • Cerpen
      • Buku Harian Doni
      • Ini Panggung Kita
    • Selfreminder


Siapa yang tak mengenal Buya Hamka. Ulama karismatik yang jadi inspirasi banyak orang. Menjadi panutan bahkan bagi generasi setelahnya. Ada banyak kisah yang dapat kita teladani. Tentang keberanian dan keteguhan hati beliau. Tentu ada banyak kisah yang kita dengar, entah itu dari orang-orang yang juga mengagumi beliau, atau dari tulisan yang banyak tersebar di dunia maya maupun buku. Ketika sebuah rasa suka itu telah tertanam di hati maka akan ada energi yang membuat kita ingin mengenal lebih jauh. Rasa suka itu juga berlaku pada sesuatu yang dikagumi, dan buku Ayah karya Irfan Hamka ini mampu menjadi pengenyang laparku, penawar rinduku dan pengobat kekagumanku, karena dengan buku ini membuatku mengenal lebih dekat tentang kehidupan Buya Hamka di masa mudanya, ketika dewasa, menjadi ulama, sastrawan, politisi, kepala rumah tangga, hingga ajal menjemputya.

Salah satu keistimewaan buku ini adalah dari sudut pandang penulisnya yang tidak lain adalah anak Buya Hamka sendiri, sehingga pribadi Buya Hamka bisa tergambarkan lebih jelas. Bagaimana pribadi beliau ketika menjadi kepala keluarga, juga ketika bermasyarakat dengan tetangga. Akhlak dan keluasan ilmu beliau tunjukan ketika memberi nasihat pada tamu-tamu yang datang untuk berkonsultasi, juga cara beliau mendidik anak-anaknya. Bagaimana perjuangan beliau melawan Belanda, juga kita dapat lebih mengenal bagaimana kehidupan keluarga Buya Hamka. Kisah perjuangan keluarga Buya Hamka ketika mengungsi waktu Soekarno-Hatta ditangkap Belanda. Itu menjadi awal mula perjuangan Buya Hamka dalam kisah buku ini. Juga ada kisah penulis ketika masih kecil tersesat di Stasiun Padang Panjang ketika bermain dengan adiknya Aliyah.

Selain sebagai sastrawan dan ulama Buya Hamka ternyata juga bisa ilmu silat. Itu dibuktikan dari kisah ketika menangkap penjahat yang hendak menyerangnya waktu pulang dari sidang konstituante. Membayangkan ketika itu kondisi keamanan belum stabil bahkan sampai diberlakukan jam malam mulai pukul 6 sore di beberapa tempat sehingga sulit mencari transportasi umum tapi Buya Hamka tetap menjalankan kesibukanya, itu cukup berkesan bagi saya. Selain itu cerita yang mungkin tidak banyak orang yang tahu adalah ketika Buya berdamai dengan jin di rumah yang baru dibangun di Jalan Raden Fatah III, Kebayoran Baru, Jakarta. Selingan cerita ini cukup menakutkan tapi ada pelajaran yang bisa diambil terutama dari sikap Buya kepada jin yang sering mengganggu keluarganya.

