Pages

  • Beranda
  • About Me
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Facebook Twitter Instagram Google+ Pinterest
BeBrave

Berani Bermimpi. Berani Berjuang

  • Home
  • Contact Me
  • Category
    • Artikel
    • Book
    • Cerpen
      • Buku Harian Doni
      • Ini Panggung Kita
    • Selfreminder

Titik balik

Film ini dirilis tahun 2009. Pada waktu itu bagi saya menonton film religi adalah sesuatu yang tabu. Tidak pernah terbayang akan nonton film drama religi. Bagi anak muda film dengan genre action dan sci-fi tentu menjadi primadona. Terutama film-film Barat. Pengaruh Barat bagi anak muda sangatlah besar. Dari hiburan-hiburan yang mereka sajikan. Terutama bagi saya yang menggandrungi teknologi, kemajuan Barat telah menjadi kiblat. Sudah hal yang umum kami dulu meng-elu-elukan Barat dengan kemajuan teknologinya. Dan tidak jarang merendahkan produk dalam negeri. Apalagi di sekolah umum buku-buku pelajaran banyak diambil dari sumber-sumber Barat. Nama-nama ilmuan yang banyak tercantum pun kebanyakan dari Barat. Teori-teorinya pun dari Barat. Semua itu mengambil peran besar yang membuat dunia Barat semakin tambah hebat. Predikat negara maju pun kebanyakan dari Barat. Jadi wajar bila kami dulu menganggap semua yang dari Barat itu hebat. Jika ada produk buatan luar negeri apapun itu pasti terlihat keren. Dan sebaliknya, jika itu produk dalam negeri seolah menyepelekan.

Peradaban Barat yang amat mengagumkan itu sebenarnya amat membahayakan. Ibarat matahari yang menyilaukan, kita melihat dari jauh maka akan merasakan kehangatanya. Tapi jika kita mendekat tentu akan terbakar oleh panasnya. Dan kita amat diuntungkan dengan keyakinan dan budaya di Indonesia yang amat berperan besar dalam memfilter budaya Barat seingga tak semua kita ambil.

Setelah saya lulus sekolah maka ada tantangan baru yang menyambut. Waktu itu tahun 2015. Bagi orang desa mencoba peruntungan di kota sudah hampir menjadi pasti terutama anak muda. Entah itu untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi cita-cita. Maka kami yang dulu disatukan oleh satu instansi pendidikan saat itu mulailah berpisah. Ibarat kelereng-kelereng yang dijatuhkan seketika itu berhamburan ke segala arah untuk tujuan masing-masing. Lingkungan baru pun menyambut untuk dijelajahi. Dan adaptasi menjadi sebuah keharusan. Pun rasa penasaran itu sesuatu yang wajar. Agaknya saya harus bersyukur karena rasa penasaran itu membawa kebaikan. Ibarat rasa lapar maka saya menemukan yang mengenyangkan.

Mencari tempat kos syarat yang saya ajukan adalah dekat Masjid. Dan itu membawa keberkahan. Berawal dari perkenalan dengan seorang teman di Masjid. Dilanjutkan dengan obrolan singkat yang berisi. Tentang permasalahan muda-mudi. Sunggguh pendekatan yang amat saya sukai. Karena itulah rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi. Semoga jika ada kebaikan pada saya mengalir pula pahala buat dia. Aamiin.

Dari situlah saya semakin ingin mengenal lebih dalam tentang islam karena pada awalnya saya menjadi islam itu karena keturunan dan ikut-ikutan. Dan sekarang saya mencoba untuk mencari alasan. Agar saya dapat memperjuangakan kebenaran. Proses mencari jawaban itu datang dari segala sumber. Dan itu amat berpengaruh pada sudut pandang dan cara berfikir. Termasuk pula kesukaan dan hiburan. Musik dan film religi pun mulai saya cari. Dan saya pun dipertemukan dengan film ini “Ketika Cinta Bertasbih” yang diadaptasi dari novel maha karya penulis FLP Habiburrahman El Shirazy.