Ada juga sepotong cerita Haji Sabri. Akhir Desember 1967. Setelah menyampaikan khutbah di Masjid Baiturahim Istana Negara dan selesai shalat Idul Fitri, Buya ditawari untuk menunaikan rukun Haji dan akhirnya diterima dan dijadwalkan berangkat dengan kapal Mae Abeto pada tanggal 17 Februari 1968. Ada banyak kisah selama perjalanan salah salah satunya meninggalnya jamaah di kapal yang harus dikebumikan dengan cara diceburkan ke laut, juga berkenalan dengan teman seperjalanan yang bernama Sabri, seorang pedagang berlian dari Banjarmasin. Ia sudah tiga kali naik haji sambil berdagang berlian. Mereka berkenalan ketika Haji Sabri menawarkan daganganya kepada Ummi. Setelah pelaksanaan Haji selesai, ketika pulang, Salim, pekerja Syekh memberikan dua amplop kepada penulis yang waktu itu di ajak Buya naik haji bersama Ummi, satu amplop dari Haji Sabri dan satu amplop dari Nadya putri Tuan Syekh. Haji sabri menceritakan peristiwa ketika wukuf di Arafah. Waktu sampai di Muzdhalifah, mengumpulkan batu-batu kerikil, Haji Sabri bersinggungan dengan perempuan dari Turki. Haji Sabri pun terpesona dengan kecantikanya. Keesokan harinya ketika menuju Jumratul Aqabah, di tengah jalan kembali bertemu dengan perempuan Turki tersebut. Karena terpukau melihat terpukau melihat tanganya, Haji Sabri mencoba untuk menjamahnya. Belum sempat keinginannya tercapai tiba-tiba datang sebongkah bau hitam sebesar kepalan tangan menghantam mulutnya hingga pingsan. Akhirnya Haji Sabri menyesali perbuatanya dan merasa itu hukuman dari Allah.

Di sela perjalanan haji, Buya mendapat undangan dari Duta Besar Indonesia dari negara-negara sekitar Jazirah Arab, yang kemudian menjadi perjalanan maut yang tak terlupakan. Mereka mengunjungi Suriah, Lebanon, Irak untuk kemudian kembali ke Mekkah. Selaman perjalanan ada banyak kisah yang menegangkan mulai dari ketika mengunjungi Irak yang waktu itu terjadi peristiwa yang menakutkan di pesawat, juga perjalanan ketika kembali ke Mekkah yang harus ditempuh lewat jalur darat karena kondisi Ummi yang kurang sehat. Perjalanan panjang di tengah gurun pasir itu sangat menegangkan. Berbagai peristiwa pun terjadi. Tentang perjuangan mereka untuk lolos dari terjangan angin topan, sopir yang tertidur hingga hampir kecelakaan, jugs menghadapi air bah di gunung granit dan kisah lainya itu menjadi kisah yang amat mengagumkan sekaligus mendebarkan.

Selain itu di dalam buku ini penulis juga merangkum kehebatan Ayahnya juga mengurai kepribadian Umminya yang tentu dari kisah itu ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Perjuangan keluarganya ketika Buya ditahan oleh rezim Soekarno. Bagaimana cara Ummi menghidupi keluarga juga kekokohan hati dalam menjaga kehormatan hingga akhirnya Allah menunjukan kuasanya. Juga ada selingan kisah tentang si Kuning, kucing kesayangan Buya yang begitu setia. Rangkuman dari kehidupan Buya waktu kecil hingga menikah lagi menjadi bab yang amat berkesan bagi saya. Kisah perjuanganya menuntut ilmu hingga merantau ke Jawa bahkan sampai ke Mekkah. Cobaan yang datang bertubi-tubi. Sakit cacar yang membuatnya banyak dicaci. Tak punya Diploma hingga tak diterima menjadi guru di sekolah yang ayahnya sendiri ikut mendirikanya. Cobaan yang datang silih berganti itu membentuk pribadi yang tangguh pada diri Buya Hamka. Kebesaran hati dan pemaafnya tergambar jelas dari cara Buya Hamka menghadapi orang yang bertentangan dengan beliau terutama sikapnya terhadap Soekarno yang memenjarakanya atas tuduhan yang tak pernah dilakukan Buya. Bahkan buku karangan Buya Hamka dilarang terbit dan beredar. Padahal itu sumber nafkah untuk keluarganya tapi Buya tetap memaafkan. Juga kisahnya dengan Moh. Yamin yang membencinya karena perbedaan pandang dasar negara. Buya Hamka menginginkan berdasarkan syariat islam sedang Moh. Yamin menginginkan Pancasila. Juga kisahnya dengan Pramoedya Ananta Toer yang merupakan pendukung PKI dengan gencar memfitnah orang yang berhaluan termasuk Buya Hama dan lagi-lagi Buya memaafkan.

Ada banyak kisah dalam buku ini yang dapat diambil pelajaran yang kisahnya terlalu banyak untuk ditulis ulang. Buku ini juga mampu memberi motivasi bagi yang sedang menuntut ilmu juga memberikan kita pandangan yang luas dalam menghadapi persoalan. Pribadi Buya Hamka dapat dikenal lebih dalam dengan buku ini. Salah satunya tentang sifat pemaafnya yang luar biasa dan ketenanganya ketika masalah datang. Kehausan akan ilmu dan kontribusinya untuk negara dan dakwah hingga mengantarkanya mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Cairo adalah kisah yang sayang untuk dilewatkan. Menjadikanya idola dan kecintaan untuk kemudian menjadikan panutan dan menceritakan pada generasi yang akan datang yang semoga dengan itu mengalir pula pahala untuk Buya Hamka yang telah menananmkan semangat juang bagi generasi setelahnya.
0
Share


Bukan besarnya rumah atau luas halaman dari balik pagar rendah yang memesona Rara, melainkan jajaran pot-pot cantik yang ditaruh di depan jendela-jendela besar rumah tersebut. Belum pernah Rara melihat jendela sedemikian indah. Mulai hari itu, ia punya sesuatu untuk diimpikan. Bapak dan Ibu harus tahu.

***

Salah satu orang yang mengispirasi saya adalah beliau, penulis buku ini. Asma Nadia. Sebelum saya mengenal lebih banyak tentang penulis lain, beliau orang pertama yang membuatku penasaran, hingga akhirnya aku jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis. Adalah keteguhan hati dan semangatnya yang membuat saya kagum. Gadis kecil yang dulu tinggal di pinggir rel kereta yang tak berani masuk toko buku. Dengan kekurangan itu menjadi pemicu semangat untuk dirinya. Awalnya tak mampu beli buku dan sekarang bukunya yang banyak dibeli. Bahkan ditambah cita-cita seribu taman baca. Mungkin dari kehidupan beliau yang sederhana dan penuh perjuangan tercipta karya dengan ide yang sederhana tapi serat akan makna.

***

Buku ini mengisahkan anak kecil bernama Rara yang tinggal di rumah kecil berdinding tripleks bekas tanpa jendela, seperti yang Rara selalu gambar, bangunan segi empat dengan satu pintu tanpa jendela. Tetapi gambar itu berubah sejak Rara berjalan lebih jauh bersama teman-temanya dan melihat bangunan yang besar dengan jajaran pot-pot cantik yang ditaruh di depan jendela-jendela besar rumah tersebut. Sejak itu, goresan di buku gambar berubah, dilengkapi dua jendela besar dengan pot bunga yang cantik. Sebuah mimpi yang sederhana tapi dia harus membayar mahal agar mimpinya terwujud.

Rara tinggal bersama Ibu dan Bapak yang keseharianya menjual ikan hias atau memulung. Tentu dengan segala keterbatasan itu sulit untuk mewujudkan impian Rara walau sekedar jendela kecil untuk rumahnya. Tapi Rara tak patah arah. Mimpi itu selalu dia jaga. Diam-diam Bapaknya juga menyimpan mimpi anak semata wayangnya itu dan terus berusaha mewujudkanya. Sebenarnya Rara lebih beruntung dari teman-temanya. Dia mendapat kasih sayang dari orangtuanya. Orangtuanya tak pernah memarahi. Mereka mendidik Rara dengan penuh kasih sayang. Tapi apa salahnya punya mimpi bahkan Ibunya yang mengajarinya untuk bermimpi. Akan tetapi kasih sayang itu diambil secara paksa. Diusianya yang masih delapan tahun Rara harus menerima kenyataan kasih sayang seorang ibu harus direnggut darinya. Setelah itu Simbok dan Bude Asih pindah ke rumah mereka. Walau tak mampu menggantikan sosok Ibu tapi Simbok cukup menjadi sayap yang memberikan kehangatan, menemani mengaji dan menggambar. Bude Asih sebenarnya baik, suka memberi uang saku untuk Rara. Tapi karena prinsip hidup yang berbeda dengan yang Bapak Rara terapkan dalam keluarganya, akhirnya Bude Asih diusir Bapak. Tanpa Rara mendapat penjelasan yang pasti.