Permulaan

Bagi seseorang yang baru berhijrah tentu amat sulit untuk memahami suatu materi yang berat. Maka film ini menjadi permulaan untuk menumbuhkan rasa cinta sekaligus memahami makna cinta yang amat indah dalam islam. Tentu selain cinta, film ini juga mengajari arti perjuangan dan pentingnya pendidikan. Dengan latar belakang di Kairo, Mesir dan Al-Azhar University tentu cocok sebagai simbol pendidikan islam. Juga sebagai sosialisasi tentang peradaban islam dan pendidikan islam yang mampu menandingi Barat. 

Sosok Azzam yang digambarkan begitu sempurna. Dengan kepemimpinannya, dengan keteguhan hatinya. Darinya sangat banyak hikmah yang dapat diambil. Salah satunya, keteguhan dalam menjaga prinsip. Bagaimana islam sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian. Maka dalam ineraksi antara lawan jenis pun ada batasanya. Sebagaimana yang terangkum dalam dialog dengan Eliana.
"Setiap orang pasti punya prinsip dalam hidupnya, biasanya berdasarkan apa yang diyakini kebenarannya. Prinsip hidup saya berdasarkan Al-Quran dan Hadist."
"Mungkin orang akan mengatakan saya kolot, kampungan, gak jamani, bahkan primitif sekalipun, saya tidak peduli, karena saya bahagia dengan apa yang saya yakini kebenarannya."
Juga tentang kepemimpinanya. Kehadiranya bukan hanya sebagai pelengkap melainkan penggerak. Keberadaanya amat berpengaruh untuk sekitarnya.

Nilai-nila islam dalam film ini amat mudah untuk dipahami. Dan kisah cintanya pun dibalut dengan begitu indah. Saya dulu memang bukan orang yang suka pacaran. Tapi dengan ini semakin menambah keyakinan. Saya dulu bahkan tak tahu bahwa ada ayat yang melarangnya. Tapi dengan ini tanpa ayat pun terbayang begitu indah apa yang di janjikan-Nya.

Sebagai permulaan tentu kita butuh pegangan. Agar kedepan semakin banyak rintangan kita punya pegangan agar tak menyimpang. Dan jika ada angin yang menerjang kita punya pegangan agar tak terhempaskan. Maka apa yang terkisahkan itu semakin memantapkan hati. Untuk terus berjuang dan mendalami. Dan tentunya untuk terus memperbaiki diri.



Perbandingan

Jika dulu kiblat peradaban itu adalah barat maka sekarang telah beralih halauan. Karena semakin kita mengkaji semain menemukan fakta yang mengejutkan. Jika peradaban barat terkenal dengan kemajuan teknologinya maka peradaban di negara islam menggabungkan antara kemajuan teknologi dan keberadaban akhlak. Apa gunanya kecerdasan akal tanpa dibimbing keberadapan akhlak. 

Aturan di dalam agama menjadi pembatas tanpa mengekang kebebasan berfikir. Pembatas itu yang berfungsi agar kuta tak masuk ke dalam jurang kehinaan. Karena manusia, selain diberi akal juga diberi nafsu yang denganya dapat menjadikan mulia atau sebaliknya. Hidup tanpa keyainan membuat kita tak punya sandaran. Sedang manusia itu adakalanya merasa lelah sehingga butuh sandaran. Maka kebutuhan yang terpenuhi bukan hanya raga tapi juga jiwa.

Dan sandaran itu juga bisa menjadi tempat rujukan. Kebebasan berfikir atau bahkan keharusan. Telah mencatat sejarah peradaban yang begitu mengesankan. Banyak ayat-ayat yang mengharuskan kita berfikir atau merenungkan. Dengan itu telah menjadi rujukan dan tercipta penemuan yang mengagumkan. Jika di banyak buku di sekolah umum tercatat ilmuan-ilmuan dari Barat, maka sejarah telah membuktikan bahwa ilmuan islamlah pelopornya.