Rara dan teman-temanya belajar di Sekolah Singgah yang didirikan Bu Aliya. Bu Aliya mampu menjadi penawar luka untuk Rara karena keramahanya dan kecintaanya pada anak-anak. kecintaanya itulah yang membuatnya mendirikan Sekolah Singgah, tapi ketika mimpi-mimpi itu baru dimulai justru orang tuanya ingin mencuri semangat dan cita-citanya yang ingin menjodohkanya dengan orang yang tidak dia cintai. Hingga dia bertemu dengan Kak Adam. Ada kecocokan yang Bu Aliya rasakan tapi sayang, pertunangan telah diresmikan.

Rara juga punya teman Aldo, adiknya Kak Adam yang selalu ditemani neneknya tiap kali Aldo main ke tempat Rara. Rara dan teman-temanya juga sering main ke tempat Aldo. Mereka berteman seperti biasa walau Aldo autisme. Tapi di keluarga Aldo ada yang tak suka yaitu di Kak Andini. Yang selalu dingin dengan mereka. Hingga puncak kejadian ketika ulang tahun Kak Andini. Ketika tiga kejadian dalam satu waktu. Bayangan pesta ulang tahun yang meriah itu berubah seketika. Lagi-lagi Rara harus membayar mahal demi cita-citanya.

Buku ini cocok untuk semua kalangan, walaupun ide cerita ini terkesan sederhana, tapi selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil, juga bisa menambah wawasan bagi kita, salah satunya tentang anak autisme. Dengan bahasa penyampaian yang sederhana dan alur cerita yang menarik, sehingga tidak membosankan untuk dibaca.
0
Share


     Pagi cerah. 
     Gumpalan awan mengambang bagai berton-ton kapas yang terbang. Matahari menggantung menebar kehangatan demi menyulut semangat untuk memulai aktivitas. Jalanan telah dipadati kendaraan. Orang berduyun-duyun ke halte menunggu bus untuk berangkat kerja. Juga pelajar yang hendak sekolah. Sebagian memilih ojek online. Tak sedikit yang menggunakan kendaraan pribadi.

“Assalamu’alaikum Bunda ... Assalamu’alaikum Ayah” kedua anak itu bergantian menyalami orang tuanya. Usianya terpaut empat tahun. Doni kelas lima sedang Keyla kelas satu.

“Hati-hati ya Doni ... Keyla.” Bunda mengusap kepala mereka bergantian.

“Belajar yang giat ya sayang.” Setengah berteriak Bunda membalas mereka yang berlarian sambil melambaikan tangan. Menaiki ojek online yang dipesan Ayah. Rumah mereka dengan sekolah memang tak begitu jauh. Jadi mereka memilih ojek online, kadang juga diantar Ayah. Untuk pulang biasa dijemput Bunda.
     Sebenarnya hari ini Ayah bisa saja mengantar mereka. Tapi setiap sebulan sekali ada kebiasaan yang dilakukan Ayah. Memeriksa kamar anaknya.

“Jangan diobrak-abrik ya, mas!” Bunda mengingatkan ketika mereka masuk rumah.

“Nanti kamu yang beresin.” Jawabnya sambil tertawa menggoda.