Media hiburan yang tidak hanya sebagai tontonan tapi juga sebagai tuntunan perlu ditingkatkan. Termasuk film islami agar dapat bersaing dengan sinetron-sinetron yang lebih banyak dampak buruknya. Selain sebagai hiburan juga dapat berfungsi untuk mensosialisasikan terutama kepada generasi muda bahwa ada yang jauh lebih hebat dari peradaban Barat.
0
Share


"Jangan Jadi Tua dan Membosankan" Sebuah kalimat yang terkadang diucapkan ketika ada yang ulang tahun yang bertujuan untuk sekedar bercanda atau (mungkin) memang terdapat harapan yang dirangkai dengan kalimat canda agar tidak terasa hambar. tapi terlepas dari apa makna didalamnya agaknya saya perlu berterimakasih karena dengan itu saya dapat memaknai suatu hal. Membuka cakrawala pemikiran baru tentang makna tua dan membosankan. Sekilas kalimat itu (Jangan Jadi Tua dan Membosankan) terdengar seperti seolah kita takut untuk menghadapi masa tua. Yang dengan ketakutan itu akan membuat kita berusaha menghindar dan menolak untuk belajar dewasa. Akan tetapi setelah saya mencoba melihat dari sudut pandang lain. Ternyata memikirkan tentang hari tua itu penting. Apakah kita ingin menjadi orang tua yang membosankan atau menyenangkan. Maka jawabanya adalah bagaimana kita mempersiapkan dari sekarang.

Makna membosankan apakah selalu identik dengan orang tua? Pada sebagian anak mungkin setelah menginjak remaja akan semakin jarang ngobrol dengan orang tua. Karena (mungkin) merasa tidak asyik dan tak sejalan dengan cara berfikirnya. Padahal mereka juga pernah muda. Lalu apakah yang salah.

Sebenarnya orang tua tetap bisa menyenangkan dengan caranya. Dan si anak tetap bisa menyesuaikan dengan keadaanya. Jadi orang tua tidak selalu identik dengan membosankan. Dan yang muda tak selalu identik dengan menyenangkan. Semua itu tergantung pada kesamaan. Karena makna menyenangkan itu relatif. Dan yang lebih penting adalah, menyenangkan itu terletak pada jiwanya bukan raganya.

Maka salah satu tokoh yang patut kita teladani adalah Pak Habibie. Baliau dengan segala kehebatanya, dengan segala prestasinya, dengan segala penghargaanya, telah menjadi inspirasi yang bukan hanya pada semangatnya berkarya, tapi juga di dalam ketaatanya pada Sang Pencipta.

Banyak dari kita mengidolakan tokoh barat. Karena kepandaianya, prestasinya, penemuanya. seolah-olah semua yang dari luar itu lebih hebat. Padahal kita punya seseorang yang karyanya diakui dunia. Seorang pakar aerotechnology. Yang pernah mempelajari fenomena fatigue (kelelahan) pada konstruksi pesawat. Kemudian berhasil mencetuskan rumus untuk menghitung keretakan atau crack progression on random. Nama rumusnya "Faktor Habibie". Yang dapat menghitung crack progession sampai skala atom material konstruksi pesawat terbang. Sebuah ide yang briliant dari seorang muslim bernama Abbas Ibn Firnas, manusia yang mampu terbang pertama kali. Untuk kemudian prototipenya dikembangkan oleh Orvile dan Wilbur Wright bersaudara. Dan disempurnakan oleh Bachrudin Jusuf Habibie. Atas jasa merekalah kini manusia bisa terbang. Perjalanan berhari-hari maka sekarang bisa dipangkas menjadi beberapa jam saja. Maka patutlah kita bersyukur atas kenikmatan kemajuan teknologi saat ini.

Tentu selain kita mengenal beliau sebagai pakar aerotechnology, beliau juga pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Dan amatlah berat tanggung jawab yang harus beliau emban. Menggantikan Pak Soeharto yang kala itu mengundurkan diri. Dihadapkan pada kondisi politik ekonomi yang tidak stabil. Krisis moneter yang dapat mengancam negara. Dan lagi-lagi Pak Habibie membuktikan kehebatanya. Walaupun bukan pakar ekonomi, hanya dalam masa jabatan 1 tahun 5 bulan, beliau dapat meredamnya. Bahkan di akhir masa jabatanya dapat menaikan nilai tukar rupiah menjadi Rp. 6.500.- per dolar AS. Suatu pencapaian yang belum pernah bisa dilakukan oleh presiden yang lainya.