     Tak banyak yang Ayah periksa. Karena kebanyakan buku pelajaran dibawa ke sekolah. Kamar itu rapi. Balutan cat dan keramik putih menambah kesan bersih dan terang. Selimut dan bantal tertata rapi di kasur dua tingkat itu. Anak-anak memang dibiasakan disiplin merapikan tempat tidur waktu bangun pagi. Di dekat pintu terdapat lemari besar tempat menyimpan baju. Di samping kasur ada dua rak buku. Ke sana Ayah melangkahkan kaki. Tak ada meja belajar. Karena selama masih SD tempat belajar di ruang tamu. Didampingi Ayah dan Bunda. Ayah sekilas membuka lembaran buku tulis yang ada untuk kemudian ditaruhnya kembali setelah memeriksanya. Bagian bawah rak itu terdapat laci. Laci milik si sulung terkunci sedang punya adiknya tidak. Bahkan kuncinya masih di ganggang laci itu. Dengan mudah Ayah membukanya, juga laci si sulung … Ayah punya duplikatnya. Sekilas tak ada yang menarik. Hanya lembaran kertas hasil ujian dan fotokopi materi pelajaran yang mungkin diberikan guru sebagai tambahan. Setelah beberapa saat membongkar isi laci si sulung akhirnya Ayah dapat yang ia cari. Buku harian.

“Tak seharusnya kamu baca buku itu, mas.” Sanggah istrinya waktu tahu kebiasaan suaminya.

“Ini salah satu cara mengawasi aktivitas anak kita, dinda.” Jawab Ayah santai.
Ayah memang menyuruh anaknya untuk membuat buku harian. Untuk membiasakan agar anaknya gemar menulis, juga agar kemampuan menulisnya meningkat.

“Tapi aku anak laki-laki, yah?” Protes anak sulungnya

“Tahukah, nak? Albert Einstein dan ilmuan-ilmuan hebat lainya, mereka juga menulis buku harian.”

“Benarkah, Yah?

“Iya, kebanyakan orang pintar itu menulis buku harian.”

“Ayah juga menulis buku harian?”

“Buku harian Ayahmu itu hanya berisi mimpi-mimpi waktu masih muda.” Sela Bunda yang diikuti gelak tawa Ayah.

Ayah hanya membaca sekilas. Kebanyakan isinya sudah dibaca. Hingga tiba ditulisan terakhir. Ayah terbelalak. Awalnya biasa, tapi setelah dibaca seksama. Ada guratan penyesalan, ada guratan kecewa. Bagaimana mungkin dia membencinya.


“Tak ada yang istimewa. Hari ini berjalan sepertia biasa. Awalnya Aku pikir tak perlu ada yang dituls di buku catatan ini. Seperti hari-hari sebelumnya. Hingga jam pelajaran terakhir. Pelajaran bahasa jawa. Gurunya baik sih tapi pelajaranya bosenin. Walaupun selama pelajaran dihabiskan untuk menyanyi, tapi aku tak begitu paham apa yang dinyanyikan. Katanya itu tembang jawa. Judulnya apa ya tadi? Emm ... Lir ilir. Iya itu kayaknya. Murid-murid disuruh mengikuti Bu Guru, tapi aku tak begitu hafal liriknya walau ditulis di whiteboard. Aku tak begitu semangat. Lagu apa itu? Bayangkan di dalam tembang itu kesanya memaksa. Hingga selesai pelajaran hanya itu yang aku pikirkan. Dan hanya bagian itu yang aku hafal. “Cah Angon, Cah Angon. Penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.” Yang lain aku tak hafal. Habis, kaya ga nyambung liriknya .... Mungkin hanya itu yang ingin aku tulis. Kata Ayah, jika kita menemukan sesuatu yang membuat kita bingung, maka tulislah dan kenanglah. Esok lusa, atau hari yang akan datang pasti akan menemukan jawabanya.”
     Bagaimana mungkin anaknya bisa membencinya. Tembang yang selama ini dia kagumi. Tembang yang serat akan makna tujuan kita hidup. Dan mengajarkan tentang pengorbanan dan perjuangan.

“Ada apa?” Tanya istrinya memecah keheningan ruangan. Bingung melihat wajah suaminya.

“Lihatlah, bagaimana dia bisa membenci tembang yang begitu indah itu.” Jawabnya sambil menyodorkan buku harian itu.

Istrinya membaca sekilas, lalu tersenyum. Ayah pun bingung dengan ekspresinya.

“Bukankah dia mirip kamu, mas?” sambil menatap suaminya dengan senyum yang berbinar.