Disaat raganya tak lagi muda, tapi jiwanya tak pernah tua. Pengabdianya pada negara, sebagai bukti cintanya pada bangsa. Kepemimpinannya adalah perpaduan antara keluhuran moral dan kecerdasan akal. Maka pesawat R80 yang sedang digarapnya hanyalah bukti kecil. Yang besar adalah semangat yang dibagikanya pada generasi muda. "Belajarlah untuk mengerti bukan untuk lulus" katanya. Sebuah pesan ketika ditanya Mbak Nana dalam Catatan Najwa. Dalam arti luas maka bukan hanya ditunjukan untuk kalangan akademisi. Karena inti sarinya adalah "Menikmati proses bukan fokus pada hasil". Maka ini menjadi bukti bahwa, menjadi tua tak selalu membosankan. Karena raga boleh tua tapi jiwa harus tetap muda.
0
Share

Apalah arti sayang tanpa pembuktian
Apalah arti cinta tanpa pengorbanan
Apalah arti memiliki tanpa kepastian

Didalam kata sayang terdapat ungkapan yang indah, makna yang mendalam dan tutur kata yang lembut. Kata sayang yang terucap oleh ibunda pada sang buah hati adalah kata yang murni, tulus tanpa diragukan pembuktianya.

Sedang yang terucap oleh saudaranya adalah tali yang mempersatukan, tangan yang merangkul dan kaki yang bersejajar dalam perjuangan sama suka sama duka.

Sedang yang terucap pada suami istri adalah dekapan yang menenangkan, candaan yang menyenangkan dan pahala yang dijanjikan.

Adapun yang terucap pada ikatan yang haram adalah candaan tak bermakna, harapan yang tak jelas akhirnya dan ungkapan manis yang meracuni jiwa.

Ada kalanya dia meresap ke dalam hati. Memberi harapan yang membumbung tinggi. Hingga akhirnya dia terhempas kebumi. Merintih dalam rasa sakit atas kesalahanya sendiri.
Resapan itu menjadi bakteri yang meracuni hati. Menjadi penyakit yang tak kunjung pergi dan derita yang selalu menghantui.

Cinta adalah fitrah, yang denganya dapat menjadikan kita mulia tapi juga dapat menjadikan kita hina.
Didalam dekapan cinta yang halal akan tersaji energi menentramkan, keberkahan didalam hubungan. Betapa seorang ayah yang lelah seharian bekerja lalu pulang disambut dengan senyuman dan tawa riang dari malaikat kecil penghias rumah yang darinya terpancar tawa yang tulus nan menentramkan. Maka segala penat itu seolah lenyap bersama canda tawa riang bahagia

Tentu banyak hal yang tak bisa diuraikan. Maka sebagai bentuk rasa syukur rerhadap karunia cinta itu adalah, denganya menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya.

Apalah arti mensyukuri jika hanya terucap. Bukankah ketika kita ditolong seseorang membuat kita lebih dekat denganya. Lalu apakah kita pantas ketika lisan ini berucap terimakasih dan memuji, tapi tingkah kita membuat-Nya benci.

Dan terkhusus diri ini. Tulisan ini bukan agar diri ini terlihat hebat, terlihat bersih, terlihat suci. Karena sejujurnya atas karunia Allah SWT-lah yang telah menutupi segala aib pada diri ini. Dan sejatinya manusia itu sering lupa, karena itulah ini hanya sebagai pengingat diri. Karena jika pertolongan itu dilakukan sekali maka akan mudah kita hitung, tapi jika dilakukan berkali-kali maka sulit kita hitung. Bahkan mungkin kita akan lalai dan melupakan sesuatu yang besar demi sesuatu yang kecil.
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Dzakyy Arifin

Anak kecil, yang cinta buku dan ingin orang lain merasakan nikmatnya cinta itu dan insyaAllah suatu hari nanti bisa bikin taman baca untuk kita semua, generasi penerus bangsa

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2018 (32)
    • ►  Juni (11)
    • ►  Mei (13)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ▼  Januari (3)
      • Titik Balik, Permulaan dan Perbandingan
      • Jangan Jadi Tua dan Membosankan
      • Karunia Cinta
  • ►  2017 (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)

Label

#Cerbung #IniPanggungKita #PenaJuara #RamadhanBerkisah Artikel Buku Cerpen CerpenBukuHarianDoni kisahinspiratifFLP miladflp21 selfreminder

Instagram

Supscribe

Enter your email address:

Copyright © 2015 BeBrave

Created By ThemeXpose