Yang ditatap hanya mengernyitkan dahi. Mirip apanya?

“Dia itu suka berfikir kritis. Lihatlah, mungkin ketika anak lain sibuk mengikuti gurunya menyanyi dia malah mencoba memahami maknanya. Hanya saja karena keterbatasan pemahamanya sehingga tercipta kesimpulan yang salah.” Sambil menggengam tangan suaminya Bunda meneruskan. “Dia itu mirip kamu, mas. Ketika banyak ayah yang tak peduli dengan apa yang ditulis anaknya, kamu bahkan amat sedih hanya dengan tulisan yang sederhana.”
Bunda menaruh buku itu ke dalam laci. Membereskan isinya. Dia juga sudah hafal tempatnya karena sudah sering melihat suaminya. Buku itu ditaruh di paling bawah.

“Seperti yang kamu bilang, mas. Aku yang membereskan” lagi-lagi dengan senyum yang menawan. “Sarapan dulu, mas.”


***

  Malamnya seperti biasa. Si bungsu duduk di sofa belajar menghitung didampingi Bundanya. Kakanya asyik dilantai yang telah diberi karpet agar nyaman. Ayah di samping rak buku lengkap dengan kursi, meja belajar dan laptopnya. Bukan belajar, tapi mengedit naskah. Ayah memang bekerja sebagai editor di salah satu penerbit mayor. Harusnya meja itu untuk si sulung Doni, tapi dia lebih asyik di lantai dengan meja belajar kecil dan buku yang berserakan di sekelilingnya.

“Kakak belajar apa?” Ayah bertanya pada si sulung yang sibuk membolak-balikan buku pelajaran.

“Matematika, Yah.” Sejenak mendongak sedikit kaget tak menyangka Ayah akan bertanya.

“Gimana sekolahmu?”

“Seperti biasa, Yah”

“Tak ada yang mau diceritakan sama Ayah?”

Doni hanya menunduk. Ayah memang terkadang memaksa anaknya untuk bercerita tentang pengalamanya, kegiatan di sekolah, pelajaran. Apa saja yang bisa diceritakan, untuk melatih kemampuan presentasi katanya.

“Emm ... Yah, boleh tanya?” Doni memecah keheningan.

“Boleh.”

“Ayah tahu tentang tembang lir-ilir?” Ragu-ragu Doni bertanya. Ayahkan hobinya cuma nulis, menggambar, cerita dan sama sekali tak suka lagu, tapi apa salahnya bertanya.

“Tahu.” Ayah mengangguk

Doni agak terkejut. Apa benar. Ragu-ragu dia melanjutkan
“Di Sekolah suruh menyanyikan tembang itu, tapi bukanya tembang itu artinya tak baik ya, Yah?”

“Apa iya?”

“Tembang itu kesanya memaksa, Yah?”

Ayah menutup laptopnya untuk kemudian beranjak duduk di samping Doni.
“Kamu masih ingat dulu ketika Ayah dan Bunda memaksa kamu untuk sholat.” Sambil mengambil buku tulis yang tergeletak. Membuka lembar demi lembar buku itu. Doni hanya menatap bingung. “Sama ketika Bu Guru memberikan PR. Bukankah sama halnya itu memaksa kamu untuk belajar.” Ayah menoleh ke anak sulungnya itu. “Lalu apa yang kamu dapatkan dari paksaan itu?”

Doni menggaruk kepala yang tidak gatal. “Emm ... Peringkat satu.” Jawabnya ragu-ragu.

“Lebih dari itu. Itu untuk melatih kedisiplinan, tanggung jawab dan kerja keras demi memperoleh suatu tujuan. Walau awalnya terpaksa, tapi esok kamu akan paham. Dan bersyuur telah memanfaatkan masa mudamu dengan baik.”

Doni hanya mengangguk. Walau tak sepenuhnya paham tapi seperti kata Ayah. Esok dia akan paham.

“Begitu pula dengan tembang itu" Ayah melanjutkan "yang sebenarnya mengandung makna kehidupan. Pertanyaanmu pasti tentang si penggembala, bukan. Penggembala yang disuruh memanjat pohon belimbing. Belimbing itu bergerigi lima sebagai simbol lima rukun islam. Sedang penggembala itu adalah orang yang mampu mengajak rombonganya atau bahasa sederhananya imam. Bukan hanya imam untuk orang banyak tapi juga imam untuk diri kita sendiri. Kita harus berusaha untuk menahan hawa nafsu yang menjerumuskan dan mengarahkan ke yang baik, sebagaimana penggembala yang selalu berusaha menjaga ternaknya agar tak merusak tanaman orang lain juga mengarahkannya agar tak terpisah dari rombongan. Jadi kita harus berusaha menjalankan lima rukun islam itu dengan memaksa diri kita walaupun berat dan sebisa mungkin mengajak orang lain agar kita mendapat pahala yang berlipat ganda.”

Doni mengangguk paham. “Lalu makna keseluruhanya, Yah?” Sambil menatap penuh harap. Keraguanya hilang. Ternyata Ayahnya tahu banyak hal.

“Kamu coba cari sendiri. Tanya sama guru, baca buku, cari di internet. Nanti kita diskusi bersama.”

“Baik, Yah.” Ada guratan kecewa. Tatapanya berubah sayu dari balik kaca mata yang awalnya berbinar penuh semangat. Akan tetapi kekecewaan itu dengan cepat hilang. Doni sudah paham. Begitulah Ayah mengajarkanya. Arti penting perjuangan. Karena ilmu itu hanya akan didapat dari orang yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Ayah tersenyum, mengusap rambut ikal anaknya. Untuk kemudian beranjak meneruskan pekerjaanya.

     Pukul sembilan. Jam dinding berbunyi bagai lonceng yang dipukul. Waktunya tidur untuk anak-anak. Besok harus bangun pagi-pagi. “Waktu pagi itu adalah waktu yang penuh berkah” begitulah kata Ayah mengajarkan pada anak-anaknya. Bukan hanya mencari berkahnya pagi, tapi juga mengajarkan kedisiplinan.

Doni segera membereskan buku yang berserakan. Menaruhnya di atas meja kecilnya. Untuk kemudian dibawa ke kamar. Juga buku Keyla adiknya dibawa sekalian. Si bungsu Keyla sudah sejak tadi jatuh tertidur di pangkuan Bundanya. Bunda segera mengangkatnya. Membawanya ke kamar. Mengecup keningnya.

“Selamat tidur sayang. Jangan lupa berdoa.” Juga mengecup kening si sulung yang hendak naik ke kasur tingkat dua. Kasur mereka dua tingkat. Atas untuk Doni dan bawah untuk Keyla.

Ayah masih asyik dengan laptopnya. Jemarinya menari di keyboard.

“Belum mau tidur mas?” Bunda mendekat, duduk di sampingnya.

“Sebentar lagi ya.” Jawabnya lembut sambil senyum menatap sekilas.

“Kenapa tadi kamu tak beri tahu langsung ke Doni?”

Ayah menutup laptopnya. Menoleh. Menatap kedua mata istrinya. Mungkin bagi orang lain tak ada yang istimewa, tapi bagi Ayah itu amat indah. Mata yang tetap berbinar dikala susah. Tetap terlihat tegar dikala lelah.
“Andai aku tadi langsung beri tahu, itu sama saja memberi contekan. Dan contekan itu akan mudah dilupakan. Beda jika dia berusaha sendiri mencarinya. Maka semakin keras dia berusaha semakin membekas pula ilmunya.”

------
*Ambil yang baik, ingatkan yang buruk
#belajar_nulis
0
Share


Jauh bukan tentang jarak. Lihatlah … pasir yang terinjak oleh kaki-kaki yang asyik melihat ombak, atau sekedar berjalan menikmati angin yang membelai lembut. Itulah pantai … tempat yang menjadi saksi jutaan manusia yang datang dari penjuru bumi. Juga tentang gunung. Tak peduli batuan terjal. Angin yang menususuk mencabik tulang. Lereng yang licin siap menjatuhkan. Apa yang membuat mereka tetap naik, bahkan dengan beban yang tak sedikit.

Satu jam perjalanan … itu sebenarnya tidaklah jauh. Di luar sana ada yang menjalani rutinitas yang lebih jauh, lebih melelahkan. Hanya saja satu jam itu cukup untuk membuatku berfikir ulang tentang penambahan rutinitas, demi menjaga ketenangan yang di rumah. Karena kasih sayang itu terkadang amat menyakitkan jika tak membersamai dengan yang disayangi. Akan tetapi pilihan itu telah ditetapkan dan konsekuensi harus siap diemban. Pernah juga tawaran itu datang pada jarak yang amat dekat, tapi spontan hati ini menolak karena dibalik jauhnya perjalanan itu ada yang mendekatkan pada kebaikan.

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.”

Di dalam perjalanan itu ada balasan yang dijanjikan, maka ketika pilihan itu telah ditetapkan bukan tanpa alasan. Melainkan memiliki tujuan. Tujuan yang lebih indah dari sekedar untuk rekreasi. Ketika banyak orang rela mengeluarkan harta dan tenaga demi menempuh suatu tempat rekreasi, demi akhirnya kembali pada rutinitas membawa kepingan foto dan secuil memori. Untuk kemudian menjadi bahan cerita di sela-sela hari. Alangkah indah jika cerita itu mampu membawa kita ke surga-Nya. Meluangkan waktu ke majelis ilmu itu penting adanya walau belum mampu menjadi rutinitas. Karena bahan cerita kita bukan hanya tentang keindahan dunia tapi juga keindahan surga-Nya. Demi naungan sayap-sayap malaikat juga curahan rahmat-Nya. Demi ampunan yang dipanjatkan setiap makhluk-Nya, maka perjalanan itu harus dipaksakan kita tempuh walau di dalam suatu ketetapan tujuan adakalanya ingin berpaling.

Seperti halnya suatu perjalanan ada kalanya ingin berhenti sejenak menikmati bulatan bakso ditemani teh hangat atau sekedar membeli cemilan untuk kemudian melanjutkan. Hanya saja tak sempat karena ditunut cepat. Maka bersyukur pada keterbatasan itu penting karena membuat kita fokus pada tujuan. Siapa yang manjamin, disaat pemberhentian itu hati kita tak berpaling. Sama halnya dalam perjalanan untuk menyempurnakan iman. Ketika tujuan itu telah ditetapkan, maka mencari dalam kesamaan tujuan dan mampu membersamai adalah prioritas. Walau terkadang ingin berhenti sejenak untuk sekedar berbagi canda, tapi mengingat hati ini hanya satu dan tak mau dibagi, menjadi alasan untuk tak memberi harap walau sekedar candaan. Juga menyadari keterbatasan bahwa diri ini tak semenarik Nabi Yusuf A.S pun juga tak sekaya Nabi Sulaiman A.S, adalah sebuah pertolongan karena sadar bahwa ketakwaan diri ini masih jauh di bawah standar.
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Dzakyy Arifin

Anak kecil, yang cinta buku dan ingin orang lain merasakan nikmatnya cinta itu dan insyaAllah suatu hari nanti bisa bikin taman baca untuk kita semua, generasi penerus bangsa

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (32)
    • ►  Juni (11)
    • ►  Mei (13)
    • ▼  April (4)
      • Tentang Ayah-Kisah Buya Hamka
      • Tentang Rumah Tanpa Jendela
      • Buku Harian Doni #1 Belajar Dari Belimbing
      • Tentang Perjalanan
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)

Label

#Cerbung #IniPanggungKita #PenaJuara #RamadhanBerkisah Artikel Buku Cerpen CerpenBukuHarianDoni kisahinspiratifFLP miladflp21 selfreminder

Instagram

Supscribe

Enter your email address:

Copyright © 2015 BeBrave

Created By ThemeXpose